Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Contoh Teks Ulasan Film dan Drama Terbaru

Apa itu teks ulasan? Teks ulasan atau Review Text merupakan salah satu jenis teks yang berisi penilaian, pendapat, opini atau tanggapan yang objektif terhadap suatu karya sastra, dalam hal ini kita akan bahas khusus untuk teks review film. Seperti yang kita ketahui, film merupakan salah satu media hiburan yang paling digemari oleh masyarakat modren saat ini

Lalu apa tujuan teks ulasan dibuat? Teks review ditulis untuk menunjukan sudut pandang, kritik, masukan dan hal positif yang membangun yang dibuat oleh penulis terhadap suatu karya.

Kalau kamu pernah membaca review film yang ada di Internet Movie Database (IMDb), Rotten Tomatoes, Metacritic, CinemaScore, The Guardian dan juga berbagai situs review film lainnya, tentu saja sudah akrab dengan teks review ini, bukan?

Adapun beberapa karakteristik dari jenis tulisan adalah sebagai berikut :

  • Memiliki struktur yang dimulai dari Orientasi, Tafsiran, Evaluasi, Rangkuman
  • Berisi informasi pendapat penulis terhadap suatu karya
  • Pendapat berdasarkan fakta yang di-interpretasi
  • Memiliki istilah lain yaitu resensi atau review


Contoh Teks Ulasan Film


contoh teks review film

Review film memiliki beberapa struktur seperti yang dituliskan diatas, namun mimin ingin memberikan contoh teks naratif yang bisa menjadi referensi buat kalian dalam mereview film dan drama kali ini. Adapun review ini mimin kosngosan peroleh dari salah satu channel youtube khusus dalam mereview film yaitu "#sumatranbigfoot". Check these out!

Baca dulu : Rekomendasi Film Dokumenter Indonesia Terbaik


Review Film "Mekkah I'm Coming"


Disutradarai Hanung Bramantyo pada awal karirnya yang juga menduduki kursi produser di film ini dari materi promosi nya sendiri trailer maupun desain poster, Mekkah I'm Coming tampak begitu dalam dengan semua keglamoran dan template yang seolah-olah bercita rasa film televisi.

Namun digarap dengan detail dan totalitas yang luar biasa sesuatu yang gua pikir tidak akan gua dapatkan ketika memutuskan untuk membeli karcis malam ini, Mekkah I'm Coming membawa kesan yang sejak awal terasa begitu segar.

Penggunaan palet warna yang kontras dan berhasil membangun mood dan realitas alternatif yang memang dibutuhkan sebagai panggung bercerita yang terbilang pas tidak berlebihan dalam keabsurdan nya tidak pula terasa terlalu murahan seperti treatment sinetron.

Film ini memberikan energi estetis berkat kecermatan seorang yang begitu berwarna, karena sang sutradara sendiri sebenarnya berhutang banyak pada jajaran pemain yang ketiga aspek naratif Mekkah I'm Coming sempat sedikit menurun di bagian pertengahan

Terutama duo aktornya yaitu Michelle Ziudith dan Rizky Nazar yang memang diuntungkan oleh kolaborasi panjang keduanya sehingga kemistri yang terbangun terasa begitu kuat dan meyakinkan meski faktanya di layar kita tidak akan terlalu sering melihat keduanya beradu akting.

Kita juga mendapat kesempatan melihat performa terakhir almarhumah Ria Irawan yang sebagaimana biasanya tidak akan sulit mencuri perhatian, beliau tidak hanya berhasil dalam aspek komedi namun dalam posisinya sebagai Satire. Mekkah I'm Coming berhasil menghadirkan Ironi yang cukup mencekik mengenai praktik kotor dan penipuan ibadah haji dan umrah yang seakan tak pernah ada habisnya di negeri ini.

Namun ada satu bagian yang terasa Jalan ditempat, begitu juga kemasannya yang serba heboh dan blak-blakan akan sesekali terasa jenuh tanpa puchline yang tidak selalu hadir yang entah bagaimana bagian tertentu yang barangkali malah menambah bobot film ini begitu juga beberapa karakter seperti Dwi Sasono dan Yati Pesek yang potensial, namun hanya dihadirkan alakadarnya

Mekkah I'm Coming adalah salah satu contoh film yang sukses membangunkan banyak elemen dengan smooth dan bertanggung jawab (kosngosan.com)


Review Film Akhir Kisah Cinta si Doel


Film Akhir cinta si Doel dimaksudkan sebagai penutup bagi keseluruhan Franchiese yang sampai film ketiganya ini dirilis setelah berusia 27 tahun.

