lomba blog traveloka

Laporan Praktek Kerja Lapangan Manajemen Reproduksi Tenak Sapi Potong Limousin

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG

MANAJEMEN REPRODUKSI TERNAK SAPI POTONG LIMOUSIN PADA BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL PADANG MENGATAS PAYAKUMBUH SUMATERA BARAT


laporan, MANAJEMEN REPRODUKSI, TERNAK SAPI POTONG, LIMOUSIN, BALAI PEMBIBITAN, TERNAK UNGGUL,
contoh laporan praktikum kerja lapangan / magang peternakan


Oleh :

AFFAN AMIN NST


PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2017




KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum wr.wb...

Segala puji bagi Allah Subbahanahu Wata’alla, Tuhan semesta alam yang melimpahkan nikmat dan karunia sehingga kita dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari. Sholawat beserta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam yang membawa umat dari alam jahilliyah menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporans Praktek Kerja Lapang ini dengan judul “Manajemen Reproduksi Ternak Sapi Potong limousin spada balai pembibitan ternak unggul padang mengatas Payakumbuh”. 

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dosen Pembimbing Ibu Evi Irawati,S.Pt.,M.P. yang telah memberi arahan untuk menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapang ini dengan baik. 

Penulis berharap semoga  Laporan praktek kerja lapang ini bermanfaat bagi kita semua baik masa kini maupun untuk masa yang akan datang.


Pekanbaru, Maret 2017


                                                                                              Penulis


DAFTAR ISI


                                                                                                                             Halaman
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... .........
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI........................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................... .........
          1.1     Latar Belakang....................................................................................... 1
          1.2     Tujuan.................................................................................................... 2
          1.3     Manfaat ................................................................................................. 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... .........
2.1.Sapi limosin................................................................................................ 3
2.2  Proses Inseminasibuatan (IB)...................................................................... 4
2.3  Deteksi birahi............................................................................................. 5
2.4  Sapi Berahi  .............................................................................................. 6
2.5  Reproduksi................................................................................................ 6
2.6  Anatomi..................................................................................................... 7
2.7  Primer ....................................................................................................... 7
2.8  Skunder..................................................................................................... 7
BAB III.MATERI DAN METODE...............................................................
          3.1.Waktu dan tempat.................................................................................... 10
          3.2.Metode.................................................................................................... 10
BAB IV.PEMBAHASAN .............................................................................. .........
          4.1.Produksi Limusin ..................................................................................... 11           
          4.2.Keuntungan IB dan deteksi kebuntingan.................................................... 13
          4.3.Kelahiran............................................................................................ ..... 13
BAB V.PENUTUP...........................................................................................
          5.1.Kesimpulan......................................................................................... ..... 14
          5.2.Saran....................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... ..... 15


BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Kebutuhan daging sebagai pemenuh kebutuhan gizi semakin meningkat seiring dengan meningkatnya populasi, pendapatan, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi, khususnya protein hewani. Sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang dagingnya banyak diminati oleh berbagai kalangan di Indonesia Pengembangan sapi potong telah banyak dilakukan, dan pemerintah telah melakukan berbagai upaya demi terpenuhinya permintaan pasar, seperti mengimpor daging dan sapi bakalan untuk penggemukan. Padahal solusi terbaik untuk memecahkan masalah ini yaitu dengan meningkatkan produktivitas sapi potong di Indonesia (Deptan, 2006).

Peningkatan produktivitas sapi potong dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain melalui penyediaan pejantan berkualitas, memperbaiki performans induk, sistem perkawinan, penyediaan pakan yang cukup dan sistem manajemen yang memadai. Peningkatan produktivitas sapi potong perlu didukung teknologi reproduksi (Affandhy et al., 2004) teknologi reproduksi yang umum diterapkan yaitu Inseminasi Buatan (IB). dengan menerapkan IB maka potensi sapi pejantan unggul dapat dioptimalkan. Salah satu kegiatan dari IB adalah memproduksi semen beku. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas semen beku yang dihasilkan seperti kualitas semen segar, jenis sapi yang digunakan dan proses produksi semen beku (Nugraha, 2012).

Sapi potong jantan akan mengalami perkembangan organ reproduksinya selaras dengan pertambahan umur dan perkembangan kondisi badan ternak selama pencapaian masa pubertas dan dewasa tubuh. Salah satu cara pemilihan pejantan yang baik yaitu dengan mengevaluasi kualitas semen (Ramsiyati et al., 2004).

