Pengertian, Ciri dan Permasalahan HAM Secara Umum

Apa itu HAM? HAM merupakan singkatan dari Hak Asasi Manusia. Dalam definisi ini, asasi berarti hak tersebut tertanam dalam jati diri sebagai manusia. Bukan negara atau pemerintah yang memberikannya, bukan juga manusia yang menciptakannya. Hak tersebut ada, karena adanya manusia, sebagai suatu entitas yang harus dihormati kehidupannya.

Sebagai salah satu materi yang paling penting untuk dipelajari, HAM sudah diperkenalkan sekolah menengah, salah satu kurikulum pendidikan di Indonesia. Bahkan dalam Undang Undang Dasar saja HAM memiliki bab khusus yang membahasnya secara terperinci.

Konsep ini hadir untuk melindungi manusia dari segala kesengsaraan dan penderitaan. HAM tidak bisa dikaitkan dengan kematian atau penderitaan karena bencana alam, seperti yang menghantam hidup manusia dengan dengan tsunami atau gempa bumi.

Akan tetapi yang lebih sering terjadi adalah, manusia yang satu mengakibatkan penderitaan bagi manusia lainnya. Apabila dia kuat, maka dia merasa boleh untuk menyiksa dan menindas yang lemah, demi mencapai kepentingannya sendiri.

HAM memiliki peranan yang sangat penting. Dia melindungi kalangan lemah dari penindasan pihak yang kuat. Dapat mencegah peradaban jatuh ke dalam hukum rimba, di mana yang kuat memperoleh segalanya, dan yang lemah hancur tidak berdaya. HAM menjadi dasar dari beragam hukum dan aturan, agar hidup manusia jauh dari kerugian akibat ulah manusia lainnya.

Dasar filosofis dari HAM cukup sederhana, bahwa setiap manusia, apapun agamanya, rasnya, jenis kelaminnya, apakah dia penyandang disabilitas atau tidak, mempunyai martabat yang sama di dalam dirinya.

HAM berdiri sejajar di hadapan jagad raya kehidupan, walaupun mempunyai cerita dan cara hidup yang beragam. Martabat itu sudah ada di dalam jati diri setiap orang, dan akan terus ada, walaupun kerap kali disangkal, demi membenarkan penindasan. HAM menjadi tanda, bahwa setiap orang itu, pada dasarnya, berharga dan tidak tergantikan.

Baca juga : Contoh Materi dan Makalah Hukum Pidana Indonesia

Sekarang HAM tidak lagi sekedar menjadi himbauan etis, melainkan sudah tertanam di dalam berbagai hukum dan undang-undang di berbagai negara. HAM menjadi dasar dari beragam kesepakatan internasional, untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat yang nyaman dan aman untuk hidup bagi semua orang, tanpa kecuali.

HAM beserta bentuk hukum di turunannya, mencoba melindungi kebebasan manusia sebagai warga negara di bidang politic, aktif terlibat di dalam keputusan politic, ekonomi hak untuk bekerja dan menbisa kehidupan yang layak, dan budaya untuk hidup sesuai dengan tradisi dan kepercayaannya.

Ciri HAM secara Umum


pengertian ham

HAM mempunyai 3 ciri yang tidak bisa diabaikan yaitu sebagai berikut :

Pertama, HAM bersifat universal. Artinya, berlaku untuk semua manusia, selama ia bernapas dan menjalani kehidupan di atas muka bumi ini, tanpa kecuali.

Kedua, HAM tidak bisa dibelah-belah. Artinya, hak ekonomi tidak bisa dipisahkan dari hak politic. Begitu pula hak budaya tidak bisa dilepaskan dari hak ekonomi.

Ketiga, terjalin erat membentuk satu kesatuan prinsip yang tugasnya hanya satu: melindungi manusia dari ketakutan dan nestapa.  HAM selalu bersifat sosial.

Dasar utama HAM adalah rasa solidaritas antar manusia yang melintasi batas-batas budaya, agama, ataupun negara. Solidaritas tersebut lalu terwujud di dalam rasa tanggung jawab untuk membantu. Rasa tanggung jawab ini lahir dari kesadaran dasar, bahwa kita, sebagai manusia, adalah mahluk yang begitu rapuh diterpa bencana, baik bencana alam, maupun bencana yang dibuat oleh manusia lain. Maka, kita harus saling melindungi satu sama lain.

Baca juga : Pengantar Ilmu Ekonomi, Pengertian, Sejarah dan Perkembangan Ekonomi

Pada dimensi politic, HAM mempunyai fungsi yang sangat penting. HAM menjadi batas dari setiap bentuk kekuasaan politic yang ada. HAM sebagai prinsip membentengi hidup manusia dari setiap bentuk kekuasaan politic absolut yang kerap bertindak sewenang-wenang, tanpa kontrol.

