Makalah Teori Belajar Konstruktivisme dan Humanistik

Makalah Teori Belajar Konstruktivisme dan Humanistik

Konstruktivisme dan Humanistik

MAKALAH TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DAN HUMANISTIK

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saat ini terdapat beragam teori didalam dunia pendidikan yang dikemukakan oleh berbagai pakar pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Diantaranya teori tersebut adalah teori Konstruktivisme dan Humanistik. Pemiliham pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya.

Meski ada banyak teori pembelajaran yang diciptakan untuk memudahkan guru dalam memahamkan materi kepada siswa tapi pada realitanya pemebalajaran dikelas masih dominan mengguakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memebrikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, oleh karena itu seorang guru perlu memperhatikan konsep awal sebelum memulai pembelajaran.

Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar serta memberikan pemahaman yang telah mendalam kepada siswa terkait materi yang diajarkan, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Maka dari permasalahan kami menjelaskan tentang pendekatan konsep teori belajar Konstruktivisme dan Humanistik bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam pembelajaran

Teori belajar konstruktivistik merupakan pembelajaran yang menekankan pada proses dan lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide peserta didik. Tak lain halnya dngan teori belajar Humanistik yang bertujuan untuk memanusiakan manusia artinya seorang siswa mampu mengembangkan dirinya dengan mengenal diri mreka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka

Rumusan Masalah

A. Apa itu teori belajar?
B. Bagaimana pendekatan teori belajar Konstruktivisme?
C. Bagaimana pendekatan teori belajar Humanistik?

Tujuan Penulisan

A. Untuk mengetahui apa itu teori belajar
B. Untuk mengetahui pendekatan teori belajar Konstruktivisme
C. Untuk mengetahui pendekatan teori belajar Humanistik

BAB II PEMBAHASAN

Teori Belajar

Pengertian teori belajar merupakan suatu kegiatan seseorang untuk mengubah perilaku mereka. Seluruh kegiatan belajar selalu diikuti oleh perubahan yang meliputi kecakapan, keterampilan dan sikap, pengertian dan harga diri, watak, minat, penyesuaian diri dan lain sebagainya. Perubahan tersebut meliputi perubahan kognitif, perubahan psikomotor, dan perubahan afektif1
Teori belajar berpangkal pada pandangan hakikat manusia. Yaitu hakikat manusia menurut pandangan john locke yaitu manusia merupakan organisme yang pasif. Locke menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih , hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, seingga membantu kita semua memahami proses intern yng kompleks dalam belajar.

Teori Belajar Konstruktivisme

Sebenarnya pandangan konstruktivis ini bukanlah hal baru akan tetapi merupakan penggabungan dari berbagai pendekatan. Fosnot(1996) mengatakan konstruktivisme adalah teori tentang pengetahuan dan belajar, yang menguraikan tentang apa itu “mengetahui” (knowing) dan bagaimana seseorang “menjadi tahu” (comes to knew), konstruktivis memandang ilmu pengetahuan bersifat non-objective, temporer, dan selalu berubah. Hal ini sesuai dengan pendapat radical constructivists yang menyatakan bahwa pengetahuan itu terbentuk dalam struktur koginis si pembelajar, bukan berada secara terpisah diluar diri si pembelajar. Pengetahuan selalu mengalami perubahan sejalan dengan proses asimilasi dan akomodasi, karena itu guru harus memberikan kesempatan pada si pembelajar untuk membangun konsep yang akurat tentang pengetahuan tersebut.

Dalam perspektif konstruktivisme” belajar suatu proses pengaturan dalam diri sesorang yang berjuang dalam konflik antara model pribadi yang telah ada dan hasil pemahaman yang baru tentang dunia ini sebagai hasil konstruksinya, manusia adalah makhluk yang membuat makna melalui aktivitas social, dialog, dan debat).