Langkah untuk membangun program perbaikan peternakan sapi potong berkelanjutan dibutuhkan kajian mengenai sistim produksi sapi potong beserta hambatan dan mengidentifikasi tujuannya (Musa et al., 2006) serta tingkat produktivitasnya.

1.2. Tujuan 

a) Mengetahui, mempelajari dan praktek melakukan inseminasi pada sapi dengan baik dan benar, sesuai prosedur pelaksanaan IB.
b) Mengembangkan wawasan dan pengalaman dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
c) Agar mahasiswa memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja praktis sehingga secara langsung dapat memecahkan permasalahkan yang ada dalam kegiatan dibidangnya.
d) Agar mahasiswa dapat melakukan perbandingan penerapan teori yang di terima dijenjang akademik dengan praktek yang dilapang.
e) Meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara teori dan penerapannya sehingga dapat memberikan bekal bagi mahasiswa untuk terjun ke masyarakat.

1.3. Manfaat 

a) Bagi mahasiswa
1. Manfaat yang didapat dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan menganalisa pelaksanaan inseminasi. 
2. Sebagai sarana latihan dan penerapan ilmu pengetahuan perkuliahan
3. Meningkatkan kemampuan dan sosialisasi lingkungan kerja
4. Menambah pengetahuan,pengalaman, dan wawasan dilapangan kerja mengenai dunia kerja,khususnya dunia peternakan
b) Bagi perguruan tinggi
Sebagai sarana untuk memperoleh informasi mengenai keadaan umum peternakan pada BPTU-HPT Padang Mengatas melalui penerimaan laporan kegiatan pada BPTU-HPT Padang Mengatas,serta terciptanya hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak,yaitu dapat menempatkan mahasiswa yang berpotensial untuk mendapatkan pengalaman di BPTU padang mengatas.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Limousin

Sapi Limousin merupakan tipe sapi pedaging yang berasal dari Perancis. dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda. Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.

Keunggulan sapi limousin adalah pertumbuhan badannya yang sangat cepat. Sapi limousin diprediksi akan populer dan menjadi primadona baru di dunia industri peternakan. Seperti halnya peternakan sapi simental ataupun sapi brahman, usaha peternakan sapi limousin juga banyak dilirik oleh para peternak karena merupakan jenis sapi yang memiliki pertumbuhan cepat dan harga jual yang lumayan tinggi. (Steel and Torrie, 1980)

Meski harganya lebih mahal, namun dari hari ke hari permintaan hasil ternak sapi limousin ini justru makin meningkat. Bahkan para peternak dan pedagang sering merasa kewalahan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, karena stok dan suplainya masih sangat terbatas. Sapi limousin termasuk sapi tipe pedaging dan tipe perah, terkadang juga dimanfaatkan tenaganya dalam dunia pertanian. Bangsa sapi ini banyak digunakan pada perkawinan silang untuk menghasilkan sapi potong yang baik (Talib dan Siregar, 1999).

Rendahnya pasokan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan manusia berkaitan langsung dengan kinerja reproduksi dari sapi limousin. Misalnya rendahnya angka kebuntingan akan berakibat langsung pada rendahnya angka kelahiran sehingga akan berpengaruh pada peningkatan populasi. Untuk meningkatkan efesiensi reproduksi sapi limousin maka yang perlu diperbaiki salah satunya adalah aspek teknologi reproduksinya, terutama pada sistem perkawinan dengan menggunakan inseminasi buatan (IB) karena keberhasilan IB akan bermuara pada fertilisasi (Garner dan Hafez, 2000).

Berhasilnya suatu program kegiatan inseminasi buatan (IB) pada ternak tidak hanya ditentukan pada kualitas dan kuantitas semen yang diejakulasikan seekor pejantan, tetapi tergantung juga kepada kesanggupan untuk mempertahankan kualitas dan memperbanyak volume semen tersebut untuk beberapa saat lebih lama setelah ejakulasi sehingga lebih banyak betina akseptor yang akan diinseminasi (Susilawati, dkk,1993).