HAM, apabila diterapkan, akan mengunci politic pada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai pelayan kebutuhan manusia. HAM seperti itu, tapi apakah sekarang sudah terwujud di Indonesia?  Biarlah kamu, sebagai rakyat sendiri yang menilai.

Sebagai sebuah prinsip, HAM berdiri di atas hukum. HAM merupakan tuntutan etis yang berakar pada sejarah pahit kehidupan manusia yang dipenuhi dengan fungsi dan penderitaan. Ia menjadi tuntutan etis bagi setiap bangsa yang mengaku beradab.

Walaupun resmi menjadi deklarasi PBB pada pertengahan abad 20 lalu, akar filosofis dari HAM hampir setua sejarah manusia itu sendiri, yakni pada agama-agama dunia dan filsafat hidup yang tersebar luas dan dalam di berbagai peradaban.

Banyak kritik yang menyatakan, bahwa HAM itu tidak universal, merupakan produk ciptaan Eropa. Kritik ini dengan mudah dibantah, jika orang mencoba secara jeli membaca teks Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

Di dalamnya dengan jelas tercantum, bahwa HAM melindungi hak kultural setiap orang, tanpa kecuali, termasuk juga kultur-kultur di luar Eropa. Kritik terhadap sisi universal HAM ini sering lahir dari kepentingan politik ekonomi tertentu untuk menindas, dan mengabaikan prinsip-prinsip luhur HAM.

Permasalahan dan Kritik Terhadap HAM


permasalahan ham

Sebagai sebuah prinsip dengan tujuan yang luhur, HAM tentu mengalami banyak tantangan. Katakan saja, HAM mempunyai musuh-musuhnya sendiri. Setidaknya ada lima musuh utama dari HAM.

Permasalahan pertama adalah jurang yang amat besar antara harapan dan kenyataan di lapangan.
Di beberapa negara, jurang ini amatlah besar.

Amerika Serikat sendiri masih mempunyai penjara Guantanamo, di mana para narapidana tidak menbisakan hak-hak dasarnya sebagai manusia, terutama hak atas pengadilan yang tak berpihak. Uni Eropa masih memandang imigran sebagai hambatan, walaupun pihak tertentu juga adalah manusia.

Di negara Indonesia sendiri, hampir dalam semua aspek, kita dinilai gagal menjadikan HAM sebagai arah perbaikan, karena korupsi yang mengakar begitu dalam, dan kesalahan tata kelola yang luar biasa parah.

Walaupun HAM sudah menjadi deklarasi internasional di pertengahan abad 20, politic Apartheid di Afrika Selatan pada waktu itu masih bersikap rasis dan diskriminatif terhadap orang-orang berkulit hitam di sana.

Rasisme, terutama terhadap pendatang dan kelompok minoritas, dalam segala bentuknya pun masih terus berlanjut sampai detik ini, juga di Indonesia. Jurang yang seringkali terlalu lebar antara harapan dan kenyataan inilah yang menjadi musuh utama dari HAM dan penerapannya.

Permasalahan kedua adalah dilema yang sudah selalu terkandung di dalam penegakkan HAM. Pertanyaan yang menggantung disini adalah, bolehkah, misalnya, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menguntukkan kekerasan untuk menegakkan HAM?

Jika pemerintah suatu negara menyiksa rakyatnya, untuk melestarikan kekuasaannya, bolehkah PBB melakukan intervensi militer terhadap negara tersebut? Bukankah intervensi militer tersebut juga merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM?

Setelah melalui debat panjang, akhirnya PBB memutuskan, bahwa intervensi militer tidak pernah dibenarkan, walaupun tujuannya adalah menegakkan HAM. Ketika terjadi konflik, PBB sering mengirim pasukan perdamaian.

Dilema pun tidak hilang, tanpa intervensi militer yang tegas, konflik sering menjalar panjang, dan memakan lebih banyak korban. Fungsig saudara Suriah yang terjadi sekarang adalah contoh nyata dari dilema semacam ini.

Permasalahan ketiga, yaitu ideologi pan-ekonomi yang kini menyebar begitu luas dan mengakar begitu dalam di dalam jati diri manusia modern awal abad 21. Di dalam ideologi ini, keuntungan ekonomi menjadi tolok ukur dari seluruh bidang kehidupan manusia.

Jati diri manusia yang beragam sebagai mahluk sosial, mahluk seni, dan mahluk hati nurani disempitkan semata pada jati dirinya sebagai mahluk pencari keuntungan ekonomi. Bahasa Indonesia punya istilah khas untuk ini, yakni mata duitan.

