lomba blog traveloka

Bagaimana Cara Mahasiswa (Anak Kampus) Membagi Waktu Kuliah dan Organisasi

Tips dan Cara Mahasiswa (Anak Kampus) Membagi Waktu Kuliah dan Organisasi | Kosngosan | Padatnya jadwal kuliah kerap membuat mahasiswa malas ikut kegiatan lain dan memilih bersantai di rumah atau kamar kos. Padahal, ikut organisasi selama di kampus sangat penting, bahkan menjadi nilai tambah saat melamar kerja usai lulus.

Cara Mahasiswa Anak Kampus Membagi Kuliah Organisasi

Bagi mahasiswi Universitas Indonesia (UI), Alsya Thesia, mengatur waktu kuliah dan berorganisasi bukan hal yang sulit. Menurut dia, yang terpenting adalah komitmen dan mau bertanggung jawab.

"Enggak susah bagi waktu karena sudah biasa. Kita tetap bisa punya waktu dengan keluarga tanpa harus meninggalkan tanggung jawab di kuliah atau organisasi."

Tak tanggung-tanggung, mahasiswi semester lima ini bergabung dalam AIESEC, sebuah organisasi mahasiswa internasional yang juga terdapat di berbagai kampus di seluruh Indonesia. Kesibukannya makin bertambah karena bergabung di sejumlah kepanitiaan lainnya.

Tips Membagi Waktu Ala Mahasiswa

"Kalau aku biasanya bikin perjanjian. Ketika memang istirahat atau sama keluarga, aku enggak mau diganggu. Tapi, harus meninggalkan organisasi dengan penuh tanggung jawab. Kalau ada yang perlu dokumen atau apa, mereka harus tahu cari di mana meski aku enggak ada," jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh mahasiswi UI lainnya, Dio. Bergabung di organisasi mahasiswa yang sama dengan Alsya, dia pun harus pintar membagi waktu. "Kita juga harus fokus sama organisasi yang diikuti. Walaupun sibuk, tapi aku sebentar lagi mau lulus, tinggal sidang," tandas mahasiswi angkatan 2013 itu.

Nah, studi kasus diatas yang mimin rangkum dari okezone, mengingatkan kita tentang bagaimana cara mengatur waktu dengan disiplin? Bagaimana menghindari pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak disiplin mengelola waktu?

Coba perhatikan kehidupan mahasiswa. Untuk apa waktu yang paling banyak dihabiskan? Mahasiswa yang mengambil 20 SKS mata kuliah masih mempunyai sekitar 20 jam waktu tersisa, bila asumsinya waktu efektif adalah 40 jam seminggu.

Dengan asumsi itu artinya pagi sebelum jam 8 dan sore hingga malam di atas jam 5 tidak dihitung sebagai waktu efektif. Juga akhir pekan, belum ditambahkan. Katakanlah waktu efektifnya adalah 40 jam seminggu seperti orang bekerja. Lalu bagaimana sisa waktu 20 jam lagi dihabiskan? Mahasiswa pembaca tulisan ini bisa menghitung ulang.

Dugaan saya sebagian besar waktu itu habis dipakai untuk nongkrong, ngobrol, chatting, atau main game. Sangat sedikit mahasiswa yang mengisi waktu di sela kuliahnya dengan membaca, berdiskusi, berlatih bahasa Inggris, atau menulis.

Ketika saya ingatkan tentang rentang skill yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk di dalamnya kemampuan bahasa Inggris, hampir semua mahasiswa terpana.

Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah separo jalan di semester 6 atau 7 masih belum yakin soal skill yang sudah mereka miliki. Bahasa Inggris mereka masih tergagap-gagap. Kemudian mereka panik. Selama ini aku ngapain aja?

Lalu mereka sadar betapa banyak waktu telah terbuang. Aku selama ini sudah menyia-nyiakan waktu. Tapi bagaimana cara agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

Dalam usaha memikirkan pengaturan waktu dengan disiplin itu mereka sadar bahwa pengaruh teman membuat mereka sulit disiplin. Ajakan untuk nongkrong dan ngobrol begitu sulit dihindari. Bagaimana menghindarinya?

Bagaimana solusinya? Saya selalu bilang, aturlah sebuah mimpi besarmu. Punyalah tujuan atau goals. Ini sebenarnya pesan utama pada setiap anak kuliah dan pelajar. Tetapkan tujuan, mau jadi apa, mau kerja apa setelah lulus kelak. Ingatkan diri sendiri bahwa kuliah harus diakhiri, dan setelah itu kita harus bekerja.

Setelah menetapkan tujuan, susunlah rencana terjangka untuk mencapainya. Itu dimulai dengan mengumpulkan informasi soal skill yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu.

Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menjadi instrument engineer harus tahu skill dan kualifikasi apa saja yang diperlukan seorang instrument engineer. Demikian pula bagi yang ingin menjadi diplomat, wartawan, atau pengusaha.

Lalu susunlah rencana untuk mengumpulkan skill itu dalam format rencana tahunan, per semester, bulanan, mingguan, dan harian. Kemudian lakukan mekanisme PDCA, plan-do-check-action terhadap rencana itu.

Mahasiswa banyak menyia-nyiakan waktu karena memang tidak pernah merencanakan untuk mengisi waktunya. Agenda mereka selain kuliah selalu kosong. Maka mereka selalu menganggap waktu di luar kuliah adalah waktu bebas. Makanya mereka melewatkannya dengan santai.

Seseorang dengan tujuan dan rencana punya agenda untuk dilakukan hari ini, besok, minggu depan, dan seterusnya. Di pagi hari ia akan menyusun agenda soal apa saja yang harus dikakukan hari ini. Ada target yang harus dicapai.

Setelah kuliah jam 9 saya harus melakukan ini, sampai jam 12. Kemudian ada kuliah sampai jam 3, setelah itu saya akan melakukan itu. Orang dengan rencana seperti ini akan fokus mengerjakan hal-hal yang sudah ia rencanakan, dan tidak akan menyia-nyiakan waktunya.

Tapi bagaimana menghindari godaan dari teman-teman? Kalau tidak bergabung nanti dianggap tidak solider dan bisa dikucilkan.

Perhatikan bahwa hampir setiap mahasiswa mengeluh seperti itu. Saya tidak disiplin karena pengaruh teman. Kalau semua mahasiswa yang tidak disiplin mengaku akibat pengaruh teman, lantas siapa sebenarnya yang mempengaruhi?

Sebenarnya mereka itu adalah kumpulan orang-orang yang tidak disiplin dan saling mempengaruhi. Tapi mereka selalu merasa diri mereka terpengaruh oleh orang lain. Inilah yang disebut dengan perspektif korban.

Maka tinggalkanlah perspektif korban itu dengan bersikap proaktif, tumbuhkan perspektif bertanggung jawab.

Tanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility. Response-ability. Artinya seseorang yang bertanggung jawab adalah orang yang bisa memilih respons dia terhadap suatu keadaan di depannya.

Seorang mahasiswa yang bertanggung jawab selalu bisa memilih, mengikuti ajakan nongkrong dari teman, atau menjalankan rencana yang sudah dia susun untuk hari ini. Orang dengan perspektif korban selalu menganggap dirinya dalam posisi tidak punya pilihan. Padahal ia punya pilihan. Hanya saja, ia tidak menyukai resiko-resiko atas pilihan tersebut.

Setiap pilihan patilah punya resiko. Memilih untuk tidak nongkrong bisa jadi akan dikucilkan, atau setidaknya terlewatkan dari obrolan seru. Itu sebuah resiko yang sangat tidak disukai anak muda.

Padahal, memilih untuk nongkrong juga punya resiko, yaitu tidak tercapainya target membangun skill tadi. Yang ini sebenarnya resiko yang jauh lebih besar, karena menyangkut masa depan.

Maka saya selalu anjurkan untuk berhenti bersikap dengan perspektif korban. Jadilah orang yang bertanggung jawab, yang membebaskan diri mengatur respons yang akan dipilih dengan kesadaran atas resiko yang diambil pada setiap pilihan. Be the captain of your own life.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa mengatur waktu dengan disiplin? Ini dia langkah dan caranya :

Tetapkan tujuan, sederhananya mau kerja apa setelah lulus nanti.
Susun rencana untuk mengumpulkan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan tadi. Buat rencananya sampai detil dengan target di setiap jangka waktu.
Jalankan rencana itu, lakukan evaluasi pencapaian target setiap selang waktu tertentu. Lakukan tindakan koreksi bila target tidak tercapai. 
Kembangkan sikap proaktif dan bertanggung jawab. Aku bebas memilih setiap tindakan, dan aku siap menghadapi resikonya. Aku adalah kapten dalam kapal kehidupanku!

Langkah-langkah inilah yang disebut PDCA sebelumnya.

Mimin merangkum artikel mengenai Bagaimana Cara Mahasiswa (Anak Kampus) Membagi Waktu Kuliah dan Organisasi ini dari portal news.okezone.com dan dari tulisan Hasanudin Abdurakhman yang bersumber dari : abdurakhman.com



G+

0 Response to "Bagaimana Cara Mahasiswa (Anak Kampus) Membagi Waktu Kuliah dan Organisasi"

Post a Comment