Usaha untuk mempertahankan kualitas semen dan memperbanyak hasil sebuah ejakulasi dari jantan unggul adalah dengan melakukan pengenceran semen menggunakan beberapa bahan pengencer. Syarat setiap bahan pengencer adalah harus dapat menyediakan nutrisi bagi kebutuhan spermatozoa selama penyimpanan, harus memungkinkan sperma dapat bergerak secara progresif, tidak bersifat racun bagi sperma, menjadi penyanggah bagi sperma, dapat melindungi sperma dari kejutan dingin (cold shoc) baik untuk semen beku maupun semen yang tidak dibekukan (semen cair). Setiap bahan pengencer yang baik harus dapat memperlihatkan kemampuannya dalam memperkecil tingkat penurunan nilai motilitas (gerak progresif) sperma sehingga pada akhirnya memperpanjang lama waktu penyimpananya pasca pengenceran. Semen yang disimpan baik pada suhu refrigerator maupun suhu beku membutuhkan pengencer yang dapat mempertahankan kualitas spermatozoa selama penyimpanan (Wijono, 1999).

2.2. Proses Inseminasi Buatan (IB)

Semen beku sapi jantan dan air. Alat yang digunakan adalah termos berisi nitrogen cair, insemination gun untuk mendeposisikan semen, gunting straw, plastic sheat, sarung tangan plastik untuk membungkus tangan inseminator dan kartu recording untuk mencatat kegiatan pelaksanaan IB.
1. Deteksi berahi: melakukan pengamatan pada sapi betina yang berahi dan melakukan wawancara dengan peternak dan inseminator. 
2. Penanganan betina yang diinseminasi: melakukan pengamatan pada sapi betina yang diinseminasi dan melakukan wawancara dengan inseminator. 
3. Pengangkutan semen beku: melakukan pengamatan terhadap metode pengangkutan semen beku dan melakukan wawancara dengan inseminator. 
4. Thawing: melakukan pengamatan terhadap metode thawing dan melakukan wawancara dengan inseminator. 
5. Prosedur inseminasi: melakukan pengamatan terhadap prosedur inseminasi, melakukan wawancara dengan inseminator dan melakukan praktek inseminasi sendiri. 
6. Sistem pencatatan: melakukan wawancara dengan inseminator. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif mengenai deteksi berahi pada sapi betina, penanganan sapi betina yang akan diinseminasi, pengangkutan semen beku, thawing, prosedur inseminasi, dan sistem pencatatan.

2.3. Deteksi Birahi

Deteksi berahi dilakukan untuk memastikan kapan waktu sapi akan diinseminasi. Peternak di wilayah Kecamatan Getasan melakukan deteksi berahi pada saat pemberian pakan yaitu pada pagi dan sore hari. Peternak melakukan deteksi berahi dengan cara mengamati vulva dan tingkah laku sapi. Peternak menyatakan sapi sedang berahi apabila vulva terlihat bengkak, berlendir dan berwarna merah, serta apabila tingkah laku ternak terlihat gelisah. 

Menurut (Toelihere, 1979) deteksi atau observasi berahi harus dilakukan paling sedikit dua kali sehari, dipagi dan petang. Peternak yang menyatakan sapi tersebut berahiakan menghubungi inseminator untuk meminta jasa pelayanan IB. Setelah inseminator tiba di lokasi peternakan, inseminator akan segera melakukan deteksi berahi. 

Menurut inseminator, ternak yang sedang berahi ditandai dengan vulva yang berwarna merah, bengkak, hangat, berlendir, serta ternak tersebut terlihat gelisah dan berteriak-teriak. (Salisbury dan VanDemark,1961) menyatakan bahwa berahi ditandai dengan vulva makin membengkak dan vestibulum berwarna kemerah merahan, bengkak dan basah. Terlihat pengeluaran lendir tipis, bening, yang mudah melekat, jernih dan kental sering terlihat menggantung dari vulva selama berahi. Disamping itu sapi yang berahi tingkah lakunya sering menguak, tidak tenang dan sering menaiki sapi lain. 

2.4. Sapi Berahi 

Vulvanya mengeluarkan lendir penanganan sapi Betina yang diinseminasi ternak yang dinyatakan berahi oleh inseminator kemudian dipersiapkan untuk segera diinseminasi. Persiapan sapi betina dilakukan dengan cara mengencangkan tali kekang ternak kemudian ditambatkan pada sebuah patok dan dipegang oleh sang pemilik ternak, hal ini dilakukan untuk memudahkan inseminator dalam melakukan inseminasi. Dirjen Peternakan (2012) menyatakan bahwa sapi yang berahi sebaiknya diberi penghalang dengan diikat atau dijepit agar sapi tidak dapat leluasa bergerak. 

