lomba blog traveloka

Download Makalah Studi Kelayakan Evaluasi Proyek Terbaru Gratis

MAKALAH STUDI KELAYAKAN KAKAO


MATA KULIAH EVALUASI PROYEK


Oleh :

1206112169


JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017


BAB I PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris sehingga pertanian merupakan salah satu sektor penting. Negara ini sudah lama dikenal sebagai penghasil berbagai komoditas perkebunan yang dapat diandalkan. Pemerintah Indonesia memberikan prioritas tinggi pada pengembangan dan perluasan industri yang mengolah hasil pertanian, termasuk tanaman perkebunan.

Sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian pada bidang pertanian, namun   mayoritas penduduk tidak bekerja sebagai petani besar melainkan sebagai petani kecil,  dimana   mereka hanya  menguasai  sebidang  lahan  kecil,  sempit,  dan  pendapatan  mereka  yang relatif rendah tetapi dalam mengelola proyeknya setiap petani mempunyai cara sendiri. Untuk itu seorang petani harus dapat memperhitungkan apakah proyek layak atau tidak suatu proyek untuk dilanjutkan.

Soekartawi et al. (1986) mengemukakan bahwa Kakao merupakan salah satu komoditas pangan bernilai ekonomis tinggi yang memberikan sumbangan dalam peningkatan kesejahteraan petani.  Kakao    termasuk  komoditas  pangan  komersial  yang  dieksport  hingga keluar negeri. Pada abad moderen seperti saat ini hampir semua orang mengenal cokelat yang merupakan bahan makanan favorit, terutama bagi anak-anak dan remaja. Salah satu keunikan dan keunggulan makanan dari cokelat karena sifat cokelat dapat meleleh dan mencair pada suhu permukaan lidah (Soekartawi et al.,1986).

Provinsi Gorontalo, selain  merupakan  daerah penghasil tanaman pangan juga merupakan daerah penghasil tanaman hortikultura, dan tanaman perkebunan. Tanaman perkebunan yang dihasilkan seperti kelapa, durian, kakao dan lain-lain. Ada  beberapa  kabupaten  yang  sebagian  masyarakatnya  adalah mengandalkan berproyek tanaman perkebunan salah satunya adalah Kabupaten Boalemo, dimana daerah ini produksi kakao tertinggi kedua setelah kelapa yang produksi Kelapa 6.977 ha sedangkan Kakao 307 ha sehingga daerah ini akan dicanangkan sejuta Kakao (Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, 2011).

Desa Kramat merupakan penghasil kakao terbesar dibandingkan dengan desa-desa  yang  ada  di  kecamatan  Mananggu,  kabupaten  Boalemo,  dimana sebagian masyarakatnya menjadikan berproyek tanaman kakao yang menjadi sumber mata pencahariannya. Dalam pembudidayaan tanaman kakao di Desa Kramat, pengelolaanya masih sangat tradisional, terutama dalam hal pemupukan tanaman, yang menyebabkan hasil produksi yang kurang maksimal.Hal ini dilihat dari kondisi yang ada, bahwa produksi kakao beberapa tahun terakhir ini menurun sehingga perlu dilakukan terobosan baru. Dengan menerapkan teknologi modern yang mungkin akan meningkatkan produksi tanaman kakao dan pendapatan petani itu sendiri(Badan Pusat Statistik Kabupaten Boalemo, 2011).

Penggunaan lahan pertanian yang dimanfaatkan di Desa Kramat, khususnya perkebunan 350 ha yang di dalamnya terdapat luas lahan kakao 33 ha, dimana terdapat tiga kelompok gapoktan dengan jumlah anggota 45 orang. di Desa Kramat, sebagian besar ekonomi rakyat tumbuh dan berkembang dari sektor pertanian.  Sebagian  besar lahan  digunakan  untuk  budidaya  pertanian.  Dengan potensi pertanian yang cukup besar, secara geografis Desa Kramat dimungkinkan untuk mengembangkan komoditas-komoditas yang bernilai ekonomi tinggi.

Hal ini dikarenakan Desa Kramat memiliki sumberdaya pertanian yang cukup banyak, salah satu komoditas  yang  dikembangkan  adalah  tanaman  tahunan,  khususnya  tanaman kakao (Badan Pusat Statistik Kabupaten Boalemo).

Berdasarkan uraian diatas penulis tertari untuk mengkaji Analisis Kelayakan Finansial Pada Proyek Kakao di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu,  Kabupaten Boalemo.

1.1.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah:
1.        Berapakah   pendapatan yang diperoleh petani pada proyek Kakao di Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo.
2.        Bagaimana Kelayakan Finansial Proyek Kakao.