Konstruktivisme adalah integrasi prinsip yang dieksplorasi melalui teori xhaos, network, dan teori kekompleksitas dan organisasi diri. Belajar adalah proses yang terjadi dalam lingkungan samar-samar dari peningkatan elemen-elemen inti tidak seluruhnya dikontol oleh individu. Belajar (didefenisikan sebagai pengetahuan yang dapat ditindak) dapat terletak diluar diri kita (dalam organisasi atau seluruh database), terfokus pada hubungan serangkaian informasi yang khusus, dan hubungan tersebut memungkinkan kita belajar lebih banyak dan lebih penting dari pada keadaan yang kita tahu sekarang.

Dengan demikian, belajar menurut konstruktivisme dapat dirumuskan sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkret, melaui aktivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Aktivitas yang demikian memungkinkan si pembelajar memiliki pemahaman yang berbeda tehadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam menginterprestasikannya. Pembelajaran merupakan aktivitas pengaturan lingkungan  agar terjadi proses belajar, yaitu interaksi si pembelajar dengan lingkungannya.

Inti dari kegiatan pembelajaran dalam hal ini adalah penataan lingkungan belajar. Lingkunagn belajar berarti tempat dimana si pembelajar dapat bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain, sebagaiman mereka menggunakan berbagai sarana dan sumber informasi dalam mencapai tujuan belajar dan aktivitas pemecahan masalah (wilon, 1996). Sedangkan tujuan belajar menurut konstruktivisme adalah menanamkan pada diri si pembelajar rasa tanggung jawab dan kemandirian, mampu mengembangkan studi, penyelidikan dan pemecahan masalah nyata, kebermaknaaan berdasarkan situasi nyata, dan menggunakan aktivitas belajar dinamik yang dapat meningkatkan pada lever operasi tingkat tinggi.

1. Ciri-Ciri Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut Eggen dan Kauchak (1997), ada empat ciri teori konstruktivisme, yaitu :
a. dalam proses belajar, individu mengembangkan pemahaman sendiri, bukan menerima pemahaman dari orang lain,
b. proses belajar sangat tergantung pada pemahaman yang dimiliki sebelumnya,
c. belajar difasilitasi oleh interaski social,
d. belajar yang bermakna (meaningful learning) timbul dalam tugas –tugas belajar yang autentik.

2. Prinsip –Prinsip Teori Belajar Konstruktivisme
Adapun prinsip-prinsip konstruktivisme yang diungkapkan seimens (2005) adalah:
a. Belajar dan pengetahuan terletak pada keberagaman opini.
b. Belajar adalah suatu proses menghubungkan (connecting) sumber-sumber informasi tertentu.
c. Belajar mungkin saja teletak bukan pada alat-alat manusia
d. Kapasitas untuk mengetahui lebih bnyak merupakan hal yang lebih penting dari pada apa yang diketahui sekarang.
e. Memelihara dan menjaga hubungan antara bidang-bidang, ide-ide, dan konsep merupakan inti keterampilan
f. Saat ini (pengetahuan yang akurat dan up-to-date) adalah maksud dari semua aktivitas belajar konetivistik.
g. Penentu adalah proses belajar itu sendiri. Pemilihan atas apa yang dipelajari dari makna dari informasi yang masuk nampak melalui realita yang ada.
Dari beberapa pandangan konstruktivisme yang ada, ada dua pandangan yang mendominasi, yaitu:
a. Teori individual cognitive constructivist (Jean Piget)
Teori ini dikemukan oleh Jean Piaget (1977). Teori ini berfokus pada konstruksi internal individu terhadap pengetahuan. Pengetahuan tidak berasal dari lingkungan social, akan tetapi interaksi social penting sebagai stimulus terjadinya konflik kognitif internal pada individu. Cognitive constructivist  menekankan pada aktivitas belajar yang ditentukan oleh si pembelajar dan berorentasi penemuan sendiri.