2.5. Reproduksi Sapi Limousin

Reproduksi merupakan proses penting bagi semua bentuk kehidupan.Tanpa melakukan reproduksi, tak satu spesies pun didunia ini yang mampu hidup lestari, begitu pula dengan hewan ternak baik betina maupun jantan (Toelihere,1979 dan marawali,2001). Reproduksi hewan jantan adalah suatu proses yang kompleks yang melibatkan seluruh tubuh hewan itu. Sistem reproduksi akan berfungsi bila makhluk hidup khususnya hewan ternak dalam hal ini sudah memasuki sexual maturity atau dewasa kelamin. Setelah mengalami dewasa kelamin, alat-alat reproduksinya akan mulai berkembang dan proses reproduksi dapat berlangsung baik ternak jantan maupun betina.

Pada hewan ternak, alat kelamin jantan umumnya mempunyai bentuk yang hampir bersamaan, terdiri dari testis yang terletak di dalam skrotum, saluran saluran alat kelamin, penis, dan kelenjar aksesoris. Alat kelamin jantan dibagi menjadi alat kelamin primer berupa testis dan alat kelamin sekunder berbentuk saluran-saluran yang menghubungkan testis dengan dunia luar yaitu vas deferent, epididimis, vas deferent, dan penis yang di dalamnya terdapat uretra, dipakai untuk menyalurkan air mani dan cairan aksesoris keluar pada waktu ejakulasi (Brito et al., 2002).

Aminasari (2009)  menyatakan bahwa,  koleksi semen sebaiknya tidak lebih dari dua kali dalam sehari atau interval 4 - 7 hari pada pejantan muda dan 5 hari pada pejantan dewasa.

2.6. Anatomi

Organ reproduksi ternak jantan terdiri dari testes, scrotum, corda spermaticus, kelenjar tambahan (glandula accessories), penis, preputium, dan sistem saluran reproduksi jantan. Sistem saluran ini terdiri dari vasa, efferentia yang berlokasi di dalam testis, epididymis, vas deferens, dan urethra external yang bersambung ke penis. Pada masa embrio, testis berasal dari corda genitalia primer, sedangkan sistem saluran reproduksi berasal dari ductus wolffii (Toelihere,1979). Alat reproduksi ternak jantan di bagi menjadi tiga yaitu; alat kelamin primer berupa testis, alat kelamin sekunder yaitu vas deverent, epididimis, penis, dan uretra, sedangkan kelenjar aksesoris yaitu kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostata, dan kelenjar cowper (Aminasari, 2009).

2.7. Alat Kelamin Primer

Testis adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin jantan (androgens). Testis berlokasi di dekat ginjal turun melalui canalis inguinalis masuk ke dalam scrotum. Turunnya testis terjadi akibat memendeknya gubernaculum, sebuah ligamentum yang memanjang dari daerah inguinalis kemudian bertaut pada cauda epididymis. Pemendekan gubernaculum terjadi karena pertumbuhan gubernaculum tidak secepat pertumbuhan tubuh. Testis terletak dekat dengan daerah inguinalis dan tekanan intra-abdominal membantu testis melalui canalis inguinalis masuk scrotum. Hormon yang terlibat dalam pengaturan turunnya testes adalah gonadotropins dan androgen (Anonymoos, 2009)

2.8. Alat Kelamin Sekunder

(1) Vas deverent
Vas deferens. Merupakan sebuah saluran dengan satu ujung berawal dari
bagian ujung distal dari cauda epididymis. Kemudian dengan melekat pada peritoneum, membentang sepanjang corda spermaticus, melalui daerah inguinalis
masuk ruang pelvis, dimana vas deferens bergabung dengan urethra di suatu tempat dekat dengan lubang saluran kencing dari vesica urinaria. 
Bagian vas deferens yang membesar dekar dengan urethra, di sebut ampulla. Vas deferens mempunyai otot daging licin yang tebal pada dindingnya dan mempunyai fungsi tunggal yaitu sebagai sarana transportasi spermatozoa. Spermatozoa dikumpulkan dalam ampulla selama ejakulasi, sebelum dikeluarkan ke dalam urethra (Toelihere,1979 dan marawali,2001).

