lomba blog traveloka

Makalah Penelitian Kualitatif Lengkap


makalah penelitian kualitatif, penelitian kualitatif makalah, materi penelitian kualitatif, penelitian kualitatif terbaru, penelitian kualitatif lengkap, makalah penelitian kualitatif lengkap, makalah penelitian kualitatif baru, kualitatif penelitian makalah

 BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Penelitian Kualitatif adalah studi yang meneliti kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau berbagai material.Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metedologis. Masalah kuantitatif umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang  sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasa yang tak terbatas.
Penelitian Kualitatif  lebih menekankan pada deskriptif holistik, yang menjelaskan secara detail tentang kegiatan atau situasi apa yang sedang berlangsung dari pada membandingkan efek perlakuan tertentu, atau menjelaskan tentang sikap atau perilaku orang. Menurut Sukmadinata (2005) dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif,  adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, penelitian harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembagan. Untuk itulah, maka seorang peneliti kualitatif hendaknya memiliki kemampuan brain, skill/ability, bravery atau keberanian, tidak hedonis dan selalu menjaga networking, dan memiliki rasa ingin tau yang besar atau openminded.

B.     Rumusan Masalah
1.       Apakah karakteristik penelitian kualitatif ?
2.       Apa saja jenis-jenis penelitian kualitatif ?
3.       Apakah masalah, focus, teori dan subjek penelitian kualitatif?
4.       Bagaimanakah instrument dan teknik pengumpulan data?
5.       Apakah objektifitas, validitas, danreliabilitas penelitian kualitatif?
6.       Bagaimanakah teknik analisis data?

      C.    Tujuan Penelitian
1.       Untuk mengetahui karakteristik penelitian kualitatif
2.       Untuk mengetahui jenis-jenis penelitian kualitatif
3.       Untuk mengetahui masalah, focus, teori dan subjek penelitian kualitatif
4.       Untuk mengetahui instrument dan teknik pengumpulan data
5.       Untuk mengetahui validitas, reliabilitas danobjektifitas penelitian kualitatif?
6.       Untuk mengetahui teknik analisis data

D.    Manfaat Penulisan
1.       Bagi kepentingan menulis sendiri untuk memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan secara teoritis mengenai penelitian kualitatif.
2.       Sebagai bahan imformasi dan bahan kajian dasar bagi para mahasiswa didalam mengadakan penelitian kualitatif.
BAB II PEMBAHASAN

1.    Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.

2.    Memiliki sifat deskriptif analitik
Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi.

3.    Tekanan pada proses bukan hasil
Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

4.    Bersifat induktif
Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.

5.    Mengutamakan makna
Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan tepat.

a)    Penelitian Kualitatif Interaktif

Ada lima macam metode penelitian kualitatif interaktif, yaitu metode etnografis, biasa dilaksanakan dalam antropologi dan sosiologi, metode fenomenologis digunakan dalam psikologi dan filsafat,  studi kasus digunakan dalama ilmu social dan kemanusiaan serta ikmu terapan, teori dasar (grounded theory) digunakan dalam sosiologi, dan studi kritis digunakan dalam berbagai bidang ilmu, metode-metode interaktif ini bisa difokuskan pada pengalaman hidup individu seperti dalam fenomenologi, studi kasus, teori dasar, dan studi kritis, bisa juga berfokus pada masyarakat dan budaya seperti dalam etnografi dan beberapa studi kritikal.

1)   Metode Etnografis

Diantara model umum dari penelitan yang digunakan oleh ilmuan social, etnografi adalah sama dengan antropologi dan secara khusus dengan fungsi teori structural yang bersifat preskriptif. Etnografi terkait dengan konsep budaya (cultural concept). Dengan demikian etnograpi adalah analisis deskripsi atau rekonstruksi dari gambaran dalam budaya dan kelompok (reconstruction of intact cultural scenes and group).

2)   Metode Fenomenologis

Studi Fenomenologis mempunyai dua makna. Sebagai filsafat sains dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan. Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian sikap, penilaian, dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan. Tujuan dari penelitian fenomenologis adalah mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tersebut, penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam yang lama dengan partisipan. Pemahaman tentang persepsi dan sikap-sikap informan terhadap pengalaman hidup subyek sehari-hari diperoleh dengan menggunakan wawancara.