1.2. Tujuan Studi Kelayakan Proyek

Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis:
1.        Pendapatan yang diperoleh petani pada proyek Kakao di Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo.
2.        Kelayakan finansial pada proyek kakao.

1.3.   Manfaat Studi Kelayakan Proyek

Adapun manfaat dari studi kelayakan ini adalah:
1.        Informasi atau masukan kepada investor dan pemerintah agar dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi pertanian, khususnya proyek komoditas tanaman Kakao yang ada di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo.
2.        Pedoman   mahasiswa   tentang   pengaruh   besar   kecilnya   biaya   yang dikeluarkan terhadap penerimaan yang diperoleh petani. Dengan mengetahui hal tersebut kita dapat menganalisis apakah tanaman tersebut layak untuk diusahakan jika dilihat dari keuntungan atau kerugian yang diperoleh petani.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Sub Sektor Perkebunan

Menurut Ariyantoro (2006), Perkebunan dapat diartikan berdasarkan fungsi, pengelolaan, jenis tanaman, dan produk yang dihasilkan. Perkebunan berdasarkan fungsinya dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan devisa negara, serta memelihara kelestarian sumber  daya  alam.   Berdasarkan  pengelolaannya,   perkebunan  dapat   dibagi menjadi perkebunan rakyat, dan perkebunan besar.

Selain itu Ariyantoro (2006), menambahkan bahwa Perkebunan  rakyat merupakan usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat,dimana perkebunan ini memiliki ciri antara lain: lahannya sempit, status lahan milik dan sewa, pengelolaannya dilakukan oleh petani itu sendiri dengan cara sederhana, jenis tanaman campuran monokultur, teknologi yang digunakan sederhana, cara pembudidayaannya tradisional, cara permodalan padat karya, pengambilan keputusannya  cepat  dimana    tidak  memperhatikan  resiko  yang  akan  diterima nanti, serta target produksi yang kadang tidak tercapai. Perkebunan besar adalah usaha  budidaya  tanaman  yang  dilakukan  oleh  Badan  Usaha  Milik  Negara (BUMN) atau swasta.

Perkebunan ini mempunyai ciri sebagai berikut:  lahannya luas, status lahan hak guna usaha, pengelolaannya dilakukan oleh swasta sebagai karyawan dan agak rumit, jenis tanaman perdagangan, teknologi yang digunakan modern, cara pembudidayaan mengikuti perkembangan teknologi, cara permodalannya  padat  modal,  pengambilan  keputusannya  jangka  panjang,  dan target produksi selalu tercapai.

2.1.  Karakteristik Perkebunan Kakao

Menurut Van Hall (1932) di Indonesia, tanaman kakao diperkenalkan oleh orang Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara. Ekspor dari pelabuhan Manado ke Manila dimulai tahun 1825 hingga 1838 sebanyak 32 ton. Nilai ekspor tersebut dikabarkan menurun karena adanya serangan hama pada tanaman kakao. Tahun 1919 Indonesia masih mampu mengekspor sampai 30 ton, tetapi setelah tahun 1928 ternyata ekspor tersebut terhenti.

Pendapat lain dikemukakan oleh Raharjo (1990), bahwa Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4 tahun setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat, maka masa   produksinya   dapat   bertahan   lebih   dari   25   tahun,   selain   itu   untuk keberhasilan budidaya kakao perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan tanam. Penggunaan bahan tanam kakao yang tidak unggul mengakibatkan percapaian produktivitas dan mutu biji kakao yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan bahan tanam yang unggul dan bermutu  tinggi .

Menurut  Zaenudin  dan  Baon(2004:3),  Hasil  studi  menunjukkan bahwa tanaman kakao   produktivitasnya mulai menurun setelah umur 15 - 20 tahun. Tanaman tersebut umumnya memiliki produktivitas yang hanya tinggal setengah dari potensi produktivitasnya. Kondisi ini berarti bahwa tanaman kakao yang sudah tua potensi produktivitasnya rendah, sehingga perlu dilakukan rehabilitasi Upaya  rehabilitasi tanaman kakao dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan potensi produktivitas dan salah satunya dilakukan dengan teknologi sambung samping (side grafting).

2.2.  Penerimaan dan Pendapatan Proyek

Penerimaan dan Pendapatan proyek merupakan nilai produksi total proyek dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan dan pendapatan menjadi tujuan utama petani dalam mengelola proyek, hal ini disebabkan oleh harapan petani untuk mengembalikan modal usaha bahkan diharapkan untuk memberikan peningkatan pendapatan dan penerimaan proyek.

