lomba blog traveloka

MAKALAH ANALISIS PROSEDUR PEMBIAYAAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEPUASAN NASABAH (STUDI KASUS BMT PEKANBARU)


makalah analisis prosedur pembiayaan, materi kepuasaan nasabah
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Lembaga keuangan syariah lahir sebagai salah satu alternatif terhadap persoalan pertentangan antara bunga bank dengan riba. Dengan demikian kerinduan umat Islam Indonesia yang ingin melepaskan diri dari riba telah mendapat jawaban dengan lahirnya lembaga keuangan Syariah.

Lembaga keuangan Syariah lahir di Indonesia pada sekitar tahun 90-an atau tepatnya setelah ada peraturan pemerintah no. 72 tahun 1992, direvisi dengan UU No. 10 tahun 1998 dalam bentuk sebuah bank yang beroperasi dengan sistem bagi hasil. Lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu ditandai dengan banyak bermunculan lembaga keuangan syariah yang turut andil dalam perkembangan perekonomian Indonesia.

Banyaknya lembaga keuangan syariah tersebut mengindikasikan adanya antusias masyarakat (nasabah) yang tinggi, sehingga kehadirannya sudah mendapatkan sambutan yang hangat. Sebagai lembaga keuangan syariah, mempunyai peran yang penting untuk menumbuhkan dan meningkatkan sektor riil melalui penyaluaran kredit. Lembaga keuangan syariah adalah lembaga intermediary (perantara) antara pihak surplus dana kepada pihak minus dana. Kemudian tugas utamanya dilihat dari fungsi lembaga keuangan syari’ah yaitu pengumpulan dana (funding), penyaluran dan (financing) dan pelayanan jasa (services) dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat.

Sesuai dengan fungsi lembaga keuangan syariah tersebut, kemudian melahirkan berbagai macam jenis produk pengumpulan dan penyaluran dana oleh lembaga keuangan syariah. Produk pengumpulan dana syariah antara lain: Simpanan / Tabungan Wadiah, Simpanan/ Tabungan Mudharabah, dan Deposito Mudharabah. Produk penyaluran dana meliputi:

Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil (BBA), Pembiayaan Murabahah (MBA), Pembiayaan Mudharabah (MDA), Pembiayaan Musyarakah (MSA), Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT), dan pembiayaan qordhul hasan (QH). (Muhamad, 2004:6-8). Lembaga keuangan di Indonesia terbagi menjadi dua bagian dilihat dari kelembagaannya, yaitu lembaga keuangan yang berada dalam naungan Bank Indonesia (BI) dan dibawah naungan Dinas Perdagangan dan Koperasi (DISPERINDAGKOP).

Dalam penenelitian ini penulis menekankan penelitian pada lembaga keuangan Syariah yang dibawah naungan DISPERINDAGKOP yaitu BMT di Kota Salatiga. Setiap usaha yang dilakukan pada dasarnya mencari keuntungan sebesarbesarnya dengan mengeluarkan biaya yang sekecil-kecilnya. Begitu pula pada sektor perbankan, yang dalam melakukan kegiatan usahanya memerlukan dana dan dana tersebut dioperasikan dalam bentuk pembiayaan yang pada akhirnya mendapatkan pendapatan. Pada umumnya pendapatan dalam bank konvensional berasal dari operasional dengan tingkat suku bunga. Namun dalam lembaga keuangan syariah syariah menggunakan jasa dan bagi hasil. Pembiayaan merupakan salah satu pendapatan yang besar bagi lembaga perbankan. Dan dari sinilah perbankan memperoleh keuntungan berupa bagi hasil dan margin keuntungan dengan prinsip syariah.

Untuk itu, banyak lembaga keuangan syariah yang senantiasa menekankan pada bidang pembiayaan. Kegiatan pembiayaan merupakan kegiatan penyaluran dana dengan berbagai sistem, yaitu meliputi jual-beli, kerjasama, dan juga jasa. Oleh karena itu, kegiatan pembiayaan harus dilakukan secara sistematis serta diperlukan mekanisme serta prosedur yang baik untuk mencapai layanan terpadu yaitu kepuasan nasabah.