3)   Metode Historis

Studi Historis (historical studies) yakni,meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer kesaksian dari pelaku sejarah yang masih ada, kesaksian yang tidak disengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, dan kesaksian sengaja berupa catatan dan dokumen-dokumen. Penelitian historis menggunakan pendekatan metode dan materi yang mungkin sama dengan penelitian etnografis, tetapi dengan fokus, tekanan dan sistematika yang berbeda. Beberapa peneliti juga menggunakan pendekatan dan metode ilmiah (positivitis) seperti mengadakan pembatasan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan dan analisis data, uji hipotesis dan generalisasi, walaupun sudah tentu dalam keterbatasan-keterbatasan tertentu.

4)   Studi Kasus

Studi kasus (case study) merupakan satu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya. Suatu kasus dapat terdiri atas satu unit atau lebih dari satu unit, tetapi merupakan satu kesatuan.

5)   Teori Dasar

Penelitian teori dasar atau sering disebut juga penelitian dasar atau teori dasar (grounded theory) merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatkan terhadap suatu teori. Penelitian dilakukan dengan menggunkan kualitatif. Walaupun penelitian kualitatif memberikan deskripsi yang bersifat terurai, tetapi dari deskripsi tersebut diadakan abstraksi atau interensi sehingga diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang mendasar yang membentuk prinsip dasar, dalil atau kaidah-kaidah, kumpulan dari prinsip, dalil atau kaidah tersebut berkenaan dengan sesuatu hal dapat menghasilkan teori baru, minimal memperkuat teori yang telah ada dalam hal tersebutStudi Kritis
Model penelitian ini berkembang dari teori kritis, feminis, ras dan pasca modern yang bertolak dari asumsi bahwa pengetahuan bersifat subjektif. Para peneliti kritis memandang bahwa masyarakat terbentuk oleh orientasi kelas, status, ras, suku bangsa, jenis kelamin, dll. Peneliti feniminis dan etnis memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah gender dan ras, sedang peneliti pasca modern dan kritis memusatkan pada institusi social dan kemasyarakatan. Dalam penelitian kritis, peneliti melakukan analisis naratif, penelitian tindakan, etnografi kritis, dan penelitian fenimisme.

b)   PenelitianKualitatif Non Interaktif

Penelitian kualitatif non interaktif (non interactive inquiry) disebut juga penelitian analitis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Sesuai dengan namanya penelitian ini tidak menghimpun data secara interaktif melalui interaksi dengan sumber data manusia. Melainkan, Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sintesis data untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat diamati. Sumber datanya adalah dokumen-dokumen. Ada tiga macam penelitan analitis atau studi non interaktif, yaitu analisis: konsep, historis dan kebijakan.

1.      Analisis Konsep

Analisis konsep merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau plaksana secara beragam, sehingga banyak menimbulkan kebingungan, contohnya: cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi, wajib belajar, belajar sepanjang hayat dan lain-lain.

2.      Analisis Historis

Analisis historis menganalisis data kegiatan, program, kebijakan yang telah dilaksanakan pada masa yang lalu. Penelitian ini lebih diarahkan kepada menganalisis peristiwa kegiatan, program, kebijakan, keterkaitan dalam urutan waktu.

3.      Analisis Kebijakan

Analisis kebijakan menganalisis berbagai dokumen yang berkenaan dengan kebijakan tertentu, kebijakan otonomi daerah dalam pendidikan, ujian akhir sekolah, pembiayaan pendidikan, dsb. Pengkajian diarahkan untuk menemukan kedudukan, kekuatan, makna dan keterkaitan Antar dokumen, dampak, dan konsekuensi-konsekuensi positif dan negatif dari kebijakan tersebut.