1.         Penerimaan Proyek

Suratiyah (2006) mengemukakan bahwa penerimaan proyek adalah perkalian antara jumlah produksi yang diperoleh dengan harga produksi. Pendapatan proyek adalah selisih antara penerimaan dan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam sekali periode. Sedangkan menurut Rahim dan Diah (2008:17)
Penerimaan proyek adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Kemudian menurut Hernanto (1988), adalah penerimaan dari semua proyek meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil, dan nilai yang dikonsumsi. Penerimaan proyek merupakan total penerimaan dari kegiatan proyek yang diterima pada akhir proses produksi. Penerimaan proyek dapat pula diartikan sebagai keuntungan material yang diperoleh seorang petani atau bentuk imbalan jasa petani maupun keluarganya sebagai pengelola proyek maupun akibat pemakaian barang modal yang dimilikinya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Soekartawi (1986), bahwa penerimaan proyek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penerimaan bersih proyek dan penerimaan kotor proyek (gross income). Penerimaan bersih proyek adalah merupakan selisih antara penerimaan kotor proyek dengan pengeluaran total proyek. Pengeluaran total proyek adalah nilai nilai semua masukan yang habis terpakai dalam proses produksi, tidak termasuk tenaga kerja dalam keluarga petani. Sedangkan   penerimaan   kotor   proyek   adalah   nilai   total   produksi proyek dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun tidak dijual.

Penerimaan proyek dipengaruhi oleh produksi fisik yang dihasilkan, dimana  produksi  fisik  adalah  hasil  fisik  yang  diperoleh  dalam  suatu  proses produksi dalam kegiatan proyek selama satu musim tanam. Penerimaan proyek   akan   meningkat   jika   produksi   yang   dihasilkan   bertambah   dan sebaliknya akan menurun bila produksi yang dihasilkan berkurang. Disamping itu, bertambah atau berkurangnya produksi juga dipengaruhi oleh tingkat penggunaan input pertanian. Ada tiga hal yang berwujud pada penerimaan proyek yaitu: 1). Hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang akan dijual. 2). Produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan kegiatan, dan 3). Kenaikan hasil inventaris. Nilai benda-benda inventaris yang dimiliki petani, berubah tiap tahun, dengan demikian ada perbedaan nilai pada awal tahun dengan akhir tahun perhitungan.Penerimaan proyek (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (PY). Oleh karena itu dalam menghitung total penerimaan proyek perlu dipisahkan  yaitu Analisis Parsial Proyek, dan Analisis Keseluruhan Usaha Tani. Jadi kalau sebidang lahan ditanami  3  tanaman  secara  monokultur  (misalnya  tanaman  padi,  jagung,  dan ketela pohon), dan bila tamanan yang akan diteliti adalah satu macam tanaman saja, maka analisis seperti ini disebut analisis parsial. Sebaliknya kalau ketiga- tiganya seperti ini disebut analisis keseluruhan proyek ( Soekartawi, 1986).

1.        Pendapatan Proyek

Pendapatan dan biaya proyek ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.Faktor internal terdiri dari dari umur petani, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, jumlah tenaga kerja, luas lahan, dan modal.Faktor eksternal  berupa harga  dan  ketersediaan  sarana  produksi.  Ketersediaan  sarana produksi dan harga tidak dapat dikuasai oleh petani sebagai individu meskipun dana tersedia. Bila salah satu sarana produksi tidak tersedia maka petani akan mengurangi penggunaan faktor produksi tersebut, demikian juga dengan harga sarana produksi misalnya harga pupuk sangat tinggi bahkan tidak terjangkau akan mempengaruhi  biaya  dan  pendapatan  (Suratiyah,  2006).  Sedangkan Hadisapoetra (1979) mengemukakan bahwa Pendapatan proyek adalah total pendapatan bersih yang diperoleh dari seluruh aktivitas proyek yang merupakan selisih antara total penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan.

Menurut Soekartawi (1986), Pendapatan proyek dapat dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan kotor proyek (gross farm income) dan pendapatan bersih proyek (net farm income). Pendapatan kotor proyek yaitu nilai produk total proyek dalam jangka waktu tertentu meliputi seluruh produk yang dihasilkan baik yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam proyek seperti untuk bibit  atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, maupun untuk disimpan.Untuk menghitung nilai produk tersebut, harus dikalikan dengan harga pasar yang berlaku, yaitu harga jual bersih ditingkat petani.Sementara pendapatan bersih proyek adalah selisih antara pendapatan kotor proyek dengan pengeluaran total proyek.Pendapatan proyek ditentukan oleh harga jual produk yang diterima ditingkat petani maupun harga – harga faktor produksi yang dikeluarkan petani sebagai biaya produksi. Jika harga produk atau harga faktor produksi berubah, maka pendapatan proyek juga akan mengalami perubahan.