Menurut Ohmae (Ario, 2008:xvi) perusahaan dan pesaing secara bersama-sama berkompetisi dalam menghasilkan dan memberi nilai yang lebih bagi pelanggannya. Dengan demikian segala sumber daya yang dimiliki perusahaan diarahkan untuk menghasilkan nilai sesuai yang diharapkan, karena hasil yang lebih baik berarti mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan pesaing. Akan tetapi untuk menyajikan nilai lebih atau superior value, diperoleh melalui berbagai pengembangan inovatif. Dengan demikian sasaran yang harus dicapai dalam mengembangkan strateginya adalah menghasilkan nilai atau pelayanan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan oleh pesaing.

Setiap lembaga keuangan memiliki ciri tertentu dalam beroperasi. Karena sebagai identitas dan juga sebagai langkah untuk mewujudkan ketertarikan nasabah yang pada pencapaianya yaitu kepuasan nasabah. Begitu juga dalam prosedur pembiayaan setiap lembaga perbankan mengalami perbedaan yang pada akhirnya mempengaruhi kepuasan nasabah tersebut. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk menganalisa lebih jauh prosedur pembiayaan dan dampaknya terhadap nasabah pada BMT di Pekanbaru. Untuk itu penulis memberi judul skripsi ini “ANALISIS PROSEDUR PEMBIAYAAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEPUASAN NASABAH (STUDI KASUS DI BMT PEKANBARU)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang akan dibahas, yaitu:
1. Bagaimana prosedur pembiayaan yang dilakukan pada BMT Pekanbaru?
2. Bagaimanakah dampaknya prosedur pembiayaan terhadap kepuasan nasabah pada BMT Pekanbaru?

1.3 Tujuan Penelitian

Yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui prosedur pembiayaan pada BMT Pekanbaru
2. Untuk mengetahui bagaimanakah dampak prosedur pembiayaan terhadap kepuasan nasabah pada BMT Pekanbaru

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberi wawasan tentang ketentuan khusus dan umum, prosedur dan dampaknya terhadap nasabah dalam pengelolaan pembiayaan.
2. Sebagai literatur tambahan dalam menamahi khasanah ilmu pengetahuan serta bahan acuan bagi yang ingin melakukuan penelitian dengan topik serupa.
3. Sebagai evaluasi dalam prosedur pembiayaan terkait dengan nasabah dan juga bagi lembaga yang bersangkutan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Telaah Pustaka

Pada dasarnya suatu penelitian yang akan dibuat dapat memperhatikan penelitian lain yang dijadikan rujukan dalam mengadakan penelitian. Adapun penelitian yang terdahulu diantaranya sebagai berikut: Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Masitoh dengan judul skripsi

“Analisa Komparatif Terhadap Prosedur Pengajuan Pembiayaan UKM pada BMT Tamzis dan Bank Syariah Mandiri”. Karya ilmiah ini membahas tentang perbandingan strategi prosedur pembiayaan yang dilakukan BMT Tamzis yaitu pertama dan wajib menjadi anggota, kemudian survei layak atau tidaknya dengan ketegori yang tidak memiliki kemampuan usaha, yaitu diberikan pembiayaan Qordhul Hasan.

Sedangkan pada Bank Syariah Mandiri yaitu nasabah mengajukan proposal pembiayaan yang berisi data-data pendukung seperti legalitas pribadi atau usaha, laporan keuangan usaha dan data jaminan. Kemudian pihak BSM akan melakukan analisis dengan menggunakan wawancara, call visit (kunjungan laporan), membuat call report (laporan kunjungan) kemudian BSM akan menganalisa keuangan, usaha, karakter, manajemen, yuridis usaha dan jaminan.

Jika kesimpulan analisis tersebut menyatakan layak maka BSM akan membuat Offering Letter yaitu surat persetujuan prinsip pembiayaan (Masitoh, 2010). Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ardhana Koswari dengan judul skripsi “Analisis Perbandingan Prinsip Dan Prosedur Pemberian Kredit Antara Bank Konvensional Daan Bank Syariah (Studi Kasus Pada PT. Bank BNI MAKASAR)”.

Karya ilmiah ini lebih menekankan pada perbandingan yang terjadi. Yaitu meliputi: prosedur yang tidak jauh berbeda, hanya aspek akad, jaminan dan karakter nasabah di Bank Syariah. Bank Konvensional menekankan pada jaminan sedangkan Bank Syariah pada sistem kepercayaan tanpa mengabaikan resiko yang terjadi. Prinsip dasar Bank Syariah dalam perjanjian pembiayaan tidak terdapat riba, namun margin keuntungan yang ditetapkan dimuka berdasarkan kesepakatan bersama dan memandang halalharamnya usaha dalam pembelian terhadap usaha. Sedangkan Bank Konvensional menggunakan bunga dan dalam pembelian suatu usaha tidak memandang halal-haramnya (Ardhana Koswari, 2011).

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Siti Kurniati dengan judul skripsi “Analisis Terhadap Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah (Studi Kasus Pembiayaan Mudharabah Bermasalah Pada Bank BNI Syariah Cabang Semarang Tahun 2010-2011)”. Karya ini memaparkan mengenai prosedur pembiayaan dengan penerapan 5C yaitu character, chapacity, capital, condition dan collateral terhadap pengajuan pembiayaan dan penyelesaian pembiayaan bermasalah secara musyawarah antara pihak kreditor dan debitor serta menerapkan kebijakan rescheduling atau perubahan jadwal dalam mengangsur (Siti Kurniati, 2012). Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Zulfa Raihanatin dengan judul skripsi “Tinjauan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah Di BMT INSANI Di Desa Pringapus Kabupaten Semarang”.

Penelitian ini membahas mengenai tinjauan hukum pembiayaan murabahah yang dilakukan. Dari segi obyek, BMT tidak menyediakan barang karena lebih memudahkan nasabah untuk memilih sesuai keinginannya dan tetap dicek bukti pembeliannya. Selanjutnya segi perwakilan, BMT memberi kebebasan penuh terhadap nasabah atas dasar suka sama suka tanpa menimbulkan kerugian dan segi sighat juga telah memenuhi syarat sighat, akan tetapi praktek jual beli tidak sah karena barang yang diperjual belikan tidak ada pada saat akad dan belum dimiliki pihak BMT (Zulfa Raihanatin, 2010).

2.2 Kerangka Teori
a. Pengertian Prosedur

Menurut Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011:430), prosedur adalah tahap kegiatan untuk menyelesaikan aktivitas. Sedangkan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia (2012), prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau operasi yang harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara yang sama agar selalu memperoleh hasil yang sama dari keadaan yang sama. Menurut Muhammad (Muhammad, 2001:70-75) prosedur operasional pembiayaan secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Pinjaman Baru
a) Karyawan bagian Operasi Pembiayaan menerima dokumen-dokumen dari bagian support pembiayaan yang telah lengkap, yaitu: surat sanggup dan/atau/TTUN (Tanda Terima Uang Nasabah), memo droping, surat kuasa debet, copy up, dan dokumen lainnya. Dan kemudian periksa apakah Account Manager telah membubuhkan parafnya dengan pensil pada dokumen-dokumen tersebut.

b) Menyiapkan Kartu Pinjaman/Pembiayaan berdasarkan copy up (usulan pembiayaan). Kartu pinjaman/pembiayaan mencakup data sebagai berikut: nama debitur, alamat rumah/surat debitur, tanggal diberikan/dropping, angsuran pertama, tanggal jatuh tempo, jangka waktu pembiayaan, debet rekening debitur, tanggal akad, jatuh tempo akad, jumlah nominal, jumlah margin/bagi hasil, segmentasi pembiayaan, nama account manager, nomor akad pembiayaan, tujuan pembiayaan, margin setara, plafond pembiayaan, nilai jaminan.

c) Berdasarkan Menu Dropping menyiapkan lembar Manifold Penarikan Pinjaman/Pembiayaan. Tiket Penarikan Pinjaman/Pembiayaan (PEM.02) terdiri dari 4 Lembar yaitu Lembar Nota Kredit (PEM.02.1/4), Nota Debet (PEM.02.2/4), Nota Kredit (PEM.02.3/4), Nota Kartu kewajiban Nasabah/KKN (PEM.02.4/4). Sedangkan jurnal saat Penarikan/ Pembayaran Pembiayaan yaitu: debet= Pinjaman/Pembiayaan (PEM.02.2/4), kredit= giro/kas/lainnya (PEM.02.3/4).

d) Pada saat dropping/penarikan pinjaman/pembiayaan, debitur dikenakan biaya-biaya antara lain: biaya administrasi, biaya BMBS (Badan Arbitrase Bank Syariah), biaya notaris dan biaya asuransi. Berdasarkan surat Kuasa Debet, siapkan Tiket dan buatkan jurnal: Debet= Rek. Debitur (TU-1) beserta Nota Debet / Debit Advice (TU-2), Kredit= Pendapatan Administrasi (TU-3), Kredit= Biaya BMBS (TU-3) beserta Nota kredit/ Credit Advice (TU-4), Kredit= Titipan Biaya Notaris/Asuransi (TU-5,1/2) beserta reversing (TU-5,2/2).

