Makalah Ekonomi Pertanian Permintaan Penawaran Pertanian Jurusan Agribisnis

Makalah Ekonomi Pertanian Permintaan Penawaran Pertanian Jurusan Agribisnis


Makalah Ekonomi Pertanian Permintaan Penawaran Pertanian

Oleh : 

Muhammad Reza Harahap

BAB. I PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

Di setiap transaksi perdagangan dalam hasil pertanian, pasti terdapat suatu permintaan (demand), penawaran (supply), harga dan kuantitas  akan produksi pertanian yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Permintaan dan penawaran dalam produksi pertanian akan saling bertemu dan akan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas (jumlah barang).

Pemasaran dalam kegiatan pertanian memainkan peran ganda. Pertama, berperan sebagai sumber terbentuknya harga produk pertanian, yang mempertemukan kepentingan produsen dengan konsumen. Kedua, menjadi media perpindahan fisik dari titik produksi (petani atau produsen) ke tempat pembelian (konsumen). Dalam hal ini, petani mesti mampu mensinergikan kedua aspek tersebut, sehingga mampu memperoleh hasil produksi yang maksimal.

1.2. Tujuan

1. Mengetahui pengertian permintaan dan penawaran pertanian
2. Mengetahui pengertian permintaan dan penawaran individu dan agregat
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran
4. Mengetahui pergeseran kurva permintaan dan penawaran
5. Mengetahui pengertian elastisitas, dan hubungannya terhadap permintaan dan penawaran



BAB. II LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Permintaan (Demand) dan Penawaran (Suppy)

Permintaan dan penawaran dalam ilmu ekonomi, adalah merupakan suatu penggambaran atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual terhadap suatu barang.

    Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan penawaran adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisa ekonomi mikro terhadap perilaku para pembeli dan penjual, serta interaksi mereka di pasar. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagai model dan teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.



BAB. III PEMBAHASAN

3.1. Permintaan dan Penawaran Terhadap Hasil Pertanian

Ekonomi pertanian merupakan ilmu sosial (kemasyarakatan) yang penting ditinjau dari kemanfaatannya, area disiplinnya dan hubungannya dengan disiplin ilmu lainnya.
Masalah ekonomi pertanian yang pokok bersumber pada kebutuhan manusia yang tidak terbatas akan produk-produk pertanian, sedangkan sumber daya (faktor produksi) pertanian yang digunakan untuk menghasilkan produk-produk pertanian tersebut bersifat terbatas (langka).

    Ruang lingkup disiplin ekonomi pertanian sangat luas, yang secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi kegiatan berproduksi, konsumsi, pemasaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

    Ekonomi pertanian sebagai ilmu kemasyarakatan tidak dapat berdiri sendiri melainkan memerlukan ilmu-ilmu lain sebagai alat untuk menganalisis, menginterpretasikan dan menghubung-hubungkan persoalan-persoalan di bidang pertanian baik mikro maupun makro. Ilmu-ilmu lain yang dimaksud dapat bersumber pada bidang ilmu pertanian maupun bidang ilmu ekonomi.

    Penerapan prinsip-prinsip ekonomi di bidang pertanian memerlukan beberapa pendekatan, antara lain pendekatan deduktif-induktif, mikro-makro, konsumsi-produksi, positif-normatif.

    Pertanian memegang peranan yang penting dalam pembangunan sektor pertanian maupun
 sektor non-pertanian. Pembangunan perekonomian negara-negara yang berbasis pertanian tetapi mengabaikan sektor pertanian dalam proses pembangunannya akan dapat mengalami stagnasi ekonomi. Karena selain memberikan kontribusi dalam pengembangan pangan, tenaga kerja dan modal dalam sektornya sendiri, sektor pertanian juga menyediakan pasar bagi barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor non-pertanian


3.2. Permintaan dan Penawaran Individu dan Agregat

3.2.1. Permintaan Individu dan Agregat

Pada dasarnya, perbedaan penawaran individu dengan agregat adalah pada skala permintaan barang atau jasanya. Pada penawaran individu, konsumen dianggap adalah individu perseorangan, sehingga ruang lingkupnya kecil.

    Sementara, permintaan agregat (AD) adalah jumlah barang dan jasa yang akan dibeli oleh konsumen rumah tangga, perusahaan dan pemerintah, pada tingkat harga tertentu, jumlah pendapatan tertentu, serta variabel-variabel tertentu lainnya.