Bentuk dan jumlah pendapatan proyek mempunyai fungsi yang sama, yaitu memenuhi keperluan saehari-hari dan memberikan kepuasan petani agar dapat melanjutkan kegiatannya. Pendapatan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kewajibannya. Pendapatan proyek (π) adalah selisih antara penerimaan (TR) dan total biaya (TC). Dalam banyak hal jumlah TC ini selalu lebih besar bila analisis ekonomis yang dipakai, dan selalu lebih kecil bila analisis finansial yang dipakai. Oleh karena itu, setiap kali melakukan analisis, perlu disebutkan analisis apa yang digunakan. Ada dua tujuan utama dari analis pendapatan yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha dan cukup untuk membayar bunga   modal yang ditanamkan termasuk pembayaran sewa tanah, pembayaran dana depresiasi modal dan cukup untuk membayar upah tenaga kerja (Soekartawi, 1986).

Analisis Kelayakan Finansial

Studi kelayakan merupakan suatu kegiatan pengkajian secara sistematis dari suatu proyek atau rencana usaha, baik baru maupun rencana pengembangan usaha   yang   sudah   ada. Studi   kelayakan   usaha   dilakukan   bertujuan   untuk membantu para pengusaha, pemilik modal dan lain-lain untuk menentukan apakah usaha layak dilaksanakan atau tidak. Kegunaan studi kelayakan antara lain adalah untuk mengetahui apakah usaha mempunyai manfaat (benefit) dan keuntungan (profit) dan sebagai pedoman/standar kerja serta instrumen pengawasan ketika usaha berjalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedalaman studi kelayakan antara lain:

1. Jumlah dana yang ditanam,
2. Ketidakpastian estimasi usaha pada masa yang akan datang,
3. Kompleksitas elemen-elemen yang mempengaruhi usaha.

Studi kelayakan pada akhir-akhir ini telah banyak banyak dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat yang bergerak dalam bidang dunia usaha. Bermacam-macam peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan dunia usaha telah menuntut perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan/kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat (benefit) bila diusahakan. Kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek disebut dengan studi kelayakan bisnis. Studi kelayakan bisnis/usaha biasanya menggunakan analisis kelayakan investasi dimana pada dasarnya sama dengan kegiatan investasi. Kelayakan investasi dapat dikelompokkan kedalam kelayakan finansial.

Dengan demikian studi kelayakan yang juga sering disebut Feasibility Studi merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari gagasan usaha yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit), baik dalam arti financial benefit maupun dalam arti social benefit. Layaknya suatu usaha dalam arti social benefit tidak selalu menggambarkan layak dalam arti finansial benefit, hal ini tergantung dari segi penilaian yang dilakukan.

Tujuan dari analisis finansial yaitu untuk mengetahui apakah proyek yang diusahakan layak dan menguntungkan untuk dikembangkan atau dikatakan masih dalam tingkat efisiensi.Untuk memberikan gambaran kepada user apakah manfaat yang diperoleh dari sistem baru ‘lebih besar’ dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Berbagai kriteria investasi dapat dipertanggungjawabkan dan sering digunakan untuk menilai kelayakan investasi tersebut adalah R/C Ratio, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Profitability Ratio, Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Periode (Ibrahim, 2009).

1. Analisis NPV
2. Analisis Internal Rate of Return (IRR)
3. Analisis B/C Ratio
4. Payback Period

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadan Umum Lokasi Proyek
4.1.1. Letak Geografis Desa Kramat
4.1.2. Kondisi Iklim Wilayah Studi
4.2. Penerimaan, Struktur Biaya, Pendapatan Proyek Perkebunan Kakao
4.2.1. Penerimaan Proyek Kakao

BAB IV PENUTUP

Dapatkan Makalah Studi Kelayakan Usaha Mata Kuliah Evaluasi Proyek Ini Lebih lengkap dengan mengklik link dibawah ini. Jangan lupa untuk berkomentar di kolom komentar ya...

Petunjuk : Setelah kamu mengklik link dibawah ini, kamu akan diarahkan pada tab baru berisi halaman safelink. Tunggu lima detik, kemudian klik link yang muncul. Kamu akan langsung mendapatkan filenya. Terimakasih telah berkunjung di kosngosan.





G+