Film ini terbilang berumur panjang dengan penggemar lintas generasi yang masih tetap antusias mengikuti lika-liku kisah cinta segitiga Doel, Zaenab dan Sarah yang masih tetap digarap Rano Karno. Seri pamungkas ini terbilang mengesankan karena tidak tergesa-gesa dengan penyelesaian konflik yang telah dicetak dengan sangat baik dan Solid oleh dua Film pendahulunya.

Akhir cinta si Doel diwarnai dengan deretan karakter pendukung dan elemen komedi yang keberadaannya tidak seefektif dan sesukses di dua seri sebelumnya, namun sudah cukup mewarnai jalannya dramatic yang kian Intens dan memuncak.

Film ini secara sengaja sedikit mengurangi porsi komedi tersebut sehingga Mandra yang sukses mencuri perhatian di dua film sebelumnya, kurang diberikan ruang gerak yang leluasa untuk banyolan-banyolan nya yang spontan dan membuat kita tertawa.

Sebaliknya aspek dramatiknya berjalan dengan solid dan sangat kuat, terlebih bagi penonton Veteran yang telah mengenal baik ketiga karakter utamanya ditambah dengan fakta bahwa "World Round" telah terasa begitu dekat dan personal membuat penontonnya sulit untuk tidak larut dalam beberapa konflik yang dihadirkan.

Kendati demikian jelas film ini merupakan bukti bahwa upaya serial legendaris di masa lalu tidak melulu berakhir buruk ketika memang ditangani orang-orang yang tepat dan memahami dengan baik materi filmnya secara personal.


Dan Rano Karno jelas diuntungkan dalam hal ini. Beliau masih memberikan gelaran akting yang solid dengan karakter Si Doel yang memberikan Assembling Case bahkan terbilang unik ketika sikap diam nya dalam banyak kesempatan krusial terasa begitu berbobot (kosngosan.com)


Review Film Mariposa


Melalui materi promosinya mudah sekali menilai Mariposa sebagai "Another teenage Romance" yang kemungkinan besar hanya diperuntukkan bagi segmen penonton Remaja. Namun sebenarnya tidak sesederhana itu, ketika nama-nama yang terlibat di film ini merupakan dua komoditas panas sinema Indonesia yitu Adhisty Zara dan Angga Yunanda yang sempat menuai sukses besar melalui film mereka "Dua Garis Biru"

Sejujurnya hingga 15 menit pertama kekhawatiran semacam itu cukup membuat kita sadar namun, secara perlahan tapi pasti Mariposa membuktikan bahwa kita memang salah besar meremehkan karya dari Fajar Bustomi ini

Film ini diadaptasi Alim sudio dari novel karya Luluk HF. Dirinya mampu melakukan pencapaian yang baik, yang seringkali gagal dan diabaikan penulis-penulis lainnya pada genre remaja seperti ini. Sang Sutradara tidak menganggap penonton remajanya bodoh dengan tidak perlu menghadirkan sequin komedi receh dan bas1

Sang sutradara juga tidak memberikan elemen romansa yang berlebihan, namun yang lebih patut diapresiasi Alim bahkan merasa tidak perlu menghadirkan background cerita yang amat mendikte penontonnya, namun memberikan hal-hal yg berhasil memberikan informasi yang cukup dengan cara yang cerdas dan kasual hanya dengan sedikit kalimat

Hal ini bukan berarti Mariposa tampil berat dan sangat realistis, justru Fajar Bustomi dan Alim Sudio sangat sinkron dan mampu meniupkan ruh yang berbobot bagi kesederhanaan naratifnya hebatnya sifat ringan yang tersebut pada akhirnya mampu dioptimalkan dengan sangat baik Sehingga nantinya menjadi pembuka yang mulus bagi level dramatiknya yang kian kompleks dan meningkat.

Karakternya Angga Yunanda terbilang berhasil menghidupkan karakter Iqbal yang judes perfectionist namun rapuh disaat yang bersamaan. begitu juga Zara yang sekali lagi akan tampil menonjol bahkan dalam kesan lugu namun teguh pendirian dalam karakter Acha yang ia perankan

Keduanya bisa membangun dimensi cerita dengan sangat brilian, bahkan seringkali hanya menggunakan intonasi suara yang secara ajaib membangun mood dan nuansa yang dibutuhkan. Keduanya juga mendapat sokongan dari supporting cast yang solid seperti Ersa mayori yang sukses mencuri perhatian setiap kali karakternya muncul di layar begitu juga Dannia Salsabilla yang mampu hadir sebagai penyeimbang dua karakter utamanya.