    Unsur-unsur yang mendorong permintaan agregat antara lain: tingkat harga, jumlah pendapatan masyarakat, perkiraan situasi yang akan datang, sistem perpajakan, jumlah pengeluaran pemerintah dan sebagainya.

3.2.2. Penawaran Individu dan Agregat

Produksi atau jumlah output yang ditawarkan oleh perseorangan kepada konsumen disebut dengan penawaran individu. Secara garis besar, perbedaan antara penawaran individu dengan penawaran agregat sama halnya dengan perbedaan permintaan individu dengan permintaan agregat. Dalam hal pertanian, produksi individu menyangkut petani yang memproduksi hasil pertanian secara swadaya.

    Penawaran agregat (AS) adalah jumlah output yang akan diproduksi dan dijual oleh kalangan bisnis pada harga yang berlaku, pada kapasitas produksi tertentu dan dengan biaya-biaya tertentu.Perusahaan-perusahaan berkeinginan berproduksi pada tingkat output potensial. 

    Namun, pada tingkat harga pengeluaran rendah, produsen akan menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang lebih kecil dari tingkat output potensial. Sebaliknya, pada tingkat harga dan pengeluaran tinggi, produsen akan menghasilkan barang dan jasa lebih besar dari output potensialnya untuk sementara.Penawaran agregat ditentukan oleh jumlah input atau faktor produksi, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam dan teknologi.


3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Penawaran

3.3.1. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

1. Harga barang, jika harga makin tinggi maka permintaan makin rendah dan begitu sebaliknya jika harga barang rendah maka permintaan akan barang tersebut makin tinggi.
2. Pendapatan masyarakat, makin tinggi pendapatan seseorang maka makin besar daya beli yang ia miliki, sehingga permintaan akan barang dan jasa pun meningkat, dan begitu sebaliknya.
3. Selera masyarakat, jika selera masyarakat meningkat maka permintaan pun meningkat pula, dan sebaliknya. Selera masyarakat sering disebut mode atau tren.
4. Kualitas barang, makin tinggi kualitas suatu barang maka keinginan (permintaan) orang untuk dapat memiliki barang tersebut makin besar.
5. Harga barang lain yang berkaitan, harga barang lain yang dimaksud ini adalah barang substitusi. Yaitu barang pengganti yang sama fungsinya dengan barang yang dibutuhkan.
6. Waktu, pada waktu-waktu tertentu permintaan terhadap barang dan jasa bisa meningkat dari pada hari-hari bisa, seperti pada saat lebaran atau hari-hari besar/istimewa yang lain.
7. Jumlah penduduk, semakin besar jumlah penduduk maka makin besar pula permintaan terhadap barang dan jasa, dan sebaliknya.
8. Kejadian yang akan datang, isu sering kali dikembangkan untuk mempengaruhi permintaan agar dapat meningkat, seperti adanya berita tentang kenaikan BBM, kenaikan sembako dll.

3.3.2. Faktor yang Mempengaruhi Penawaran

1. Tinggi rendahnya tingkat bunga
2. Tingkat pendapatan masyarakat
3. Jumlah penduduk
4. Keadaan letak geografis
5. Struktur ekonomi masyarakat
6. Penguasaan IPTEK penduduk
7. Globalisasi ekonomi

3.4. Pergerakan Kurva Permintaan dan Penawaran

3.4.1. Pergerakan Kurva Permintaan

Kurva permintaan menunjukkan hubungan antara harga suatu produk dengan kuantitas yang diminta.  Permintaan ber-slope negatif terhadap harga (hukum permintaan).  Dengan kata lain, ketika harga naik permintaan akan turun, dan ketika harga turun permintaan akan naik. Beberapa faktor yang dapat memepengaruhi pergeseran kurva permintaan:

1. Rata-rata pendapatan konsumen. Apabila pendapatan naik, setiap orang akan cenderung mengkonsumsi lebih/membeli lebih banyak barang meskipun harga barang tidak berubah.
Contoh perubahan kurva permintaan akibat perubahan pendapatan :

Pendapatan masyarakat mula-mula Rp.30,00 jumlah yang diminta 40 unit. Pendapatan meningkat Rp.40,00 jumlah permintaan naik menjadi 50 unit. Pendapatan turun menjadi Rp.20,00 jumlah permintaan menjadi 30 unit.
2. Ukuran pasar. Kota yang populasinya lebih besar cenderung akan membeli lebih banyak daripada kota yang populasinya kecil.