e) Paraf kartu pinjaman/pembiayaan, tiket/lembar manifold Penarikan Pinjaman dan tiket untuk pendebetan biaya-biaya, kemudian teruskan berikut Surat Sanggup/TTUN, copy up dan dokumen lain kepada karyawan pemeriksa (checker), yang akan memeriksa kebenaran pembukuan dan membubuhkan parafnya pada kartu pinjaman/pembiayaan dan Lembar Manifold Penarikan Pinjaman (tiket).

f) Kepala Bagian/Pejabat Bank membubuhkan tanda tangan pada Lembar Manifold, paraf pada kartu pinjaman/pembiayaan dan tiket biaya-biaya, kemudian mengembalikan semua dokumen tersebut kepada karyawan pinjaman/pembiayaan semula.

g) Meneruskan lembar KKN (dari Lembar Manifold Penarikan Pinjaman/Pembiayaan) kepada karyawan pemegang KKN, yang akan memberi tanda terima dengan jalan membubuhkan paraf pada lembar tickler yang ada.

h) Meneruskan kepada petugas yang akan ditunjuk untuk di file.
• Kartu Pinjaman/Pembiayaan menurut tanggal angsuran (jika perlu dapat defile menurut nisbah bagi hasil keuntungan/mark up terlebih dahulu).
• Copy UP dan dokumen yang lain defile perdebitur sesuai segmentasi pembiayaan dan menurut abjad.
• TTUN dan Surat Sanggup menurut abjad dan dipisah per segmentasi.

2) Perpanjangan Pinjaman/Pembiayaan

a) Terima Surat Sanggup baru, copy up dan dokumen-dokumen lain yang sudah lengkap dari bagian support pembiayaan (yang mana pada dasarnya sama dengan pada waktu penarikan/droping pinjaman/pembiayaan.

b) Mengambil Surat Sanggup lama dan kartu Pinjaman/Pembiayaan. Siapkan kartu Pinjaman/Pembiayaan yang baru berdasar copy up yang baru.

c) Menyiapkan lembar majemuk/manifold penarikan pinjaman/ pembiayaan dan tiket-tiket biaya. Dan jurnal saat perpanjangan pinjaman/pembiayaan: Debet= Pinjaman/pembiayaan, Kredit: Pinjaman/Pembiayaan.

d) Sedangkan untuk pendebetan biaya-biaya, tiket dan jurnalnya sama seperti saat penarikan/droping pinjaman/pembiayaan.

e) Karyawan pemeriksa (checker) akan memeriksa dan membubuhkan parafnya di lembar manifold penarikan pinjaman/pembiayaan dan tiket-tiket biaya serta kartu pinjaman/pembiayaan.

f) Kepala Bagian/Pejabat Bank akan menyetujui dan membubuhkan paraf/tanda tangannya pada kartu pinjaman/pembiayaan serta tiket-tiket biayanya.
g) Mengembalikan Kartu Pinjaman/Pembiayaan dan dokumen-dokumen yang lain kepada karyawan yang memelihara untuk defile bersama kartu pinjaman/pembiayaan yang lain yang masih berjalan (outstanding). File copy up baru menurut abjad dan copy up lama di file terpisah (non current file).

3) Pembayaran Pinjaman/Pembiayaan

a) Setiap hari ambil Kartu Pinjaman/Pembiayaan sesuai tanggal angsuran. Memisahkan Kartu Pinjaman/Pembiayaan bagi debitur yang angsurannya tepat waktu dan yang menunggak, untuk memudahkan membuat laporan keterlambatan.

b) Memeriksa saldo rekening debitur apakah saldonya cukup untuk membayar angsuran pinjaman/pembiayaan atau tidak.

c) Jika ada saldo, menyiapkan lembar manifold Angsuran Pembiayaan (Angsuran 02 1/5). Lembar manifold/tiket angsuran terdiri dari 5 lembar. Yaitu: Tickler Copy (Angsuran 02 1/5), Nota Debet (Angsuran 02 2/5), Debet (Angsuran 02 3/5), Kredit (Angsuran 02 4/5), Kredit (Angsuran 02 5/5). Jurnal saat Pembayaran Angsuran Pinjaman/Pembiayaan: Debet : giro/tabungan Kredit : Pinjaman/Pembiayaan Kredit : Pendapatan Margin Pembiayaan

d) Stempel “tanggal dibayar” pada Kartu Pinjaman/Pembiayaan dan diberi tanda khusus/ di-stabilo untuk memudahkan melihat posisi outstanding pembiayaan.