Untuk menggambarkan pengetahuan, pieget menggunakan salah satu dari tiga istilah itu yaitu : scheme, konsep dan struktur. Sebuah scheme dapat berbentuk fisik atau mental dan biasa digambarkan sebagai tindakan atau proses yang digunakan secara berulang-ulang oleh seorang anak untuk mencapai tujuan atau mengatasi masalah. Berbeda dengan scheme, konsep bukan merupakan prosedur yang diarahkan pada tujuan tapi lebih sebagai bentuk pemahaman yang meliputi hubungan diaman hal-hal atau adpek-aspek dari hal-hal itu. Misalnya, konsep waktu yang meliputi hubungan antara kecepatan dan jarak. Konsep hanya dimiliki oleh anak-anak yang sudah cukup besar dan orang dewasa dan dibentuk dengan cara abstaksi terhadap objek dan situasi yang berbeda-beda struktur adalah sesuatu yang memiliki bentuk dan isi. Bentuk strukutur pengetahuan merupakan organisasi  pandangan-pandangan.

Teori ini juga mengemukakan tahap-tahap perkembangan pribadi serta penambahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut piaget, perkembangan kapsitas mental  memberikan kemampuan –kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Dalam hal ini, perkembangan kognitif manusia melalui 4 (empat) tahap yaitu (1): tahap sensori motoris (1-2 tahun ), dimana anak belum mempunyai konsepsi tentang objek secara tetap. Ia hanya dapat mengetahui halhal yang ditangkap melaui indranya. (2) tahap preoperasioal (2-7 tahun), dimana anak mulai timbul perkembangan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai, (3) tahap operasional konkret (7-11 tahun), dimana anak telah dapat berfikir konkret dan (4) tahap operasional formal (11-15 tahun), dimana anak telah mempunyai pemikiran abstrak pada bentuk-bentuk yang kompleks.

Pieget memeplopori gagasan konstruktivisme menurutnya, bahwa ekspose anak-anak pada dunia sekitarnya dan aktivitas –aktivitas mereka menyebabkan mereka menciptakan rintisan mental kearah pandangan yang dikembangkan lebih utuh. Pikiran anak-anak mengambil komponen rintisan ini dan membangun pandangan yang lebih baik. Selama tahun 1960-an hingga 1970-an, teori piaget merupakan teori dominan perkembangan kognitif dalam lapangan psikologi perkembangan dan pendidikan.

Implikasi teori piegat dalam praktek pendidikan dinyatakan dalam bentuk dua prinsip, yaitu (1) agar siswa mampu menciptakan struktur mental mereka, pertamanya harus diinternalisasikan schema-schema tindakan dengan melaksanakannya secara berulang-ulang untuk mencapai suatu tujuan, dan (2) berfikir pada tiap level perkembangan memiliki cirri yang unik karenanya perlu dipertimbangkan ketika mendesain program pendidikan.

b. Teori socialcultural constructivist (Lev Vygotsky)
Teori ini dikemukan oleh lev vygotsky. Teori ini berpandangan bahwa pengetahuan berada dalam konteks social, karenannya ditekankan pentingnya bahasa dalam belajar yang timbul dalam situasi –situasi social yang beorentasi pada aktivitas.

Menurut vygotsky , anak-anak hanya belajar dengan cara terlihat langsung dalam aktivitas-aktivitas bermakna dengan orang-orang yang lebih pandai. Dengan berinteraksi dengan orang lain anak memperbaiki pemahaman dan pengetahuan mereka dan membantu membentuk pemahaman tentang orang lain. Strategi-strategi pembelajaran yang didasarkan pada teori Vygotsky ini menempatkan pembelajar dalam situasi dimana bahan pelajaran yang diberikan benda dalam jangkauan perkembangan mereka berkaitan dengan ini, vygotsky mengemukakan sebuah konsep yang disebut Zone of Proximal Development (ZPD).