3. Harga dan ketersediaan produk-produk yang berkaitan. Salah satunya yang penting adalah produk substitusi. Misalnya saja, permintaan akan mobil berukuran sedang akan rendah apabila harga mobil berukuran kecil murah.

4. Selera. Berbagai perbedaan sejarah dan budaya akan mempengaruhi selera konsumen. Produk tertentu mungkin laku di suatu wilayah, namun tidak di wilayah lainnya. Perbedaan ini juga dapat berupa kebutuhan psikologi tertentu, pakaian dan makanan khas daerah, rokok, mobil mewah, dan lain sebagainya.

5. Pengaruh-pengaruh khusus. Misalnya saja, permintaan ketupat menjelang lebaran, baju renang menjelang musim panas, payung menjelang musim hujan, dan transportasi publik ketika harga parkir/bensin sangat mahal.
    Secara garis besar, pergerakan kurva permintaan bisa dilihat pada gambar diatas. Kurva permintaan dari garis D ke garis D1 menunjukan bahwa peningkatan permintaan dapat mempengaruhi tingkat harga suatu komoditas. Perusahaan akan cenderung meningkatkan harga suatu komoditas, pada saat permintaan atas komoditas tersebut meningkat. hal itu dilakukan untuk meningkatkan profit perusahaan.

3.4.2. Pergerakan Kurva Penawaran

Kurva penawaran menunjukkan hubungan harga suatu produk dengan kuantitas yang ditawarkan.  Kurva penawaran ber-slope positif, jika harga naik maka kuantitas penawaran akan bertambah, dan sebaliknya. Beberapa faktor yaitu :

1. Tingkat teknologi yang digunakan. Teknologi berkaitan erat dengan biaya produksi. Semakin rendah biaya produksi atas suatu produk, semakin banyak jumlah yang diproduksi/dijual.

2. Harga input. Semakin rendah harga inputnya, semakin banyak kuantitas yang bersedia diproduksi.

3. Harga produk yang berkaitan. Berlaku untuk output substitusi. Misalnya jika model A lebih laku dan/atau harganya naik, maka kapasitas untuk memproduksi model B akan dialihkan untuk menambah produksi model A.

4. Kebijakan pemerintah. Kebijakan akan mempengaruhi biaya produksi, dan pada akhirnya mempengaruhi kuantitas yang bersedia diproduksi.

5. Pengaruh-pengaruh khusus. Misalnya cuaca yang mempengaruhi produksi pertanian, dorongan yang tinggi akan inovasi menghasilkan produk inovatif, dll.

    Secara umum, kurva pergerakan penawaran dilihat seperti pada gambar diatas. Kurva penawaran bergerak ke arah kiri tersebut menunjukan peningkatan penawaran yang disebabkan kelangkaan barang yang tersedia di pasar dengan tingkat permintaan yang tetap. Kelangkaan persediaan barang di pasar tersebut mengakibatkan kenaikan harga komoditas tersebut.

3.5. Elastisitas Permintaan dan Penawaran

3.5.1. Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan berguna untuk mengukur seberapa banyak permintaan barang dan jasa (konsumsi) berubah ketika harganya berubah. Elastisitas permintaan ditunjukkan dalam bentuk persentase perubahan atas kuantitas yang diminta sebagai akibat dari satu persen perubahan harga.

3.5.1.1. Koefisien Elastisitas Permintaan

Perhitungan koefisien elastisitas permintaan dengan menggunakan metode mid point adalah sebagai berikut : Ed = % perubahan kuantitas diminta / % perubahan harga
                                        
Keterangan :
ED = Elastisitas permintaan
Q2 = Kuantitas permintaan setelah perubahan
Q1 = Kuantitas permintaan awal
P2 = Harga setelah perubahan
P1 = Harga awal

Dalam perhitungan koefisien elastisitas ini, angka minus tidak perlu ditulis karena kita telah mengetahui bahwa antara harga dan permintaan berslope negatif. Artinya, kenaikan harga akan menurunkan permintaan, dan sebaliknya. Contoh : Apabila harga es krim naik dari $2 menjadi $2,2 dan jumlah pembelian turun dari 10 batang menjadi 8 batang, maka elastisitas permintaan :                 
    Koefisien sebesar 2,32 menunjukkan bahwa perubahan harga sebesar 1 persen akan menimbulkan perubahan permintaan sebesar 2,32 %. Elastisitas permintaan memiliki hubungan negatif (arahnya berbalikan), yaitu ketika harga naik permintaan akan turun, vice versa.