e) Meneruskan kartu pinjaman/pembiayaan beserta tiket/lembar manifold pembayaran angsuran pinjaman/pembayaan kepada karyawan pemeriksa (checker) yang akan memeriksa kebenarannya dan membubuhkan paraf.

f) Kepala bagian operasi pembiayaan akan menyetujui dan membubuhkan paraf/tanda tangannya pada kartu pinjaman/pembiayaan serta lembar manifold pembayaran angsuran pinjaman/pembiayaan.

g) Meneruskan lembar KKN (dari lembar manifold pembayaran pinjaman/pembiayaan) kepada karyawan pemegang KKN, yang akan membubuhkan parafnya sebagai tanda terima.

4) Pelunasan Pinjaman/Pembiayaan

a) Bagian Operasi Pembiayaan terima memo Pelunasan dari Account
Manager melalui bagian support pembiayaan.

b) Ambil kartu pinjaman/pembiayaan untuk mengecek posisi out-standing terakhir.

c) Cek Saldo rekening debitur.

d) Menyiapkan lembar manifold pelunasan/pembayaran pinjaman/ pembiayaan. Tiket yang digunakan untuk transaksi pelunasan sama dengan tiket untuk transaksi pembayaran angsuran pinjaman/pembiayaan. Jurnal saat pelunasan pembiayaan ialah: Debet = giro/tabungan, Kredit = pinjaman/pembiayaan, Kredit = pendapatan margin pembiayaan.

e) Membukukan dan stempel “tanggal dibayar” dan “lunas” pada kartu pinjaman/pembiayaan.

f) Meneruskan Kartu pinjaman/pembiayaan serta lembar manifold pembayaran pinjaman/pembiayaan kepada karyawan pemeriksa (checker) yang akan memeriksa kebenarannya dan membubuhkan paraf.

g) Kepala Bagian/Pejabat Bank akan menyetujui dan membubuhkan paraf/tanda tangan pada lembar manifold pembayaran angsuran pinjaman/pembiayaan dan kartu pinjaman/pembiayaan.

h) Meneruskan lembar KKN (dari lembar manifold pembayaran pinjaman/pembiayaan kepada karyawan pemegang KKN, yang akan membubuhkan parafnya sebagai tanda terima).

b. Pengertian BMT

BMT merupakan kepedekan dari baitul maal wa tamwil. Secara harfiyyah baitul maal berarti rumah dana dan baitul tamwil berarti rumah usaha. Baitul maal wa tamwil secara makna yaitu merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Sebagai lembaga bisnis, BMT lebih mengembangkan usahanya pada sektor keuangan yakni simpan-pinjam. Namun demikian terbuka luas bagi BMT untuk mengembangkan usahanya pada sektor riil maupun sektor keuangan lain yang dilarang dilakukan oleh lembaga keuangan bank. Karena BMT bukan bank maka di Indonesia badan hukum BMT adalah koperasi.

1) Visi
Visi BMT harus mengarah pada upaya untuk mewujudkan menjadi lembaga yang mampu meningkatkan kualitas ibadah anggota (ibadah dalam arti luas), sehingga titik tekan perumusan BMT adalah mewujudkan lembaga yang profesional dan dapat meningkatkan kualitas ibadah, yaitu berorientasi pada upaya mewujudkan ekonomi yang adil dan makmur.

2) Misi
Misi BMT adalah membangun dan mengembangkan tatanan perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil, maju dan makmur berlandaskan syariah.

3) Tujuan
Didirikannya BMT yaitu bertujuan: meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

4) Sifat
BMT bersifat usaha bisnis dimadkan supaya pengelolaan BMT dapat dijalankan secara profesional. Sedangkan aspek sosial BMT berorientasi pada peningkatan kehidupan anggota yang tidak mungkin dijangkau dengan prinsip syariah.

c. Pengertian Pembiayaan
Pembiayaan adalah suatu fasilitas yang diberikan bank syariah kepada masyarakat yang membutuhkan untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan oleh bank syariah dari masyarakat yang surplus dana (Muhammad, 7: 2004). Pembiayaan adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga (M.Nur, 2010: 42). Menurut undang-undang perbankan No. 10 tahun 1998 pasal 1 ayat 12 pengertian pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan dan kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut dalam jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil (Kasmir, 2001: 97).