ZPD adalah level kecakapan melibihi apa yang dapat dilakukan sendiri oleh anak didik dan menunjukkan rentang  tugas belajar yang dapat dkerjakan jika dibantu oleh orang dewasa atau teman sebaya yang berkompeten. Dibawah zona tersebut anak didik dapat melaksanakan tugas-tugas tanpa bantuan, dalam zona tersebut bantuan tambahan diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas dengan berhasil, diatas zona tersebut meski bantuan tambahan yang telah diberikan tetap tidak akan berhasil. Zona tersebut menunjukkan rentang  tugas dimana seorang guru dapat membantu perkembangan anak didik secara produktif.

Menurut eggen dan kauchak (1997), penerapan ZPD dalam pembelajaran mencakup tiga tugas, yaitu: (1) pengukuran, (2) pemilihan aktivitas belajar, dan (3) pemberian dukungan pembelajaran untuk membantu siswa melalui zonanya secara berhasil.

Teori vygotsky memiliki empat implikasi pendidikan yang utama, yaitu:
1. Guru harus bertindak sebagai scaffold yang memberikan bimbingan yang cukup untuk membantu anak-anak mencapai kemajuan
2. Pembelajaran harus selalu berupaya “mempercepat”lebih penguasaan terkini anak
3. Untuk menginternalisai keterampilan pada anak –anak pembelajaran harus berkembang dalam empat fase, yaitu: fase pertama, guru harus menjadi model dan memberikan komentar verbal mengenai apa yang mereka lakukan dan alasannya. Pada fase kedua, siswa harus berupaya mengimitasi apa yang dilakukan guru. Pada fase ketiga, guru harus mengurangi intervensinya secara progresif begitu siswa telah menguasai keterampilan tersebut. Keempat, guru dan siswa secara berulang-ulang mengambil peran secara bergiliran.
4. Anak – anak pelu berulang-ulang dihadapkan dengan konsep-konsep ilmiah agar konsep spontan mereka menjadi lebih akurat dan umum.

3. Kelebihan dan kekurangan teori belajar konstruktivisme
Kelebihan dalam teori belajar konstrutivisme adalah sebagai berikut :
a. Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menemukan idea dan membuat keputusan.
b. Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
c. Ingat : Oleh karana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
d. Kemahiran sosial : Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru.
e. Motivasi : siswa teerlibat langsung, memahami, ingat, yakin dan saling berinteraksi, mereka akan merasa termotivasi belajar dalam memperoleh pengetahuan baru.
Kekurangan dari teori belajar konstruktivisme adalah sebagai berikut:
a. Siswa mengkostruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
b. Konstruktivisme mananamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membeutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda,
c. Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasaran yang membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.
d. Meskipun guru hanya menjaadi motivator dan memediasi jalannya proses belajar, tetapi guru harus memiliki prilaku yang elegan dan arif sebagai spirit bagi anak sehingga dibutuhkan pengajaran yang mengapresiasi nilai-nilai kemanusiaan.

C. Teori Belajar Humanistik

Mazhab humanis pula berpendapat pembelajaran manusia bergantung kepada emosi dan perasaannya. Seorang ahli mazhab ini, Carl Rogers menyatakan bahwa setiap individu yang lain. Oleh  itu, strategi dan pendekatan dalam proses pengajaran dan pembelajaran hendaklah dirancang dan disusun mengikuti kehendak dan perkembangan emosi pelajar itu. Beliau juga menjelaskan bahwa setiap individu mempunyai potensi dan keinginan untuk mencapai kecermelangan kendiri. Maka, guru hendaklah menjaga kendiri pelajar dan memberi bimbingan supaya potensi mereka dapat dikembangkan ketahap optimum.

Menurut teori Humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungnnya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudutt pandang pengamatnya.

Pendekatan pembelajaran humanistic memandang manusia sebagai subjek yang bebas merdeka untuk menentukan arah hidupnya. Manusia bertanggung jawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain pendekatan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran yang humanistic adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak peserta didik untuk befikir bersama secara kirtis dan kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru melainkan fasilitator dan partner dialog; pendekatan reflektif mengajak peserta didik untuk berdialog dengan dirinya sendiri, sedangkan pendekatan ekspresif mengajak peserta didik untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktualisasi diri).