(2) Urethra
Merupakan sebuah saluran tunggal yang membentang dari persambungan
dengan ampulla sampai ke pangkal penis. Fungsi urethra adalah sebagai saluran kencing dan semen. Pada sapi dan domba selama ejakulasi terjadi percampuran yang kompleks antara spermatozoa yang padat asal vas deferens dan epididymis dengan cairan sekresi dari kelenjar-kelenjar tambahan dalam urethra yang berada
di daerah pelvis menjadi semen (Toelihere,1979 dan Marawali,2001).

(3) Penis
Merupakan organ kopulasi pada ternak jantan, membentang dari titik urethra keluar dari ruang pelvis di bagian dorsal sampai dengan pada orificium urethra eksternal pada ujung bebas dari penis. Pada sapi penis mempunyai bagian yang berbentuk seperti huruf “S” (sigmoid flexure) sehingga penis dapat ditarik dan berada total dalam tubuh. mempunyai musculus retractor penis, yaitu sepasang otot daging licin, jika releks memberikan kesempatan penis untuk memanjang dan jika kontraksi dapat menarik penis ke dalam tubuh kembali. Pada sapi terdapat Jaringan erectile adalah jaringan cavernous (sponge) terletak dalam dua daerah penis, yaitu pada corpus spongiosum penis yang merupakan jaringan cavernouse yang terletak di sekitar urethra, ditutupi oleh musculus bulbospongiosum pada pangkal penis. Kemudian pada corpus cavernosum penis, merupakan sebuah daerah jaringan cavernouse yang lebih besar, terletak di bagian dorsal dari corpus spongiosum penis.

Pada mulanya kedua cavernouse tersebut berasal dari musculus ischlocavernouse. Kedua musculus bulbospongiosum dan musculus ischlocavernous adalah otot daging seran lintang yang merupakan musculus skeletal bukan otot daging licin sebagaimana halnya dengan otot-otot daging licin yang pada umumnya ada pada saluran reproduksi ternak jantan maupun betina (Housebandry 2009).

(4) Epididimis
Epididimis berbentuk bulat panjang dan melekat pada testis. Epididimis ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu caput ( kepala) corpus (badan) dan kauda (ekor).caputepididimis menelungkupi testis. Epididimis berisi duktus mulai caput berkelok kelok rapat sekali. Panjang duktus epididimis bila direntangkan adalah 36 m pada sapi dewasa dan 54 m pada babi dewasa (Widayati et al,2008). Fungsi penting dari epididimis adalah tempat penyimpanan spermatozoa secara fisiologis.

(5) Kelenjar aksesoris, Kelenjar aksesoris terdiri dari
a. Vesica seminalis, berfungsi untuk menyimpan spermatozoa dan juga sekretanya ditumpahkan pada semen ketika terjadi ejakulasi, sekretnya mengandung protein, enzim, dan flavin.
b. Prostata, hanya ada satu dan terdapat pada pangkal uretra. Kelenjar ini terdiri dari bagian corpusprostata dan pars diseminata. Kelenjar ini mempunyai banyak  saluran (ductuli prostatici). Kelenjar ini berfungsi memberi bau khas pada sperma.
c. Kelenjar Bulbouretralis, disebut juga dengan kelenjar cowper, yang berjumlah sepasang dan terletak didekat apertura pelvis caudalis. Kelenjar ini berfungsi untuk membersihkan saluran uretrase sebelum spema melewatinya.

(6) Tubulus seminiferus
Didalam testis terdapat saluran halus yang merupakan tempat Pembentukan sperma, di sebut tubulus seminiferus. dinding Tubulus seminiferus  tersusun dari jaringan epitelium dan jaringan ikat. Didalam jaringan epitelium terdapat sel induk spermatozoa (spermatogen) dan sel sertoli. Sel sertoli berfungsi memberi nutrisi pada sperma. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel –sel interstissial yang menghasilkan hormon testosteron dan hormon kelamin jantan lainya (Syahrum, 1994)

(7) Proses spermatogenesis pada sapi
Spermatogenesis adalah proses dimana spermatogonia berkembang menjadi spermatosit, tahap masak dari spermatosit yang menghasilkan spermatid dengan jumlah kromosom berkurang (haploid), spermiogenesis merupakan proses transformasi dari spermatid menjadi spermatozoa (Dellmann dan Brown, 1992).
BAB III
MATERI DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat

Praktek Kerja Lapang ini telah dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak Padang Mengatas, Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam manajemen reproduksi sapi limousin merupakan bahan-bahan yang digunakan pada program inseminasi buatan antaralain:semen beku,peralatan IB seperti (Gun, straw, termos, pinset, plastik glove, plastik sheet).