1.    Masalah
Masalah dalam penelitian kualitatif  bertumpu pada suatu fokus. Pada dasarnya penentuan masalah menurut Lincoln & Guba (1985 : 226) bergantung pada paradigma apakah yang dianut oleh seorang peneliti. Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah “ yang di bawa oleh peneliti dalam penelitian :
·         Masalah yang di bawa oleh peneliti tetap, sehingga sejak awal sanpai akhir penelitian sama.
·         Masalah yang di bawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah di siapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul penelitian cukup di sempurnakan.
·         Masalah ketidaksesuaian, Dengan demikian judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dengan judulnya diganti. Dalam institusi tertentu, judul yang diganti ini sering mengalami kesulitas administrasi.
Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban (Guba, 1978 : 44; Linclon dan Guba, 1985 : 218 ; dan GubaLinclon, 1981 : 88). Atau masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi.
2.    Fokus
Salah satu asumsi tentang gejala dalam penelitian kuantitatif adalah bahwa gejala dari suatu objek itu sifat tunggal dan parsial. Dengan demikian berdasarkan gejala tersebut peneliti kuantitatif dapat menemukan variable-variabel yang akan di teliti. Dalam pandangan penelitian kualitatif, gejala itubersifat holistic (Menyeluruh tidak dapat di pisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan fariabel penelitian , tetapi keseluruhan situasi social yang di teliti yang meliputi aspek tempat (plase), peleku (actor) dan aktivitas (activity) tang berinteraksi secara sinergis.
Pembatasan dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi feabilitas masalah yang akan di pecahkan selain juga factor keterbatasan tenaga , dana dan waktu. Suatu masalah di katakan penting apabila masalah tersebut tidak di pecahkan melalui penelitian, maka akan semakin menimbulkan masalah baru. Masalah dikatakan urgen (mendesak) apabila masalah tersebut tidak segera di pecahkan melelui penelitian, maka akan semakin kehilangan berbagai kesempatan untuk mengatasi.Masalah dikatakan fasible apabila terdapat berbagai sumber daya untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk menilai masalah tersebut penting, urgen, dan feasible, maka perlu dilakukan melalui analisa masalah.
3.    Teori dalam penelitian Kualitatif
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teoti. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesi, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu apa yang akan dipakai. Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam penyusunan proposal peneliti kualitatif juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti mamasuki lapangan atau konteks social. Dalam kaitannya dengan teori, kalau dalam penelitian kualitatif itu bersifat menguji hipotesis atau teori, sedangkan dalam penelitian kualitatif bersifat menemukan teori.
Walaupun peneliti kulitatif dituntu untuk menguasai teori yang luas dan mendalam , namun dalam melaksanakan penelitian kualitatif, peneliti kualitatif harus mampu melaksanakan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan untuk wawancara, dan observasi. Untuk dapat menjadi instrument penelitian yang baik, peneliti kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan teoritis maupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial yang di teliti yang berupa niai, budaya, keyakinan, hukum, adat istiadat yang terjadi dan berkembang pada konteks sosial tersebut

4.    Subjek
Penentuan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif, dapat menggunakan model criterion-based selection yang didasarkan pada asusmsi bahwa subjek tersebut sebagai aktor dalam tema penelitian yang diajukan. Selain itu dalam penentuan informan, dapat menggunakan model snow ball sampling untuk memperluas subjek penelitian. Hal lain yang perlu diketahui bahwa penelitian kualitatif lebih didasari pada kualitas informasi yang terkait dengan tema penelitian yang diajukan. Penentuan subjek penelitian dapat dilakukan dengan populasi atau sampel.
Cara populasi dilakukan apabila pengambilan subjek penelitian meliputi keseluruhan populasi yanga ada. Cara sampel dilakukan apabila pengambilan subjek penelitian dengan cara menggunakan sebagian populasi yang ada. Namun penelitian kulitatif, biasanya tidak menggunakan sampel sebagai subjek penelitiannya karena dalam penelitian kualitatif, jumlah subjek yang menjadi informannya biasanya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian kuatitatif. Meski demikian, untuk menetukan informan ini, penelliti kualitatif harus memiliki kriteria terrtentu yang dapat memperkuat alasan pemilihan seseorang untuk menjadi subjek penelitiannya. Inilah mengapa dalam penelitian kualitatif kerap mempergunakan teknik purposive sebagai cara untuk menentukan subjek penelitiannya.