Dengan demikian pendidik tidak mengambil alih tanggung jawab, melainkan sekedar membantu dan mendampingi peserta didik dalam proses perkembangan diri, penentuan sikap dan pemilahan nilai-niai yang akan diperjuangkannya.
Dengan demikian tujuan dasar pendidikan humanistic adalah mendorong siswa menjadi mandiri dan independen, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, menjadi kreatif dan tertarik dengan seni, dan menjadi ingin tahu tentaang dunia disekitar mereka.

1. Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistic
a. Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru humanistic percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk mengkaji materi bahan ajar jika terkait dengan kebutuan dan keinginannya.
b. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus memotivasi dan merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.
c. Pendidik humanistic percaya bahwa nilai tidal relevan dan hanya evaluasi diri (selfevaluation) yang bermakna. Pemeringkatan mendorong siswa belajar untuk mencapai tingkat tetentu. Bukan untuk keputusan pribadi. Selain itu, pendidik humanistic menentang tes objektif. Karena mereka menguji kemampuan siswa untuk menghafal dan tidak  memberikan umpan balik pendidikan yang cukup kepada guru dan siswa.
d. Pendidik humanistic percaya bahwa baik perasaan maupun pengetahuan sangat penting dalam proses belajar. Tidak seperti pendidik tradisional, guru humanistic tidak memisahkan dominan kognitif dan afektif.
e. Pendidik humanistik menekankan perlunya siswa terhidar dari tekanan lingkungan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Setelah siswa merasa aman, belahar mereka menjadi lebih mudah dan lebih bermakana.

2. Tokoh-tokoh dalam teori belajar humanistic
Berikut ini dijelaskan beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistic.
a. Athur combs
Combs menyatakan apabila kita ingin memahami prilaku orang kita harus mecoba memahami dunia persepsi orang itu. Dengan kata lain, apabila penduduk ingin memahami prilaku siswanya, maka harus memahami persepsinya. Apabila kita ingin mengubah prilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Prilaku dalam lah yang membedakan seseorang dari orang lain.

Combs dan kawan selanjutnya menagatakan bahwa prilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain mungkin siswa akan memberikan reaksi yang positif.

Para ahli humanistic melihat adanya dua bagian pada learning , ialah
1) pemerolehan informasi baru,
2) personalisasi informasi, ini pada individu.

Combs berpendapat bahwa banyak guru yang beransumsi siswa mau belajar apabila materi pelajaran telah disusun dan disajikan sedemikian rupa. Padahal makna tidaklah menyatu pada mater pelajaran tersebut, malainkan individualah yang member makna kepada materi belajar tersebut. Sehingga bagi guru penting sekali bagaimana membawa peserta didik untuk memperoleh makna bagi pribadinya dari materi pembelajaran. Dan bagaimana ia menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupannya. Menurut combs, hal-hal yangmempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin muda hal itu terlupakan.

b. Abraham Maslow
Teori maslow didasari bahwa didalam diri manusia ada dua hal, yaitu usaha positif untuk berkembang, dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan. Maslow terkenal dengan teori kebutuhannya (Needs), menurutnya, manusia memiliki tujuh kebutuhan, kebutuhan tersebut besifat hirarkis, artinya bila sesorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, maka ia akan menginginkan kebutuhan yang setingkat diatasnya.
Dalam belajar, kebutuhan membrikan implikasi yang sangat besar. Menurutnya perhatian dari motivasi belajar peserta didik akan berkembang apabila kebutuan dasar mereka tepenuhi, jadi antara kebutuhan dan belajar memiliki hubungan yang signifikan.

c. Carl R. Rogers
Carl R. Rogers berpendapat bahwa belajar yang seharusnya tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual dan emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanistic bahwa emosional belajar harus berumber dari peserta didik.
Menurut Rogers, peran guru dalam kegiatan belajar peserta didik menurut pandanagan teori humanistic adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam: 1) membantu meciptakan iklim kelas yang kondusif supaya peserta didik bersikap positif terhadap belajar, 2) membantu peserta didik untuk memeprjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar, 3) membantu peserta didik untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar, 4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada peserta didik, 5) menerima petanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai peserta didik sebagaimana adanya.