3.3. Metode

Metode  yang  digunakan  dalam  praktek  kerja  lapangan  adalah  metode partisipasi aktif dengan cara praktek dan mencatat data serta wawancara langsung dengan pihak dan karyawan BPTU-HPT Padang Mengatas. 

Pengamatan data primer meliputi keadaan umum Balai Pembibitan Ternak Unggul Padang Mengatas Payakumbuh Sumatera Barat dan prosedur pembibitan sapi limousin, sedangkan data sekunder berasal dari catatan yang ada di Balai Pembibitan Ternak Unggul Padang Mengatas Payakumbuh Sumatera Barat dan studi pustaka. 

Data yang diperoleh dari pengamatan primer dan sekunder akan diolah dan dibandingkan dengan pustaka sehingga didapat suatu kesimpulan demi tercapainya tujuan laporan praktek kerja lapangan.

BAB IV
PEMBAHASAN


4.1.  Reproduksi Ternak Sapi Limousin

Reproduksi merupakan proses yang majemuk pada setiap individu ternak. Reproduksi merupakan proses perkembangan suatu makhluk hidup yang dimulai sejak bersatunya sel telur dan sel sperma menjadi individu baru yang disebut zigot yang disusul dengan kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran.Sapi betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat penting untuk mengawali kehidupan turunan yang baru,tetapi ia juga menyediakan tempat serta lingkungannya untuk perkembangan individu baru ( Effendi, 2010).

Usaha petrnakan di Indonesia sampai saat ini masih banyak menghadapi kendala yang mengakibatkan produksivitas ternak yang rendah.Hal ini ditemukan dengan banyaknya laporan dari peternak mengenai kasus gangguan reproduksi yang mengakibatkan kerugian yang besar terhadap pemilik ternak maupun balai peternakan yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu pengelolaan reproduksi merupakan bagian yang penting dalam suatu usaha peternakan (Winarso, 2005).

Faktor pengelolaan reproduksi meliputi : 
1. Pemberian pakan yang berkualitas dan mencukupi kebutuhan ternak.
2. Lingkungan yang serasi yang mendukung perkembangan ternak.
3. Tidak menderita penyakit khususnya penyakit menular kelamin.
4. Tidak menderita kelainan anatomi kelamin yang bersifat menurun.
5. Tidak menderita gangguan keseimbangan hormone khususnya hormon reproduksi

Sistem perkawinan di BPTU HPT Padang Mengatas ada dua cara yaitu Perkawinan Secara alami dan Perkawinan Secara Buatan. Perkawinan secara Alami yaitu perkawinan yang di lakukan langsung oleh pejantan ke induk betina yang mengalami gangguan reproduksi. Selain langkah dikawinkan alam, indukan ini pula akan ditangani secara khusus. Penanganan berupa pemberian sepul sebagai langkah pembersihan rahim, pemberian vitamin, dan juga penyuntikan hormon prostalglandin. Hal ini dilakukan agar ternak yang mengalami gangguan reproduksi dapat birahi sehingga dapat bunting kembali.

Kawin Buatan yaitu melalui IB, perkawinan ini bisa dilakukan karena indukan masih produktif dan indukan mengalami 3A (Abang, Abu, Angat ), serta mengalami tingkat agresif yang tinggi sebelum dikawinkan.indukan yang mengalami birahi harus ditangani secepat-cepatnya,karna tingkat birahi ini hanya berlangsung 12 jam. Sebelum Melakukan Perkawinan yang melaui IB ini yang harus di lakukan oleh seorang insiminator yaitu mempersiapkan peralatan IB seperti Gun, plastik sik, Straw, Glob (Sarung Tangan Plastik ), sabun, dll.

Cara melakukan IB yaitu insiminator mempersiapkan straw terlebih dahulu, setelah itu inseminator mengambil gun dan plastik sit, lalu straw dimasukan kedalam Alat Gun-nya, straw digunting dibagian atas lalu ditutup dengan plastik sik, setelah itu inseminator wajib menggunakan Glob ( Sarung Tangan Plastik) untuk merogoh alat reproduksi betina, sebelum melakukannya kotoran yang ada di rektum harus bersihkan terlebih dahulu setelah itu maka dilakukanlah penemuan serviks jika telah ditemukan maka gun masukan melalui vulva lalu straw ditembakkan (Faradis, 2010).

