lomba blog traveloka

Makalah Tahapan Perencanaan Program Pembibitan Sapi Potong

MAKALAH TAHAPAN PERENCANAAN PROGRAM PEMBIBITAN SAPI POTONG

Makalah, materi, Tahapan Perencanaan, Program Pembibitan, sapi potong
Makalah Peternakan Perencanaan Pembibitan Sapi


PROGRAM STUDI ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2017


KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum wr.wb...

Segala puji bagi Allah Subbahanahu Wata’alla, Tuhan semesta alam yang melimpahkan nikmat dan karunia sehingga kita dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari. Sholawat beserta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam yang membawa umat dari alam jahilliyah menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporans Praktek Kerja Lapang ini dengan judul “Manajemen Reproduksi Ternak Sapi Potong limousin spada balai pembibitan ternak unggul padang mengatas Payakumbuh”.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dosen Pembimbing Ibu Evi Irawati,S.Pt.,M.P. yang telah memberi arahan untuk menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapang ini dengan baik.  Penulis berharap semoga  Laporan praktek kerja lapang ini bermanfaat bagi kita semua baik masa kini maupun untuk masa yang akan datang.


Pekanbaru, Maret 2017

Penulis


BAB I
PEDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebutuhan daging sebagai pemenuh kebutuhan gizi semakin meningkat seiring dengan meningkatnya populasi, pendapatan, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi, khususnya protein hewani. Sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang dagingnya banyak diminati oleh berbagai kalangan di Indonesia. 

Pengembangan sapi potong telah banyak dilakukan, dan pemerintah telah melakukan berbagai upaya demi terpenuhinya permintaan pasar, seperti mengimpor daging dan sapi bakalan untuk penggemukan. Padahal solusi terbaik untuk memecahkan masalah ini yaitu dengan meningkatkan produktivitas sapi potong di Indonesia (Deptan, 2006).

Usaha pembibitan sapi potong belum banyak yang dilakukan oleh pengusaha di Indonesia. Kebanyakan dinegara kita, pengusaha peternakan lebih banyak bergerak dalam bidang penggemukan, sehingga kita sangat sulit untuk mendapatkan sapi bakalan, walaupun ada itupun dengan harga yang cukup tinggi. Sehingga kita masih banyak bergantung sapi bakalan dari luar negeri khususnya Australia. 

Pemerintah sudah beberapa kali telah mencanangkan program swasembada daging, namun program ini belum sampai terwujud saat ini. Program swasembada daging sapi ini disebut berhasil, jika kita bisa memenuhi keperluan daging sapi potong dalam negeri. Program swasembada ini dapat terwujud dengan baik dengan meningkatkan jumlah populasi ternak dalam jumlah yang besar.

1.2. Rumusan Masalah

Usaha pembibitan sapi potong kurang diminati oleh peternak karena secara ekonomis kurang menguntungkan dan dibutuhkan waktu pemeliharaan yang cukup panjang. Jarak beranak yang berkepanjangan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pembibitan Sapi Potong

Usaha pembibitan sapi potong belum banyak yang dilakukan oleh pengusaha di Indonesia. Kebanyakan dinegara kita, pengusaha peternakan lebih banyak bergerak dalam bidang penggemukan, sehingga kita sangat sulit untuk mendapatkan sapi bakalan, walaupun ada itupun dengan harga yang cukup tinggi. Sehingga kita masih banyak bergantung sapi bakalan dari luar negeri khususnya Australia.

Pemerintah sudah beberapa kali telah mencanangkan program swasembada daging, namun program ini belum sampai terwujud saat ini. Program swasembada daging sapi ini disebut berhasil, jika kita bisa memenuhi keperluan daging sapi potong dalam negeri. Program swasembada ini dapat terwujud dengan baik dengan meningkatkan jumlah populasi ternak dalam jumlah yang besar.

Di indonesia cukup banyak dikenal sapi potong lokal, jenis sapi potong impor, maupun sapi peranakan atau hasil silangan yang dikembangkan lewat kawin suntik (inseminasi buatan).

