lomba blog traveloka

Pengaruh AFTA Terhadap Pertanian Riau : Artikel Politik Pembangunan Pertanian

pertanian riau,afta
Dampak AFTA Untuk Pertanian

ANTARA AFTA DAN TIADA - Sekarang, Indonesia tengah menghadapi AFTA. Suatu wujud kesepakatan dari masyarakat ASEAN yang menghapuskan semua bea masuk impor barang dari negara sesama ASEAN. AFTA sendiri merupakan suatu bentuk kesepakatan yang diberlakukan secara penuh pada tahun 2015 kemarin. 



Salah satu poin penting dalam kesepakatan AFTA adalah pemberlakuan Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT). CEPT adalah program tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama antara lain semua produk manufaktur, termasuk barang modal dan produk pertanian olahan, serta produk-produk yang tidak termasuk dalam definisi produk pertanian.



Salah satu sektor yang dikhawatirkan banyak pihak mengalami kemerosotan adalah sektor pertanian. Faktanya adalah masih lemahnya daya saing produk pertanian lokal yang kebanyakan berpusat pada masyarakat di pedesaan. 

Belum lagi pemerintah yang berupaya mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan melakukan impor. Ibarat seorang anak kecil, yang bermimpi ingin merantau padahal dia masih disuapi oleh Ibunya. Hal seperti ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menghadapi pasar bebas pada tahun mendatang.

Pemberlakuan AFTA sangat riskan. Ibarat pedang bermata dua, AFTA bisa saja menguntungkan bagi Indonesia, dan merugikan pada sisi yang lain. Hingga saat ini, belum ada kebijakan pemerintah yang komprehensif dalam menanggapi AFTA 2015 kemarin


Komite Ekonomi Nasional (KEN) pada tahun 2013 merilis peringkat daya saing produk Indonesia, dimana secara konsisten telah mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 peringkat daya saing produk Indonesia berada diperingkat ke-50, padahal pada tahun 2011 memiliki peringkat ke-48 dan tahun 2010 bertengger di peringkat ke-46. Hal ini membuktikan bahwa produk lokal masih bersifat inferior. Ditambah lagi peran pemerintah yang dianggap cenderung kurang responsif.

Bagaimana dengan Provinsi Riau sebagai sentra penghasil produk perkebunan tertinggi di Indonesia? Data dari Kementerian Perdagangan menyebutkan hanya ada 4 komoditas pertanian berbasis perkebunan yang saat ini bisa bersaing di pasar global, yaitu karet, kelapa sawit, kakao dan kopi. Keempat produk ini bisa “menang” karena memang memiliki keunggulan kompetitif. 

Riau sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia (6.421.228 ton pada tahun 2012) harus mampu memanfaatkan peluang besar ini untuk mengembangkan produknya ke seluruh negara ASEAN. Namun setali tiga uang dengan pemerintah pusat, pemerintah Riau terkesan membebek dan kurang responsif dalam menanggapi AFTA pada tahun 2015 kemarin.

Sebelum sampai pada permasalahan yang lebih jauh, mari kita bahas penyebab kekhawatiran yang melanda sebagian pihak terhadap produk pertanian lokal kita. Untuk subsektor perkebunan, khususnya industri kelapa sawit yang paling banyak ditemui di Riau, 25% lahan kelapa sawit dikuasai oleh asing, khususnya Malaysia. 


Oleh karena itu, jangan heran bila pertumbuhan produksi kelapa sawit di Riau tidak akan berpengaruh nyata terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Apa dampaknya terhadap AFTA 2015?  Regulasi dan kebijakan yang pro terhadap perusahaan sawit asing menjadikan mereka mendulang untung dari itu. Petani swadaya yang tidak dilindungi tentunya tidak akan mendapati keuntungan dengan diberlakukannya AFTA.



Problematika kedua adalah minimnya daya saing kelapa sawit Riau. Kenyataannya bahwa CPO kita bahkan dihargai lebih rendah bila dibandingkan dengan CPO Malaysia. Penyebabnya menurut saya adalah kurangnya standardisasi dan sertifikasi kelapa sawit yang mengakibatkan tidak adanya pihak yang berani memberikan jaminan mutu. Hal ini mengakibatkan kelapa sawit asing memiliki peluang besar untuk menggempur pasar global dan jauh meninggalkan kita. 



Dilain pihak, kurangnya penggunaan teknologi pada subsektor perkebunan menjadikan produktifitas kelapa sawit di Riau juga semakin rendah. Teknologi sangat dibutuhkan bagi kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing terhadap produk asing.



Untuk subsektor pangan, Riau ibarat telur diujung tanduk. Bagaimana tidak, data produksi padi Riau pada tahun 2002 menunjukkan angka sebesar 356.719 ton, dan pada tahun 2012 tercatat sebesar 434.151 ton. Rata – rata peningkatan produksi padi lokal hanya mencapai 7,16 % tiap tahun. 



Jika dibandingkan dengan peningkatan penduduk Riau pada tahun 2012 yang mencapai 5.929.172 jiwa, tidak akan mampu menutupi kebutuhan pangan. Jika diasumsikan satu orang memerlukan beras sebanyak 10 kg setiap bulan, maka jika dikalikan dengan jumlah penduduk dan dalam periode satu tahun, didapat angka sebesar 711.500 ton beras yang diperlukan. 

Dalam hal ini, Riau telah defisit beras sebesar 61 % dari total produksi dalam daerah. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan beras di Riau jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan produksinya



Setelah membeberkan permasalahan seputar pertanian di Riau, muncul pertanyaan, apakah kita siap menghadapi AFTA 2015 kemarin? Jawabannya tentu berasal dari perspektif kita masing – masing. Masih ada waktu untuk pemerintah pusat dan pemerintah Riau dalam membenahi persoalan akut tersebut. 

Berbagai strategi klasik seperti mengatur kembali tata niaga pangan, mematok harga dasar atau harga pokok pangan yang menguntungkan petani dan konsumen, kebijakan pemberian subsidi pada seluruh tahapan usaha tani juga menjadi alternatif terbaik pemerintah untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian



Selain itu, upaya untuk menciptakan OVOP (One Village One Product) bisa menjadi solusi alternatif untuk meningkatkan nilai keunggulan kompetitif produk pertanian lokal, khususnya di pedesaan. Kita banyak melihat berbagai desa dengan sentra produksi pertaniannya yang khas. 



Namun karena benturan produk asing, tidak sedikit petani dan pengusaha industri kreatif di desa mengalami kegagalan. Berbagai keunggulan produk pertanian lokal yang dihasilkan terutama produk khas tropika dapat menjadi kunci memenangkan persaingan di era AFTA nantinya. Sehingga pada akhirnya kita bisa memperoleh keuntungan dari pemberlakuan AFTA pada tahun 2015 kemarin.


G+

0 Response to "Pengaruh AFTA Terhadap Pertanian Riau : Artikel Politik Pembangunan Pertanian "

Post a Comment