Sesuai pengamatan selama pelaksanaan praktek kerja lapang yang fokusnya memperhatikan produksivitas sapi limousin BPTU-HPT Padang Mengatas menerapkan perlakuan IB inseminasi buatan pada sapi limousin,untuk meningkatkan produksi anak yang dihasilkan.Penerapan IB pada balai pembibitan ternak unggul padang mengatas mampu menaikan persentasi keberhasilan kebuntingan terhadap sapi yang mendapat perlakuan IB.

Namun untuk jumlah sapi limousin pada balai pembibitan ternak unggul padang mengatas masih minim dibandingkan jumlah sapi simental,sesuai pengamatan dilapangan terdapat jumlah sapi simental lebih dominan dibandingkan sapi limousin.Oleh sebab itu pihak BPTU-HPT Padang Mengatas ingin menyeratakan jumlah kedua jenis sapi tersebut.

4.2. Keuntungan IB Dan Deteksi Kebuntingan Di BPTU-HPT

Keuntungan menerapkan inseminasi buatan pada ternak sapi limousin :
1. Menghindari penularan penyakit dari jantan ke betina.
2. Sperma  yang berasal dari jantan dapat melayani banyak betina karena dapat diencerkan.
3. Mempercepat penyebaran bibit unggul.
4. Mengurangi biaya pemeliharaan pejantan.
5. Tingkat kebuntingan lebih tinggi

Untuk deteksi kebuntingan pada ternak sapi limousin, meliputi tanda-tanda umum terjadinya kebuntingan pada ternak: Birahi berikutnya tidak timbul lagi, ternak lebih tenang, nafsu makan meningjkat. Oleh karena itu, untuk mengetahui keberhasilan perkawinan pihak BPTU-HPT Padang Mengats perlu melakukan pengamatan birahi kembali pada induk setelah 21 hari atau hari ke 18-23 dari pelaksanaan IB. Siklus 42 hari berikutnya, kemungkinan induk telah bunting.

Deteksi kebuntingan dapat dilakukan dengan cara palpasi rektal setelah 60 hari sejak IB terlaksana,untuk menyakinkan bahwa ternak benar-benar bunting pihak BPTU-HPT Padang Mengatas juga melakukan pemeriksaan kebuntingan dengan menggunakan tekhnologi USG oleh petugas pemeriksa kebuntingan (PKB).

4.3.  Kelahiran

Kebuntingan pada sapi terjadi selama 275-285 hari dengan rata-rata 280 hari.Induk sapi limousin yang akan melahirkan menunjukkan tanda-tanda seperti: vulva membengkak dan warna kemerahan,pinggul terasa lebih lentur,puting susu mulai membengkak dan sedikit meneteskan air susu,dan vulva akan mengeluarkan lendir saat mendekati kelahiran.

Untuk sapi yang telah mendekati kelahiran,akan dipisahkan,dan akan di masukkan kedalam grob bunting pada padang pengembalaan. Sapi yang ada masalah saat melahirkan akan dipindahkan ke kandang jepit yang telah tersedia.

Bahrudin (2004) menyatakan bahwa distokia atau kesulitan melahirkan merupakan salah satu gangguan reproduksi yang dapat terjadi akibat genetik, nutrisi, penyakit menular atau traumatik. Selama kebuntingan,ternak memerlukan nutrisi yang cukup agar pedet dapat lahir dengan kondisi yang bagus dan sehat agar resiko cacat dan majir dapat dikurangi. 
BAB V
PENUTUP

5.1.  Kesimpulan

Selama melakukan kegiatan PRAKTEK KERJA LAPANG yang telah dilaksanakan di BPTU HPT Padang Mengatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa KEGIATAN  ini sangat penting untuk menunjang wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang bidang ilmu peternakan yang dipelajari dengan aplikasinya di lapangan.Setelah mengikuti kegiatan PKL di BPTU HPT Padang Mangatas. Penulis mendapat pengetahuan yang lebih luas dibidang ilmu teknologi Reproduksi,serta banyak hal lain ilmu yang didapatkan.