Menurut pemanfaatannya, pembiayaan BMT dapat dibagi menjadi dua yaitu: pembiayaan investasi dan pembiayaan modal kerja. Sedangkan menurut sifatnya yaitu: pembiayaan produktif dan pembiayaan konsumtif, macam-macam pembiayaan yaitu:

1) Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Jual Beli
a) Murabahah
Murabahah adalah suatu perjanjian yang disepakati antara bank dan nasabah, dimana bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, yang akan dibayarkan nasabah sebesar harga jual bank pada saat jatuh tempo (Antonio, 1992: 106).

b) Salam
Salam merupakan pembelian barang yanng dananya dibayarkan dimuka, sedangkan barag diserahkan kemudian.

c) Istishna
Istisna merupakan kontrak jual beli barang dengan pesanan. Pembeli memesan barang kepada produsen barang, namun produsen berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang tersebut.

d) Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
Ijarah muntahiya bit tamlik IMBT merupakan perpaduan antara sewa dengan jual beli, yakni sewa menyewa yang diakhiri dengan pembelian karena terjadi pemindahan hak.

2) Pembiayaan dengan prinsip kerja sama
a) Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan mudharabah yaitu hubungan kemitraan antara BMT dengan nasabah yang modalnya 100% dari BMT.

b) Pembiayaan Musyarokah
Pembiayaan musyarokah yaitu kerja sama antara BMT dengan nasabah yang modalnya berasal dari dua belah pihak dan keduanya sepakat dalam keuntungan dan resiko.

3) Pembiayaan dengan Prinsip Jasa
a) Wakalah
Wakalah/wikalah berarti penyerahan, pendelegasian maupun pemberian amanah.

b) Kafalah
Kafalah yaitu mengalihkan taggung jawab seseorang yanng dijamin kepada orang lain yang menjamin.

c) Hawalah
Hawalah/hiwalah berarti penngalihan hutang dari orang berhutang kepada si penanggung.
d) Rahn
Rahn adalah menahan salah satu harta milik nasabah sebagai jaminan atas pembiayaan yang diterimanya.
e) Qard
Qard adalah pemberian harta kepada kepada nasabah yang boleh ditagih kembali atau dengan kata lain pemberian pinjaman tanpa mengharapkan imbalan tertentu.

d. Pengertian Kepuasan Nasabah
Menurut Philip Kotler (1997:36) Kepuasan nasabah adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapannya. Macam-macam atau jenis kepuasan nasabah terbagi menjadi 2, yaitu:

a) Kepuasan Fungsional, merupakan kepuasan yang diperoleh dari fungsi atau pemakaian suatu produk. Misal : karena makan membuat perut kita menjadi kenyang.

b) Kepuasan Psikologikal, merupakan kepuasan yang diperoleh dari atribut yang bersifat tidak berwujud. Misal : Perasaan bangga karena mendapat pelayanan yang sangat istimewa dari sebuah rumah makan yang mewah.

Menurut Philip Kotler (1997:38) ada empat metode yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengetahui tingkat kepuasan nasabah yaitu :

a) Sistem Keluhan Dan Saran
Untuk mengidentifikasikan masalah maka perusahaan harus mengumpulkan informasi langsung dari nasabah dengan cara menyediakan kotak saran. Informasi yang terkumpul untuk memberikan masukan bagi perusahaan.

b) Survei kepuasan nasabah
Survei kepuasan nasabah dapat dilakukan dengan cara survei melalui pos surat, telephone, maupun wawancara pribadi. Dengan metode ini perusahaan dapat menciptakan komunikasi 2 arah dan menunjukkan perhatiannya kepada nasabah.

c) Ghost Shopping Metode ini digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan pesaing dan membandingkannya dengan perusahaan yang bersangkutan.

d) Analisis kehilangan nasabah Tingkat kehilangan nasabah menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan nasabahnya. Perusahaan seharusnya menganalisa dan memahami mengapa nasabah tersebut berhenti mengkonsumsi produk kita.
Menurut Fandy Tjiptono (1997: 35), metode yang digunakan untuk mengukur kepuasan nasabah dapat dengan cara:

a) Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan.

b) Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang dirasakan.

c) Responden diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk menuliskan perbaikan yang mereka sarankan.

d) Responden dapat diminta untuk meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa baik kinerja perusahan dalam masing-masing elemen.