Penilaian keadaan individual sapi potong yang akan dipilih sebagai sapi potong bibit atau bakalan, pada prinsipnya berdasarkan pada umur, bentuk luar tubuh, daya pertumbuhan dan temperamen Namun secara praktis yang umumnya dipergunakan dalam penilaian individual, adalah mengamati bentuk luar, yakni bentuk tubuh umum, ukuran vital dari bagian-bagian tubuh, normal tidaknya pertumbuhan organ kelamin, dan dari sudut silsilah tidak terlepas dari faktor genetis sapi potong. (Murtidjo,1990) Sebelum memulai usaha pembibitan sapi potong, berikut ini yang harus diperhatikan yaitu:

1. Pemilihan Bibit

Bibit indukan ataupun pejantan yang dipilih adalah bibit yang mempunyai keunggulan masing-masing, seperti pada usia sapih( berumur sekitar 205 hari), usia muda (berumur sekitar 365 hari), dan yang berusia dewasa (sekitar 2 tahun). Sapi yang unggul tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri yang tampak diluar:

Warna badan pada sapi sama dengan bangsanya. Misalnya sapi Peranakan Ongole yang berwarna putih
Kesesuaian, bentuk, dan ukuran antara kepala, leher, dan tubuh ternak.
Tingkat pertumbuhan bobot badan harian (PBH) pada saat sapi berumur tertentu.
Tidak mempunyai cacat tubuh yang bersifat bawaan atau menurun.
Untuk penjantan, testes sapi yang berusia delapan belas(18) bulan harus simetris, menggantung.
Secara normal sapi dalam keadaan sehat. Ini bisa kita lihat dari matanya yang nampak cerah, geraknya lincah, namun si sapi tidak liar. Serta tidak menampakkan tanda-tanda yang aneh atau tidak wajar pada organ reproduksinya.

2. Jenis Sapi Potong
Sapi Ongole
Sapi Bali
Sapi Madura
Sapi Brahman
Sapi Charolais

3. Perkandangan

Pembuatan kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan dalam pemeliharaan sapi potong antara lain: 
Kandang penggemukan.
Kandang isolasi ternak sakit.
Gudang pakan dan peralatan.
Unit penampungan dan pengolahan lahan. 

Konstruksi kandang harus kuat dan nyaman serta memiliki daya tampung dan pertukaran udara harus terjamin, lantai kandang harus kuat dan tidak licin, untuk bangunan gudang pakan harus terjamin kebersihan dan kehygienisan gudang agar pakan tetap sehat dan hygienis.

1. Tata letak kandang dan bangunan lain harus memperhatikan Peternakan harus mempunyai satu pintu keluar masuk yang dilengkapi kolam desinfektan.
2. Letak kandang dan bangunan lain harus diperhatikan guna mempermudah dalam pengerjaan dan kegiatan sehari-hari.
3. Letak kandang isolasi harus di belakang dan agak jauh dari bangunan lainnya.
4. Jarak antar bangunan yang bukan kandang minimal 25 meter.
5. Bangunan untuk pekerja (tempa tinggal) serta hal-hal pekerjaan yang berhubungan dengan administratif harus terpisah dari kandang.

Menurut AAK (1991) yang menyatakan bahwa konstruksi kandang yang dibangun dengan perencanaan dan teknis yang benar akan menjamin kenyamanan hidup ternak., sebab bangunan kandang erat hubungannya dengan kehidupan ternak. Konstruksi bangunan kandang yang benar ialah yang dirancang sesuai dengan iklim setempat, jenis ternak dan tujuan usaha peternakan itu sendiri. Maka di dalam bangunan konstruksi kandang perlu diperhatikan ialah :


1) Tinggi bangunanKandang didaerah dataran rendah lebih tingg daripada dipegunungan. Hal ini dimaksud agar udara panas didalam ruang kandang lebih bebas bergerak atau berganti. 
2) Atap berfungsi untuk menghindarkan air hujan dan terik matahari. Menjaga kesehatan sapi dimalam hari.
3) Dinding berfungsi menahan angin langsung yang datang dari arah luar, agar pada malam hari sapi tidak kedinginan. Mengurangi keluarnya panas di dalam ruangan kandang yang dihasilkan oleh tubuh hewan. 
4) Ventilasi kandang kandang harus dibuat dan diatur sesuai dengan tempat dan kebutuhan ternak. Kebutuhan ventilasi kandang didataran rendah harus dibuat lebih lebar dan lebih banyak di dataran tinggi pegunungan. Sebab di dataran rendah umumnya udaranya lebih panas daripada didataran tinggi/pegunungan.
5) Lantai kandang, baik lantai tanah, adukan semen, aspal, batu-batu dan sebagainya harus dibiuat agak miring. Kemiringan lantai kandang cukup di buat 5 cm saja. Kemiringan lantai ini bertujuan agar air kencing sapi tidak berhenti dan bercampur dengan kotoran dan tilam yang dipakai sebagai alas ternak sehingga kesehatan sapi tetap terjamin.

2.2. Sistem Pemeliharaan

Hijauan 
Hijauan segar ialah makanan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar. Yang termasuk bahan hijauan segar adalah rumput segar, batang jagung muda, kacang-kacangan dan lain-lain yang masih segar serta silase.Jumlah hijauan yang diberikan pada sapi di Indonesia 30-40 kg. Hal ini sangat tergantung dari berat badan sapi yang bersangkuatan. Bahan makanan hijauan berfungsi sebagai pengenyang, sumber mineral, karbohidratvitamin-vitamin dan protein.