1)   Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus “divalidasi”. Validasi terhadap peneliti, meliputi; pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian -baik secara akademik maupun logiknya- (Sugiono,2009:305).
Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiono,2009:306).
Peneliti sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  Ø  peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian
  Ø  peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus,
  Ø  Setiap situasi merupakan keseluruhan artinya tidak ada suatu instrumen berupa test atau angket yng dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia
  Ø  suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata dan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita, peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika, hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau perlakuan (Sugiono 2009: 308).

2)   Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah, misalnya; di lingkungan tertentu dengan berbagai responden, seminar, diskusi, dll. Bila dilihat dari sumber datanya, pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer (sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data) dan sumber sekunder (sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya; lewat orang lain atau lewat dokumen). Bila dilihat dari cara atau teknik pengumpulan data, teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi dan gabungan keempatnya. 
Berikut ini akan diuraikan beberapa teknik pengumpulan data; yaitu:
a)    Pengumpulan Data dengan Observasi
    1)    Macam-Macam Observasi
Sanafiah Faisal (1990) dalam Sugiono (2009:310) mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi, observasi yang secara terang-terangan, dan observasi tak berstruktur. Selanjutnya Spradley (Susan Stainback dalam Sugiono,2009:310) membagi observasi berpartisipasi menjadi empat, yaitu pasive participation, moderate participation, active participation, dan complete participation.
       Berikut ini akan dijelaskan macam-macam observasi tersebut, yaitu;
a)       Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Observasi secara terang-terangan atau tersamar.
b)      Observasi tak berstruktur
Observasi ini tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.observasi ini dipakai karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan (Sugiono,2009: 310-313).

    2)    Tahapan Observasi
  Ø  Observasi deskriptif
Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti sehingga peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Semua data direkam akibatnya hasil observasi disimpulkan dalam keadaan yang belum tertata (kesimpulan pertama).

  Ø  Observasi terfokus
Pada tahap ini peneliti sudah melakukan penyempitan observasi untuk difokuskan pada aspek tertentu. Observasi ini disebut observasi terfokus karena pada tahap ini peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus.
  Ø  Observasi terseleksi
Pada tahap ini, peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci.  Pada tahap ini, peneliti telah menemukan karakteristik, persamaan atau perbedaan, kesamaan antarkategori, serta menemukan pola hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain(Sugiono,2009:315-317). 
b)   Pengumpulan Data dengan Wawancara
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiono,2009:317) dan dengan wawancara, peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi yang tidak mungkin bisa ditemukan melalui observasi (Sugiono,2009:318).
Macam-macam wawancara, antara lain:
§   wawancara terstruktur
Pada wawancara ini, pengumpul data  telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawaban telah disiapkan, responden diberi pertanyaan yang sama kemudian  pengumpul data mencatatnya, alat bantu yang digunakan biasanya tape recorder, gambar, brosur, dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancer
§   wawancara semiterstruktur
Pelaksanaan wawancara menggunakan model ini lebih bebas daripada wawancara terstruktur yaitu narasumber diminta pendapat dan ide-idenya karana tujuan wawancara ini untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka,
§   wawancara tidak berstruktur
Wawancara tidak berstruktur adalah wawancara yang bebas, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data-datanya. Pedoman wawancara hanya menggunakan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. pengumpulan data dengan Kuisoner/Angket
Menurut (James P. Chaplin dalam Kartono, 2009;217) menyatakan:
Angket merupakan satu set pertanyaan yang berurusan dengan satu topik tunggal yang saling berkaitan, yang harus dijawab oleh subjek. Kuisoner ini digunakan untuk penyelidikan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak), dengan cara mengedarkaan formulir daftar pentanyan, diajukan secara tertulis kepada subjek untuk mendapatkan jawaban (tanggapan,respons) tertulis seperlunya.