3.5.1.2. Faktor Penentu Elastisitas Permintaan

Ada empat faktor utama dalam menentukan elastisitas permintaan :

1. Produk substitusi.
Semakin banyak produk pengganti (substitusi), permintaan akan semakin elastis. Hal ini dikarenakan konsumen dapat dengan mudah berpindah ke produk substitusi jika terjadi kenaikan harga, sehingga permintaan akan produk akan sangat sensitif terhadap perubahan harga.

2. Persentase pendapatan yang dibelanjakan.
Semakin tinggi bagian pendapatan yang digunakan untuk membelanjakan produk tersebut, maka permintaan semakin elastis. Produk yang harganya mahal akan membebani konsumen ketika harganya naik, sehingga konsumen akan mengurangi permintaannya. Sebaliknya pada produk yang harganya murah.

3. Produk mewah versus kebutuhan.
Permintaan akan produk kebutuhan cenderung tidak elastis, dimana konsumen sangat membutuhkan produk tersebut dan mungkin sulit mencari substitusinya. Akibatnya, kenaikan harga cenderung tidak menurunkan permintaan. Sebaliknya, permintaan akan produk mewah cenderung elastis, dimana barang mewah bukanlah sebuah kebutuhan dan substitusinya lebih mudah dicari. Akibatnya, kenaikan harga akan menurunkan permintaan.

4. Jangka waktu permintaan dianalisis.
Semakin lama jangka waktu permintaan dianalisis, semakin elastis permintaan akan suatu produk. Dalam jangka pendek, kenaikan harga yang terjadi di pasar mungkin belum disadari konsumen, sehingga mereka tetap membeli produk yang biasa dikonsumsi. Dalam jangka panjang, konsumen telah menyadari kenaikan harga, sehingga mereka akan pindah ke produk substitusi yang tersedia.

3.5.2. Elastisitas Penawaran

Elastisitas harga penawaran mengukur seberapa banyak penawaran barang dan jasa berubah ketika harganya berubah. Elastistas harga ditunjukkan dalam bentuk persentase perubahan atas kuantitas yang ditawarkan sebagai akibat dari satu persen perubahan harga.

3.5.2.1. Koefisien Elastisitas Penawaran

Perhitungan koefisien elastisitas permintaan dengan menggunakan metode mid point adalah sebagai berikut :

Es = % perubahan kuantitas penawaran / % perubahan harga

Keterangan :
ES = Elastisitas penawaran
Q2 = Kuantitas penawaran setelah perubahan
Q1 = Kuantitas penawaran awal
P2 = Harga setelah perubahan
P1 = Harga awal

3.5.2.2. Faktor Penentu Elastisitas Penawaran

1. Kemampuan penjual/produsen merubah jumlah produksi.
Ini berkaitan dengan biaya dan kapasitas produksi. Penawaran akan cenderung tidak elastis apabila salah satu dari hal-hal berikut terjadi :
a. Biaya produksi untuk menaikkan jumlah penawaran besar. Misalnya jika produksi saat ini telah mencapai skala ekonomis dan biaya rata-rata minimal, maka penambahan satu unit produksi akan menambah biaya rata-rata dan mengakibatkan produksi berada dalam skala tidak ekonomis.
b. Kapasitas produksi telah terpakai penuh, sehingga penambahan kapasitas akan memerlukan pabrik/mesin baru, misalnya, yang membutuhkan investasi besar.
Sementara penawaran akan cenderung elastis jika yang terjadi adalah sebaliknya.