Hijauan kering ialah makanan yang berasal adri hijauan yang dikeringkan misalnya jerami dan hay. Jerami adalah hasil ikutan pertanian seperti padi kacang tanag kedelai, jagung dan lain-lain yang berupa daun ranting. Jerami merupakan salah satu bahan makanan yang mutuny rendah. Sebab zat-zat yang terkandung di dalamnya seperti selulosa terselubung oleh dinding yang keras yakni lignin dan silika. 
Hay adalah hijauan dari jenis rumput-rumputan yang sengaja ditanam, kemudian dipanen menjelang berbunga dan langsung dikeringkan. Jika ransum yang diberikan kepada ternak hanya dari hijauan kering, sebaiknya diberi bahan makanan penguat untuk mencxegah terjadinya kekurangan vitamin dan zat-zat lain. 

Pemberian makanan yang secara ekonomis dan teknis memenuhi persyaratan, dilandasi beberapa kebutuhan sebagai berikut :Kebutuhan hidup pokok yang mutlak dibutuhkan dalam jumlah minimal, meski ternak dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan. Kebutuhan untuk pertumbuhan yaitu kebutuhan makanan yang diperlukan ternak sapi untuk memproduksi jaringan tubuh, dan menambah berat tubuh. Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan makanan yang diperlukan ternak sapi untuk prosesreproduksi,misalnya kebuntingan.
Kalsifikasi Makanan Sapi Potong
Pemberian makanan sapi potong digolongkan menjadi beberapa kelas menurut keadaan, usia dan kebuntingannya:
1) Pengganti makanan pedet adalah makanan yang diberikan untuk anak sapi yang berusia 1 – 16 minggu sebagai ganti susu induk.
2) Makanan sapi dara adalah makanan yang diberikan untuk sapi dara, yang berusia antara 16 minggu sampai 48 minggu.
3) Makanan sapi dewasa adalah makanan yang diberikan untuk sapi yang sudah dewasa yang berusia 48 minggu sampai sapi dipotong.
4) Makanan sapi betina bibit.
5) Makanan sapi pemacak.




2.3. Sarana dan Prasarana

2.3.1. Prasarana

1. lahan dan lokasi lahan dan lokasi pembibitan sapi potong harus memenuhi persyaratan sebagai  berikut: a. sesuai dengan rencana Tata ruang wilayah Provinsi (rTrwP), rencana Tata ruang wilayah Kabupaten/ Kota (rTrwK), atau  rencana Detail Tata ruang Daerah (rDTrD); b. letak dan ketinggian lahan dari wilayah sekitarnya memperhatikan topografi dan fungsi lingkungan, untuk menghindari kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan; c. tidak ditemukan agen penyakit hewan menular strategis terutama yang berhubungan dengan reproduksi dan produksi ternak; d. mempunyai potensi sebagai sumber bibit sapi potong; e. Upaya Pengelolaan lingkungan hidup dan Upaya Pemantauan lingkungan hidup (UKl/UPl); dan f. mudah diakses atau terjangkau alat transportasi.
2. Air dan Sumber Energi Tersedia cukup air bersih sesuai dengan baku mutu dan sumber energi yang cukup sesuai kebutuhan dan peruntukannya, seperti listrik sebagai alat penerangan.

2.3.2. Sarana 

Sarana untuk pembibitan sapi potong sebagai berikut:

1. Bangunan 
a. Bangunan yang diperlukan pada peternak, kelompok, atau koperasi meliputi kandang, tempat penyimpanan pakan, dan tempat penampungan dan/atau pengolahan limbah.
b. Bangunan yang diperlukan pada perusahaan, UPT Pemerintah, dan UPT pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) meliputi:
1) Bangunan Perkantoran Bangunan perkantoran terletak dalam satu lokasi dengan tempat usaha pembibitan, yang fungsinya untuk kegiatan manajemen administrasi dan pengolahan data.
2) Bangunan Perkandangan.
a) Sistem Ekstensif (Pastura) Pada sistem ini bangunan diperlukan sebagai berikut: - paddock untuk melakukan penggembalaan bergilir (rotation grazing) agar pertumbuhan rumput dapat terkendali. - cattle yard untuk penanganan sapi dalam kegiatan diantaranya pemeriksaan, vaksinasi, pengukuran/ penimbangan, bongkar muat atau melakukan seleksi ternak.
b) Sistem Intensif Pada sistem intensif bangunan yang diperlukan adalah sebagai berikut: - kandang kelompok untuk anak, dewasa, induk dan pejantan; 
- kandang jepit; dan 
- kandang isolasi dan kandang melahirkan.
c) Bangunan Pendukung 
- gudang pakan; 
- gudang peralatan dan garasi; dan 
- unit penampungan dan/atau pengolahan limbah.
c. Persyaratan Tata letak Kandang Kandang harus terletak di tempat kering dan tidak tergenang air saat hujan serta cukup sinar matahari.
d. Persyaratan Teknis Kandang.
1) konstruksi kandang harus kuat.
2) terbuat dari bahan yang ekonomis dan mudah diperoleh.
3) sirkulasi udara dan sinar matahari cukup.
4) drainase dan saluran pembuangan limbah baik serta mudah dibersihkan.
5) lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering, dan tahan injak.
6) luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung dan memiliki area untuk gerak. 