Produksivitas sapi limousin di BPTU-HPT Padang Mengatas lebih rendah dibandingkan sapi simental,terlihat pada jumlah populasi simentel yng lebih banyak di bandingkan sapi limousin.Untuk penerapan manajemen reproduksi khususnya pada ternak sapi limousin masih dibawah tingkatan sapi simental.
5.2. Saran

Saran yang kami berikan kepadapengelola BPTU HPT Padang Mengatas, demi perubahan yang lebih baik yaitu sebagai berikut:
1. Lebih diperhatikan lagi jumlah ternak sapi limousin,agar jumlah populasinya meningkat
2. Untuk sapi induk yang telah melahirkan,ada baiknya dipisah dari sapi yang belem melahirkan.
3. Ada baiknya dibuat tempat ransum di padang pengembalaan demi untuk meningkatkan efektipitas konsumsi pakan konsentrat di padang penggembalaan/pasture. Dimana pakan konsentrat diberikan langsung diatas rumput penggembalaan tanpa ada nya tempat ransum khusus.
4. Ada baiknya pemanfaatan limbah ternak lebih dimaksimalkan lagi, baik sebagai bahan bakar Biogas atau sebagai pupuk kompos pada  pertanian.
5. Penghijauan sekitar pinggir jalan dalam BPTU HPT Padang Mangatas lebih ditingkatkan lagi mengingat banyak pengunjung atau wisataan yang selalu berkunjungan.


DAFTAR PUSTAKA


DEPTAN, 2006. Peraturan mentri Pertanian Nomor 54/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman pembibitan Sapi Potong yang Baik (God Breeding Practice).
Affandhy, L., P. Situmorang, A. Sasyid, dan D. Pamungkas. 2004. Uji fertilasi Semen Cair Pada Induk Sapi Peranakan Ongole Pada Kondisi Peternakan Rakyat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Vateriner.
Nugraga, F. W. 2012. Kaji Banding Kemampuan Bertahan Terhadap proses pembekuan Spermatzoa Sapi Simmental, Limusin dan Fries Holstein. Skripsi. Fakultas peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ramsiyati, D. T., Sriyati, dan B. Sudarmadi. 2004. Enaluasi Kualitas Semen Sapi Potong Pada Berbagai Umur Di Peternakan Rakyat. Prsiding Temu Terknis Nasional Tenaga Fungsinal Pertanian.
Steel, R.G.D., dan J.H. Trri. 1980. Prinsiples and Prosedures of Statistics.Mc Graw-Hill, Inc. Tejemahan oleh B. Sumantri. 1993. Prinsip dan Prsedur Statistika.Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.
Wijono, D. B. 1999. Evaluasi Kemampuan Ejakulasi dan Kualiatas Semen Sapi Potong Muda dan Dewasa. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner.
DEPTAN. 1997. Konsep pengembangan dan pelestarian plasma nutfah ternaK nasional,Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Peternakan. Direktorat Perbibitan.
DIDIEK PURWANTO. 2002. Seminar sapi lokal.Universitas Brawijaya, Malang.
HARDJOSUBROTO, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapang. Cetakan pertama. PT.Gramedia Widiasarana Jakarta.
MASATOSHI NEI. 1987. Molecular Evolutionary Genetics. Columbia University Press. NewYork.
SUSILAWATI, T., SUBAGIO I., AULANI’AM, KUSWATI,AGUS BUDIARTO and ARISTYO. 2004 Genetic and Reproductive Characteristic of Bali Cattlein East Java. Reprotech. The Indonesian Journal Science and Technology. February1(3): 137−142.
Toelihere, M. R. 1997. Fisiologi Reproduksi Ternak. Angkasa. Bandung.
Aminasari, P. D. 2009. Pengaruh Umur Pejantan Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Limusin. Skipsi. Fakultas Peternakan UniversitasBrawijaya. Malang.
Brito, L. F. C. A. D. F. Silva, L. H. Rdrigues, F. V. Vieira, L. A. G. Deragon, J. P. Kastelic. 2002. Efect Of ange And Genetic Group On Charateristics Of The Scrotum, Testes And Testicular Vascular Cones, And On Sperm Production And Semen Quality In Al Bulls In Brazil. Can Vet J. 43(4):274-284.
Effendi, Duhari. 2010. “ Swasembada daging 2014, Haruskah Gagal Lagi”. Fokus Tani. 10 mei 2012. Halaman 6.
Winarso, B., S. Rosmiyati dan C. Muslim. 2005. Tinjauan Eknomi Ternak Sapi Potong di Jawa Timur. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol.23.No.1. Hal.61-71.
Faradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak. Alfabeta. Bandung.

G+