2.3 Kerangka Penelitian

Prosedur pembiayaan yang sesuai akan menciptakan kepuasan bagi nasabah yang melakukan pembiayaan. demikian halnya dalam prosedur pembiayaan di BMT meliputi proses pengajuan permohonan pembiayaan, analisis kelayakan pembiayaan, dan pelunasan atau penyelesaian pembiayaan jika terdapat pembiayaan bermasalah.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif analitik. Menurut Suharsini Arikunto (1996: 21) yaitu suatu penelitian yang hanya menggambarkan keadaan dari obyek yang akan diteliti sehubungan permasalahan obyek yang dibahas.

3.2 Penentuan Sampel

Peneletian ini dalam menentukan sampel dengan Random Sampling. Menurut Sugiono (2010: 120) Random Sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Anggota sampel tersebut ialah 30 nasabah yang melakukan pembiayaan, kemudian 9 sampel yang terdiri dari pengurus dan karyawan di BMT Pekanbaru.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik triangulasi. Menurut Sugiono (2010: 330), teknik triangulasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Tujuan dari triangulasi bukan mencari kebenaran fenomena, namun lebih pada peningkatan pemahaman apa yang telah ditemukan. Dalam pelaksanaannya, peneliti langsung terjun pada obyek penelitian yaitu melalui :

1) Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian dimana data-data tersebut dapat diamati oleh peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan langsung dalam kegiatan pembiayaan pada BMT Pekanbaru.

2) Wawancara
Peneliti melakukan wawancara dengan salah satu pengurus, karyawan dan nasabah untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan pola prosedur operasional pembiayaan serta dampaknya terhadap nasabah pada BMT Pekanbaru.

3) Dokumentasi
Pengumpulan data dengan cara mencari data yang terkait baik dari buku atau yang berupa transkrip, dan lain lain. Pada penelitian ini berupa sejarah berdirinya visi dan misi, struktur organisasi serta job description dari BMT Pekanbaru.

3.4 Definisi Konsep dan Operasional

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia (2012), prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau operasi yang harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara yang sama agar selalu memperoleh hasil yang sama dari keadaan yang sama. Pembiayaan adalah suatu fasilitas yang diberikan bank syariah kepada masyarakat yang membutuhkan untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan oleh bank syariah dari masyarakat yang surplus dana (Muhammad, 7:2004).

Prosedur pembiayaan secara operasional meliputi tiga tahap yakni meliputi pengajuan permohonan pembiayaan, analisis kelayakan pembiayaan dan pemenuhan kewajiban yakni pembayaran angsuran dan juga pelunasan.

Kepuasan nasabah menurut Philip Kotler (1997: 36) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapannya. Kepuasan nasabah secara operasional adalah perasaan senang nasabah dalam prosedur pembiayaan, kemudian akan tetap melakukan pembiayaan lagi di BMT tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Al-arif, Rianto, dan M. Nur. 2010. Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah. Bandung: Alfabeta.
Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syari’ah dari Teori dan Praktik. Jakarta: Gema Insani.
Ardhana . 2011. “Analisis Perbandingan Prinsip Dan Prosedur Pemberian Kredit
Antara Bank Konvensional Daan Bank Syariah (Studi Kasus Pada PT
Masitoh. 2010. “Analisa Komparatif Terhadap Prosedur Pengajuan Pembiayaan
UKM Pada BMT Tamzis Dan Bank Syariah Mandiri”.
Muhammad. 2000. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah. Yogyakarta: UII press Yogyakarta (Anggota IKAPI).
Senoaji, Aryo. 2008. ”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Nasabah (Studi Kasus Pada PT. Bank Mandiri (Persero) di kota Semarang”, http://eprints.undip.ac.id/1744/.pdf akses: 8-12-2014.
Sugiyono. 2010. Metodologi penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif,
kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Wikipedia. 2012. “Pengertian Prosedur Menurut Para Ahli”, dalam
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Prosedur akses : 3-9-2014.

G+

0 Response to "MAKALAH ANALISIS PROSEDUR PEMBIAYAAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEPUASAN NASABAH (STUDI KASUS BMT PEKANBARU)"

Post a Comment