3. Ciri-Ciri Teori Belajar Humanistik

Adapun ciri-ciri Teori Belajar Humanistik adalah:
a. Pembelajara menekankan pentingnya emosi atau perasaan siswa
b. Pembelajaran menekankan pada pentingnya komunikasi terbuka
c. Pembelajaran menekankan pada nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa
4. Implikasi Teori Belajar Humanistik

Psikologi Humanistik member perhatian kepada guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah cara untuk member kemudahan belajar dan berbagai kualitas si fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes (petunjuk)

a. Fasilitator sebaiknya member perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
b. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan didalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
c. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi didalam belajar yang bermakna tadi.
d. Dia mencoba megatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
e. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleskibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f. Didalam menanggapi ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
g. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok,dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
h. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannnya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak siswa
i. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.

5. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik
 Kelebihan teori belajar humanistik
a. Pembelajaran  dengan  teori  ini  sangat  cocok  diterapkan  untuk  materi¬materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
b. Indikator  dari  keberhasilan  aplikasi  ini  ialah  siswa  merasa  senang  bergairah, berinisiatif  dalam  belajar  dan  terjadi  perubahan  pola  pikir,  perilaku  dan  sikap  atas kemauan sendiri.
c. Siswa  diharapkan menjadi manusia  yang  bebas,  berani,  tidak  terikat  oleh  pendapat orang  lain  dan  mengatur  pribadinya  sendiri  secara  tanggung  jawab  tanpa mengurangi  hak¬hak  orang-orang  lain  atau  melanggar  aturan,  norma,  disiplin,  atau etika yang berlaku.

Kelemahan teori belajar humanistik

Karena dalam  teori  ini guru  ialah  sebagai  fasilitator maka kurang  cocok menerapkan yang pola pikirnya kurang aktif atau pasif. Karena bagi siswa yang kurang aktif, dia akan  takut  atau  malu  untuk  bertanya  pada  gurunya  sehingga  dia  akan  tertinggal oleh  teman¬temannya  yang  aktif  dalam  kegiatan  pembelajaran,  padahal  dalam  teori ini  guru  akan  memberikan  respons  bila  murid  yang  diajar  juga  aktif  dalam menanggapi  respons  yang  diberikan  oleh  guru.  Karena  siswa  berperan  sebagai pelaku  utama  (student  center)  maka  keberhasilan  proses  belajar  lebih  banyak ditentukan  oleh  siswa  itu  sendiri,  peran  guru  dalam  proses  pembentukan  dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

konstruktivisme adalah teori tentang pengetahuan dan belajar, yang menguraikan tentang apa itu “mengetahui” (knowing) dan bagaimana seseorang “menjadi tahu” (comes to knew), konstruktivis memandang ilmu pengetahuan bersifat non-objective, temporer, dan selalu berubah.

Hal ini sesuai dengan pendapat radical constructivists yang menyatakan bahwa pengetahuan itu terbentuk dalam struktur koginis si pembelajar, bukan berada secara terpisah diluar diri si pembelajar. Pengetahuan selalu mengalami perubahan sejalan dengan proses asimilasi dan akomodasi, karena itu guru harus memberikan kesempatan pada si pembelajar untuk membangun konsep yang akurat tentang pengetahuan tersebut.

Sedangakan Menurut teori Humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungnnya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya

Saran

Sebaiknya mahasiswa lebih mendalami pemahaman tentang teori belajar konstruktivisme dan humanistik. Sehingga dapat mengetahui bagaimana teori-teori tersebut. Untuk penjelasan yang lebih detail lagi mengenai teori belajar Konstruktivisme dan humanistic anda bisa mendapatkannya dari sumber lain, semoga makalah ini bermanfaat.

Buka Komentar