2. Jangka waktu analisis.
Pengaruh waktu analisis terhadap elastisitas penawaran dibedakan menjadi tiga :
- Jangka waktu yang sangat singkat. Pada jangka waktu yang sangat singkat, penjual/produsen tidak dapat menambah penawarannya, sehingga penawaran menjadi tidak elastis sempurna.
- Jangka pendek. Kapasitas produksi tidak dapat ditambah dalam jangka pendek, namun perusahaan masih dapat menaikkan produksi dengan kapasitas yang tersedia dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang ada. Hasilnya, penawaran dapat dinaikkan dalam persentase yang relatif kecil, sehingga penawaran tidak elastis.
- Jangka panjang. Produksi dan jumlah penawaran barang lebih mudah dinaikkan dalam jangka panjang, sehingga penawaran lebih bersifat elastis.

3. Stok persediaan.
Semakin besar persediaan, semakin elastis persediaan. Ini karena produsen dapat segera memenuhi kenaikan permintaan dengan persediaan yang ada.

4. Kemudahan substitusi faktor produksi/input.
Semakin tinggi mobilitas mesin (atau kapital lainnya) dan tenaga kerja, semakin elastis penawaran. Semakin elastis mobilitas kapital dan tenaga kerja, semakin mudah produsen memenuhi perubahan permintaan yang terjadi. Ini karena kapital dan tenaga kerja ebih fleksibel, sehingga dapat ditambah atau dikurangi sewaktu-waktu dibutuhkan.


BAB. IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Permintaan pertanian adalah sejumlah produksi pertanian yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan penawaran pertanian adalah sejumlah produk hasil pertanian yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu. Jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus), maka hukum permintaan dalam ekonomi menyatakan bahwa makin tinggi tingkat harga suatu barang, maka semakin sedikit jumlah barang yang diminta, dan sebaliknya, makin rendah harga suatu barang maka makin banyak jumlah barang yang diminta.

4.2. Saran

Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman bisa memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan dalam penulisan dan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis pada khususnya dan para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

http://masud.lecture.ub.ac.id/files/2012/07/06-Elastisitas-Permintaan-dan-Penawaran.pdf
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.03 WIB)
http://yasinta.wordpress.com/2008/07/30/elastisitas-permintaan-dan-penawaran/
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.13 WIB)
yasinta.wordpress.com/2008/…/permintaan-dan-penawaran/
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.13 WIB)
http://duniabaca.com/faktor-yang-mempengaruhi-permintaan-dan-penawaran-uang.html
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.14 WIB)
KOMPAS, Senin, 4 Februari 2013
http://agsicentre.wordpress.com/2012/07/12/penawaran-dan-permintaan-agregat/
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.15 WIB)
http://ocw.usu.ac.id/course/download/511-EKONOMI MAKRO/sep_204_slide_minggu_ke_-_12_:_penawaran_agregat.pdf
(Diakses pada tanggal 28 April 2013, Pukul 01.15 WIB)
Ratya Anindita, dkk : Ekonomi Pertanian



LAMPIRAN

1. Jumlah Permintaan Meningkat Picu Kenaikan Cengkeh

TEMPO.CO, Malang - Harga cengkeh terus melambung hingga menyentuh Rp 120 ribu per kilogram dari normalnya Rp 60-80 ribu per kilogram. Padahal, industri rokok yang juga menggunakan cengkeh sebagai bahan baku selain tembakau, selama ini mematok harga cengkeh maksimal Rp 70 ribu per kilogram.  "Karena harga cengkeh naik terus, pengusaha rokok kecil merugi dan terancam gulung tikar," kata Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto, di Malang, kemarin. 

    Menurut Heri, pengusaha rokok skala kecil terancam bangkrut karena tak bisa menaikkan harga rokok dengan tiba-tiba. Hal ini berbeda dengan perusahaan rokok besar yang bermodal kuat dan bisa mengatur harga jual produk lebih murah.  Heri khawatir kenaikan harga cengkeh akan mengancam produsen rokok keretek. Pada 2009 jumlah pabrik rokok keretek mencapai 2.500 perusahaan, kini menyusut hanya 1.500 perusahaan. 

    Kementerian Pertanian mengatakan, kenaikan harga cengkeh disebabkan tingginya permintaan untuk bahan baku industri. Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian, Azwar AB, mengatakan, selama ini hampir 90 persen produksi cengkeh nasional memenuhi kebutuhan industri rokok.

Menurut dia, harga naik ini juga kemungkinan disebabkan petani banyak yang menahan hasil produksinya untuk tidak dijual. "Dulu kan petani sistemnya panen jual. Sekarang karena tahu harga bagus jadi dijemur lama dan disimpan," kata Azwar ketika dihubungi, Senin, 7 Januari 2013.  

2. Diplomasi Hortikultura Dimulai Dari Dalam Negeri

KOMPAS, Senin, 4 Februari 2013 - Nilai impor produk hortikultura tahun 2007 hanya 798 juta dollar AS, naik menjadi 1,7 miliar dollar AS tahun 2011. Nilai impor produk hortikultura pada Januari-Juli 2012 saja mencapai 1 miliar dollar AS atau setara Rp 10 triliun. Lebih separuh dari nilai impor hortikultura tahun 2012, yakni 600 juta dollar AS, disumbang oleh impor buah.

    Hal yang memiriskan bahwa impor buah Indonesia tidak hanya berupa buah subtropis, seperti apel merah, anggur, pir, dan kiwi, tetapi juga buah tropis yang dimiliki Indonesia, seperti durian dan nangka. Pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan impor yang dimaksudkan memberikan perlindungan kepada petani hortikultura di dalam negeri. Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan secara berkala mengeluarkan beberapa ketentuan impor hortikultura.

    Dinamika ekonomi hortikultura ini menjadi lebih menarik ditelusuri karena justru AS yang resmi melaporkan Indonesia ke WTO, bukan China yang menjadi pemasok buah impor ke Indonesia. Nilai impor hortikultura Indonesia dari AS hanya 120 juta dollar AS per tahun. Tidak lebih 12 persen dari total impor hortikultura. Bahkan, nilai impor daging Indonesia dari AS juga hanya 3,5 persen dari total daging sapi impor yang 417 juta dollar AS.

    AS terkesan berlebihan saat ”urusan kecil” seperti itu sampai harus diselesaikan pada tingkat diplomasi ekonomi melalui lembaga DSB (Dispute Settlement Body). Tidak ada pilihan bagi Indonesia, kecuali segera menjawab protes AS itu dalam 60 hari, sebelum meningkat menjadi permintaan arbitrase yang lebih rumit dan menguras energi.

    Dukungan pembiayaan bagi petani hortikultura perlu segera diwujudkan sebelum Juni 2013. Skema pembayaran pelaku usaha ritel dan supermarket kepada petani perlu disederhanakan, dengan rentang waktu yang diperpendek, jika perlu secara tunai. Pembenahan aransemen kelembagaan ini lebih efektif untuk menggairahkan produksi dan meningkatkan produktivitas hortikultura. Inilah esensi diplomasi ekonomi hortikultura di pasar domestik. 

5. Pabrik Rokok Diminta Tambah Kuota Permintaan Tembakau

Wikha Setiawan

Selasa,  26 Februari 2013  −  14:38 WIB
Sindonews.com - Ketua DPRD Temanggung, Bambang Sukarno mengatakan, selama ini pihaknya telah berusaha mengadakan pendekatan ke sejumlah pabrik rokok untuk selalu menambah kuota permintaan tembakau.

    Sementara Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung, Masrik Amin Zuhdi menjelaskan, luas tanaman tembakau tahun 2013 diperkirakan mencapai 13.000 hektar yang tersebar di 14 kecamatan sentra tembakau meliputi Parakan, Candiroto, Ngadirejo, Tembarak, Kedu, Kledung, Wonoboyo dan Tretep. Selain itu juga di Kecamatan  Bulu, Bansari, Temanggung, Selopampang, Tlogomulyo dan Jumo.

    Sedangkan untuk menjaga dan mempertahankan kemurnian tembakau Temanggung, pihaknya sudah menyiapkan empat  bibit varitetas tembakau. Varietas tersebut yakni Kemloko I, II, III dan Sindoro.

    Menurutnya, bibit tembakau varietas unggulan tersebut telah diproduksi 50 kg yang disiapkan untuk membantu kebutuhan benih bagi petani secara gratis. Direncanakan pada tahun 2014 mendatang bakal ditingkatkan menjadi 100 kg supaya stoknya lebih banyak.

    “Produksi tembakau rajangan pada musim panen 2013 diperkirakan mencapai 9.100 ton. Sedangkan kuota pembelian dari pabrik rokok  sekitar 12.300 ton sehingga optimis seluruh produksi bakal terserap oleh pabrik karena masih di bawah kuota yang diminta," tandasnya.


Buka Komentar