             1.   Uji Validitas
Pengertian sederhana validitas adalah bagaimana memilih alat ukur yang sesuai dengan objek penelitian. Sebagai contoh; untuk mengukur berat kita dapat menggunakan timbangan. Jika Anda membeli buah semangka, maka kita akan menggunakan timbangan. Pun ketika Anda hendak membeli perhiasan seperti emas, Anda menggunakan timbangan pula.  Tentunya Anda tidak bisa menukar alat timbangan emas untuk menimbang semangka ataupun sebaliknya. Mengapa? Karena pemilihan alat tersebut berkaitan dengan akurasi terhadap hasil pengukuran. Demikian kira-kira perumpaan apa itu validitas. Rumusan yang sering digunakan dalam menghitung validitas adalah korelasi product moment dan untuk menguji validitasnya dibandingkan nilai hitung dengan tabel.
Untuk menguji validitas instrumen, yang umum digunakan adalah Korelasi Pearson (Korelasi Sederhana, Korelasi Produk Momen, Korelasi Momen Tangkar). Caranya dengan menghitung koefisien korelasi antara masing-masing nilai pada nomor pertanyaan dengan nilai total dari nomor pertanyaan tersebut. Nilai koefisien korelasi ini diuji signifikansinya. Dapat digunakan uji r atau uji t

              2.      Uji Reliabilitas
Statistik ini berkaitan dengan ukuran waktu dan keajegan alat. Sebagai contoh; Ketika Anda memilih penggaris sebagai alat pengukur panjang, maka penggaris ini harus menghasilkan pengukuran yang sama jika dipakai untuk mengukur panjang dan lebar kertas A4 (21 x 29,7 cm). Jika di beberapa tempat dan waktu tertentu Anda mendapatkan hasil berbeda dari hasil pengukuran kertas A4, maka itu artinya instrumen yang Anda gunakan belum Reliabel. Rumus yang digunakan untuk menghitung reliabilitas ada beberapa pilihan tergantung dari jenis instrumen yang kita gunakan. Ada rumus split half/belah dua, guttman, Kuder-Richardson 20 (KR-20), KR-21, atau rumus Alpha Cronbach.
Yang diuji reliabilitasnya hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang valid saja. Metode yang digunakan ada 2 macam, yaitu : teknik ukur ulang, dan teknik sekali ukur.
Teknik sekali ukur terdiri atas : Teknik Genap Gasal, Belah Tengah, Belah Acak, Kuder
Richadson, Teknik Hoyd, dan Alpha Cronbach.
              a)      Teknik Ukur Ulang
Caranya pengukuran dilakukan 2 kali. Data hasil pengukuran pertama dan kedua dihitung korelasi Pearsonnya. Jika koefisien korelasi signifikan artinya instrumen tersebut handal.
              b)      Teknik Genap Gasal
Caranya, pertanyaan dikelompokkan menjadi kelompok genap dan kelompok gasal. Kelompok genap dikorelasikan dengan kelompok gasal dengan korelasi Pearson. Selanjutnya nilai koefisien korelasi yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus korelasi genap gasal (r gg).     
               c)      Teknik Belah Tengah
Caranya butir pertanyaan yang valid diberi nomor urut bitir pertanyaan yang baru.,kemudian dikelompokkan menjadi 2 kelompok. Jika butir pertanyaan yang valid jumlahnya ganjil, butir pertanyaan yang di tengah dikelompokkan ke kekelompok Iatau II. Kemudian kelompok I dan II dikorelasikan dengan Korelasi Pearson. Selanjutnya seperti cara genap gasal.
               d)     Teknik Belah Acak
Caranya sama dengan teknik genap gasal dan belah tengah. Bedanya
pengelompokkan nomor pertanyaan yang valid dilakukan secara random (acak).  
               e)      Teknik Kuder Richardson
Teknik ini hanya cocok untuk pengukuran responden yang responnya berbentuk dikotomi, misalnya : benar salah, ya tidak, setuju tidak setuju, dan sebagainya. Teknik ini dasarnya juga menggunakan teknik korelasi.
               f)       Teknik Hoyd
Teknik ini tidak mensyaratkan seperti Teknik Kuder Richardson. Teknik ini
perhitungannya menggunakan sidik ragam (Analisis V
ariansi).
               g)      Teknik Alpha Cronbach
Teknik ini penggunaannya bebas seperti halnya Teknik Hoyd, dan analisisnya juga menggunakan analisis Sidik Ragam (Analisis Variansi).               
               h)      Analisis Faktor Konfirmatori
Metode ini yang terbaru untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen
pengumpul data yaitu dengan menggunakan analisis faktor konfirmatori. Cara analisisnya dengan menghitung faktor louding yang mirip dengan korelasi antara indikator dengan variabel laten.
              3.      Objektivitas
Penelitian harus memperhatikan sifat objektif dari kegiatan penelitiannya, yaitu suatu sifat yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk mencapai objektivitas itu, penelitian Peneliti harus menggunakan perangkat yang tepat guna, yang dalam bahasa penelitian disebut sebagai alat yang bersifat valid. Maksudnya adalah alat yang tepat dan tajam di dalam mengukur sesuatu yang ditelitinya. Untuk mendapatkan oyektivitas ini, para peneliti harus mampu menanggalkan subyektivisme, baik subyektivisme yang datang dari pihak peneliti, maupun subyektivisme yang datang dari sasaran penelitian. Agar objektivitas tersebut dapat diperoleh, maka para peneliti harus mampu menampilkan indikator atau alat ukur yang valid, dan sekaligus menggunakannnya. Dengan alat yang valid, yang tepat dan yang sesuai itu, maka peneliti akan terpandu ke arah perolehan hasil penelitian yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, atau paling tidak mendekati keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui seberapa besar suatu hasil penelitian dapat menunjukkan keadaan yang sebenarnya, peneliti perlu pula melakukan cara-cara mengukur tingkat kepercayaan atau apa yang biasa disebut dengan istilah reliabilitas. 