2. Alat dan Mesin Peternakan dan Kesehatan hewan 
a. Pada peternak, kelompok, atau kelompok antara lain: 
1) tempat pakan, tempat minum, sapu lidi dan sekop; 
2) alat pemotong rumput;  
3) pita ukur, tongkat ukur, buku recording dan formulir pencatatan; dan 
4) eartag dan kalung. 
b. Pada perusahaan, UPT Pemerintah, dan UPT pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) 1) Sistem Ekstensif (Pastura) 
a) tempat pakan dan tempat minum; 
b) peralatan pencatatan ternak antara lain buku recording, formulir pencatatan, timbangan ternak, pita ukur dan tongkat ukur; 
c) peralatan penanganan kesehatan hewan; 
d) peralatan pemotong tanduk;
 e) peralatan identitas ternak antara lain microchip, eartag dan kalung; dan 
f) peralatan penanda perkawinan antara lain chinball. 
2) Sistem Intensif dan Semi Intensif 
a) tempat pakan dan tempat minum; 
b) buku recording, formulir pencatatan, timbangan ternak, pita ukur dan tongkat ukur; 
c) pemotong rumput, pengangkut rumput, pembersih kandang, dan pemotong tanduk; 
d) alat penanganan kesehatan hewan; dan 
e) peralatan identitas ternak antara lain microchip, eartag dan kalung.

3. Bibit 
Bibit yang digunakan untuk pembibitan sapi potong harus memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 4. Pakan 
Dalam usaha pembibitan sapi potong harus menyediakan pakan dengan jumlah cukup dan berkualitas yang berasal dari: 
a. hijauan pakan antara lain rumput (rumput budi daya dan rumput alam), dan legume; 
b. hasil samping dari tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura; 
c. pakan konsentrat tidak boleh mengandung bahan pakan yang berupa darah, daging dan/atau tulang serta tidak boleh dicampur dengan hormon tertentu atau antibiotik imbuhan pakan;
 d. pakan konsentrat sebagai sumber protein dan atau sumber energi serta dapat mengandung pelengkap pakan dan/atau imbuhan pakan; 
e. pakan yang berasal dari pabrik harus berlabel dan memiliki nomor pendaftaran, dan pakan yang diolah sendiri harus memenuhi nutrisi. 

5. Obat hewan 
a. obat hewan yang dipergunakan dalam pembibitan sapi potong  harus memiliki nomor pendaftaran; 
b. obat hewan yang dipergunakan sebagai imbuhan dan pelengkap pakan meliputi premiks dan sediaan obat alami sesuai dengan peruntukannya; dan
 c. penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang obat hewan.


BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Beternak sapi potong merupakan usaha ng sangat menarik. Selain untuk memenuhi permintaan pasar daging yang masih belum terpenuhi, juga untuk mendorong timbuknya industry lain yang berbahan baku daging, kulit,tulang ,dan bahan ikutan.

3.2. SARAN
Sebaiknya sebelum pemberian pakan yang baru harus ada adptasi pakan terlebih dahulu untuk ternak.

Dinding kandang untuk pedet atau kandang pembesaran sebaiknya jaraknya dibuat jangan terlalu jarang.

Drainase sebaiknya dibuat agak lebih lebar sehingga kotoran dengan mudah mengalir kesaluran pembuangan.


DAFTAR PUSTAKA

Huda, Nurul. 2007. Teknik Perencanaan Pembangunan. Padang: Bung Hatta University.
Santosa, Kholid, Warsito S.ST, dan Agus Andoko. 2012. Bisnis Penggemukan Sapi.
Jakarta: Agro Media Pustaka. 
Tarigan, R. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi 
Aksara.
Yulianto, Purnawan. 2012. Penggemukan Sapi Potong Hari per Hari 3 Bulan Panen.
Jakarta: Penebar Swadaya

G+