Baca lainnya : Contoh Bentuk Bela Negara Secara Fisik dan Non Fisik di Indonesia

Lahirlah manusia yang sangat egois. Dia bekerja untuk mengeruk harta dan kenikmatan bagi dirinya sendiri. Dia menolak untuk berbagi dengan orang yang lebih lemah darinya, apalagi dengan orang asing dan kelompok minoritas. Dia mengakui HAM, tetapi HAM untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk orang lain.

Pada dimensi politic, pihak tertentu pun berusaha mewujudkan politic yang mendukung dan melestarikan sikap egois, yang seringkali bersembunyi di balik slogan kebebasan. Pihak tertentu mendorong pemerintah dan manusia untuk mengubah berbagai aturan yang mengekang gerak modal di manusia atas dasar kebebasan, yang sebenarnya tidak ada

Semua sumber daya sudah pihak tertentu kuasai, dan pihak tertentu berniat untuk memperkaya dirinya terus menerus. Yang kemudian terjadi adalah kesenjangan sosial yang begitu besar antara si kaya dan si miskin. Si kaya mendapatkan segalnya sementara si miskin nyaris tak mendapatkan apa-apa.

Kontrol merupakan kerakusan para pengusaha kaya pun akhirnya hilang, tidak ada lagi aturan yang mengontrol hasrat pihak tertentu akan uang dan kuasa. Ketika si kaya dan si rakus berhasil masuk ke dimensi politic atas dasar kebebasan (sering slogan pasar bebas), pihak tertentu pun menghasilkan kebijakan yang justru menguntungkan diri pihak tertentu sendiri. Rasa solidaritas dan komunitas hilang, serta digantikan oleh politic egois.

Permasalahan keempat adalah irasionalitas yang kini menjalar di berbagai bidang kehidupan. Irasionalitas dalam arti ini adalah hidup yang didorong oleh rasa takut pada yang berbeda, sehingga orang bisa melakukan kekerasan (baik fisik maupun simbolik) atas dasar ketakutan itu.

Bentuk nyatanya adalah rasisme, fanatisme, chauvinisme, fundamentalisme, terutama dalam bidang agama. Paradoksnya adalah, justru ketika semakin banyak orang menbisakan pendidikan, pada saat yang sama pulalah irasionalitas itu menyebar.

Atas dasar irasionalitas yang berakar pada ketakutan itu, orang lalu memaksa kelompok agama minoritas yang berhenti beribadah. Orang kemudian bersikap diskriminatif pada kelompok minoritas dan orang asing. Ketakutan atas yang berbeda itu membuat orang tak mampu berpikir jernih menyingkapi keasingan dan perbedaan.

Ketakutan yang kemudian menjadi keputusan hukum mempunyai dampak merusak yang amat besar pada kehidupan bersama. Untuk yang ini jangan di generalisir, karna tidak semua mayority berpikir sesempit itu.

Permasalahan kelima adalah sepak terjang ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak lagi berjangkar pada moralitas. Alam dihancurkan demi mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama untuk mengambil sumber energi mentah.

Manusia dipaksa sebagai obyek yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan tertentu. Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi tak lagi berpijak pada hati nurani, maka pihak tertentu justru akan menghancurkan hidup manusia.

Penegakan HAM perlu untuk memahami arti mendasar dari HAM itu sendiri, dan apa yang menghambat penegakannya. Dengan kata lain, pemahaman tentang HAM perlu untuk juga memahami, apa yang menjadi musuh-musuh dari HAM itu sendiri.

Di tengah dunia dengan semakin banyak konflik dan ketegangan antara kelompok-kelompok yang berbeda, penegakan HAM menjadi sumber harapan bagi hadirnya perdamaian. Ia tetap menjadi pilar harapan manusia untuk hidup bebas dari rasa takut dan penderitaan.

HAM tidak akan terwujud dan teralisasi, tanpa usaha bersama dari berbagai bangsa dan kelompok manusia di dunia. Jarak antara harapan dan kenyataan terkait dengan penegakan HAM bisa dipersempit, jika kerja sama tersebut terwujud, dan dijalankan dengan komitmen serta rasa tanggung jawab yang kuat. Ide luhur berlimpah di dunia ini.

Baca juga : Pengertian Belajar, Pembelajaran, Perbedaan serta Contoh dan Tujuannya

Akan tetapi kita kekurangan otot dan kehendak politic untuk mewujudkan ide tersebut. Apakah kamu bersedia menyediakan otot politik semacam itu? Ini pertanyaan yang sekarang harus dijawab sekaligus dipecahkan bersama. Semoga saja kita bisa lebih bijaksana dalam menghadapi HAM.

Demikianlah pembahasan mengenai Pengertian, Ciri dan Permasalahan HAM Secara Umum kali ini. Semoga materi nya bermanfaat, dan kamu bisa memperdalam pengetahuanmu mengenai hak asasi manusia ini. Jangan lupa share tulisan ini di media sosial milikmu, dan berikan komentar  mu dibawah ini.
By

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel