Gambut dan Industri Kelapa Sawit Dalam Perspektif Mahasiswa Pertanian Riau

Gambut dan Industri Kelapa Sawit Dalam Perspektif Mahasiswa Pertanian Riau

Baca juga :

Pendidikan lahan gambut yang berimbang

Gambut dan Industri Kelapa Sawit Dalam Perspektif Mahasiswa Pertanian Riau - Bagi seorang mantan mahasiswa (dibaca : alumni) agribisnis seperti saya, eksistensi gambut dan industri kelapa sawit telah menjadi suatu pembahasan klasik yang selalu masuk dalam pelbagai mata kuliah yang saya ambil. Terlebih saya tinggal di kota Pekanbaru. Ibu kota provinsi Riau ini menjadi salah satu kota yang sering terpapar asap dari pembakaran lahan gambut akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit.

Masih segar diingatan saya pada bulan Oktober tahun 2015 silam, ketika saya berstatus sebagai mahasiswa, hampir seluruh aktifitas warga Pekanbaru mengalami kelumpuhan akibat kualitas udara yang sudah mencapai level "sangat berbahaya".  Kondisi penjuru kota yang sudah ditutupi asap tebal sangat berdampak buruk bagi kesehatan. Asap ini juga telah mengganggu aktifitas ekonomi dan pendidikan warga, karena saat itu pemerintah kota tengah meliburkan instansi pemerintahan dan sekolah - sekolahnya.

Eksploitasi lahan gambut untuk kepentingan industri kelapa sawit di Riau memang menjadi sebuah dilema. Mengapa saya mengatakan demikian? Bagaikan memakan buah simalakama, alih fungsi lahan gambut diklaim sebagai langkah efisiensi pengoptimalan fungsi lahan marginal. Dilain pihak, dampaknya terhadap lingkungan secara long term telah merusak ekosistem dan mengganggu stabilitas iklim global.

Lahan Gambut memang sangat menggoda. Terlihat "murah" bagi kalangan kapital, tetapi "mahal" bagi aktifis lingkungan. Hal ini yang memantik pertentangan karena adanya perbedaan kepentingan kapital dengan penggiat lingkungan. Tetapi apakah ini menjadikan kita tidak bisa merestorasi lahan gambut?

Perbedaan kepentingan haruslah dibahas dalam suatu kesepakatan bersama. Diperlukan juga peran serta pemerintah sebagai pihak yang berwenang dalam perumusan kebijakan, fasilitator serta pendukung utama dari restorasi gambut nasional.  Nah, menurut saya, kita bisa melakukan berbagai langkah seperti :

1. Pendidikan lahan gambut yang berimbang

Adanya pembakaran lahan gambut dikarenakan pengetahuan sepihak yang mengatasnamakan kepentingan ekonomi yang melukai nilai-nilai lingkungan. Diperlukan pendidikan terhadap gambut yang berimbang, yakni memberikan informasi mengenai manfaat gambut secara ekonomi dan lingkungan kepada masyarakat, khususnya pelaku perkebunan.

2. Perbaikan sistem pembukaan lahan

Langkah pembenahan mesti dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam melakukan pembukaan ataupun replanting di lahan gambut. Subyek seperti buruh, asisten, kepala afdeling sampai jajaran tertinggi harus bersinergi dalam mengelola lahan gambut secara berkelanjutan.

Menurut Lulie Melling, peneliti Tropical Peat Research Laboratory Soil Malaysia, pemahaman bahwa teknik pembukaan lahan gambut dengan cara membakar yang diyakini berbiaya jauh lebih murah sebenarnya salah kaprah. Daya kapiler tanah gambut akan menurun ketika dibakar, sehingga tanah akan menjadi kering dan mudah terbakar. Kerugiannya justru lebih besar, karena selain kering dan menjadi mudah terbakar, produktivitas lahan akan menurun sehingga hasil produksi juga sedikit.

Dengan begitu kita bisa menyimpulkan bahwa dengan tidak membakar gambut, sebenarnya kita sudah melakukan investasi lahan dalam jangka panjang.

Adanya oknum yang melakukan pembakaran gambut dengan dalih disuruh oleh atasan tentunya  dikarenakan kurangnya kesadaran dan lemahnya pengontrolan oleh lembaga terkait. Oleh karena itu diperlukan langkah selanjutnya dalam memperbaiki manajemen lahan gambut kita.

3. Penegakan hukum yang tegas

Dua tahun lalu saya teringat viralnya konten meme seorang hakim, yang mengatakan "bakar hutan itu tidak merusak lingkungan hidup, karena masih bisa ditanami lagi". Lucu yah, tapi memang itulah kenyataannya. Lemahnya hukum terhadap pelaku "sebenarnya" dari pembakaran hutan dan gambut masih terjadi di negeri ini.

Penegakan hukum yang tegas

Tentunya ini menjadi tantangan dan komitmen kita semua untuk menegakkan hukum yang berkeadilan. Jangan sampai ada pihak - pihak tertentu yang memiliki kekuasaan dan modal, bisa dengan seenak hati membakar hutan dan gambut dengan dalih penghematan anggaran.

4. Aplikasi pantau gambut

Untungnya, ketiga langkah restorasi gambut tersebut akan diperkuat dengan adanya sistem aplikasi pantau gambut. Saya sendiri sangat mengapresiasi situs pantaugambut.id untuk terus mengembangkan konten terkait pantau gambut demi menjaga lahan gambut yang akhir - akhir ini terus mengalami kerusakan.

Saya berharap pantaugambut.id segera mengembangkan perangkat aplikasi mobile platform Android dan iOS untuk pengguna smartphone yang memberikan fungsi seperti lapor gambut, forum gambut, pemetaan gambut dan berbagai fitur yang berguna untuk kepentingan restorasi gambut nasional. Penggunaan aplikasi ini dirasa perlu karena memungkinkan user berperan dalam mengontrol aktifitas di lahan gambut.

Terakhir, saya sebagai sarjana pertanian dengan disiplin ilmu agribisnis selalu optimis untuk dapat mengatasi permasalahan gambut ini secara berimbang. Tuntutan "bisnis" dalam artian ekonomi dan "agri" dengan defenisi lingkungan selalu menempatkan saya dalam perspektif jalan tengah. Kita bisa jaya dengan perkebunan, tetapi cinta lingkungan!

Buka Komentar