                F.      TEKNIKANALISIS DATA
1)      Analisis Data Sebelum Dilapangan
Analisis dalam tahap ini dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan oleh sekunder yang akan digunakan peneliti untuk menentukan fokus penelitian. Akan tetapi, focus penelitian pada tahap ini masih sementara, dan tentunya akan berkembang setelah peneliti melakukan penelitian dilapangan . dalam penyusunan proposal, peneliti menentukan focus peneliti untuk mencari sumber data, termasuk karakteristiknya.
2)      Analisis Data Selama Dilapangan
Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara atau observasi. Misalnya pada saat dilapangan, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban dari responden. Jika peneliti belum puas dengan jawaban dari responden, maka peneliti bias melanjutkan pertanyaan lagi sampai batas tertentu diproleh dari data yang valid.

3)      Analisis Data Selesai Dilapangan
Analisis data dibagi menjadi beberapa bagian yaitu sebagian berikut:
Ø  Analisis domain yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi social
Ø  Analisis taksonomi adalah penjabaran secara rinci dari analisis domain melalui observasi terfokus
Ø  Analisis komponensial adalah mencari cirri spesifik pada setiap detil struktur internal
Ø  Analisis tema cultural yaitu mencari hubungan antara domain dan hubunganya dengan seluruh komponen, akhirnya dapat menentukan tema/judul penelitia


BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran, orang secara individual maupun kelompok, berguna untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada penyimpulan. Penelitian kualitatif bersifat induktif, peneliti membiarkan permasalahanpermasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan. Penelitian kualitatif tidak berangkat dari dan untuk menguji teori, tetapi membangun teori, meskipun demikian mustahil peneliti kualitatif tidak memerlukan teori. Dalam konteks ini, fungsi teori dalam suatu kerja penelitian kualitatif digunakan untuk “menjelaskan atau mengklarifikasi” kecenderungan fenomena-fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran, subjek yang diteliti. Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori

      B. Saran
Demikianlah penyusun makalah ini, kamisadar bahwa dalam penyusunan makalah masih banyak kekurangan,karena keterbatasan kemampuan kami atau kurangnya referensi. Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini berguna bagi para pembacanya dan bisa menambah ilmu pengetahuan kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.

G+

0 Response to "Makalah Penelitian Kualitatif Lengkap"

Post a Comment