Beberapa hal minus dari film ini adalah seperti color grading yang sedikit pucat terutama tiap kali seragam merah muda muncul di layar dan warnanya saat akan meluncur ke objek lain atau setting sekolah yang sesekali terlihat kurang meyakinkan yang tampak dari desain interior dan jumlah extras yang kurang memadai

Namun hal tersebut bisa dilupakan dengan melihat konsep artistik Mariposa yang didominasi dengan warna serba pink dan serba biru muda tampak begitu estetis dan berhasil membangun dualitas yang kontras yang juga didukung oleh penempatan soundtrack-soundtrack manis yang cermat (kosngosan.com)

Baca juga : Kartun Animasi Buatan Indonesia Wajib Tonton


Contoh Teks Ulasan Drama


contoh teks review drama

Review Drama NetFlix "La Casa De Papel" Season 1


Drama yang hanya ditayangkan di stasiun televisi lokal tidak disangka-sangka La Casa De Papel berhasil menjadi sebuah fenomena yang mendunia termasuk performa serial yang satu ini Terutama sejak hak distribusinya dijual pada netflix pada Penghujung tahun 2017

Gelar dramaseries terbaik pada perhelatan internasional Grammy Award ke-46 dan berhasil menjadi serial non English dan serial netflix secara umum.

Apa yang sebenarnya membuat La Casa De Papel mampu menaklukan perhatian publik internasional khususnya publik Amerika ? apakah secara keseluruhan kualitas serial bikinan Alex punya ini sempurna? jelas tidak

Apakah yang naskahnya secerdas yang mungkin dibayangkan siapapun yang belum menonton? tidak juga tetapi jelas sekali ada banyak riset dan effort yang tak terukur serta proses panjang sehingga pada akhirnya La Casa tampil cukup mengesankan.

Meski masih jauh dari level yang pernah diraih Bad Genius yang menghadirkan pengalaman sinematik yang segar dan sangat mengasyikkan. Pada bagian pertama versionnya La Casa tampil kurang mengesankan dari aspek teknis editing yang sering kali kehilangan tempo treatment directing yang di beberapa bagian jauh dari level Cinematic

Begitu juga aspek visual yang sangat khas produk televisi. Serta yang barangkali tidak luput dari perhatian Banyak orang ada terlalu banyak unsur kebetulan dalam gelaran naratifnya yang jujur saja membuat strukturnya tidak sesulit yang anda bayangkan sebelumnya

Namun barangkali hal ini disebabkan oleh penggunaan gaya presentasi flashbacknya yang ulti-fashion sehingga kita kehilangan kesempatan untuk menyaksikan kasihkan proses persiapan yang secara utuh.

Meski tetap saja bukan masalah sama sekali ketika La Casa mampu menghadirkan pot yang cukup menarik dan berliku yang meski di satu sisi masih terasa Januari walau yang juga turut memberikan andil besar adalah dinamika antara ensemble cast yang berwarna

Walaupun drama ini ada terlalu banyak elemen seks yang dirasa tidak begitu esensial, beruntungnya di bagian 2 hal tersebut dikurangi secara serius dan fokus penceritaan terasa lebih terarah

Walau yang mengalihkan perhatian di bagian kedua ini transisi karakter Rio dan Tokyo 2 karakter yang mendapat manajer Cloud point di samping karakter Profesor Dan Inspektur murillo terasa kasar dan terlalu dipaksakan namun beruntungnya Alex pin-nya mampu menghadirkan bagian akhir yang sangat layak dan proporsional (kosngosan.com)


Review Drama Korea "Kingdom" Season 1 dan 2


Karakter Doona turut hadir sebagai statement yang amat politis terutama dalam latar belakang budaya yang seringkali mendiskreditkan kaum perempuan. Perannya terbilang esensial secara garis besar tidak disangka-sangka karakternya berperan secara meijer bahkan menjadi karakter kunci dalam serial ini

Mendampingi Ji Hoon Ju yang meroket namanya sejak dua serial a long with God yang hadir karismatik dengan performa yang stabil sebagai putra mahkota Lee Chang. Akan sulit bagi kita untuk tidak terpukau pada Kim sung-kyu yang hadir dengan performa luar biasa dalam perannya yang begitu ambisius sebagai jung-shin yang bahan overshadowing karakter Icang yang jelas-jelas merupakan karakter utamanya.

Sisi plus dari drama korea ini juga pada aspek tata produksi serta production designer yang solid dan megah yang konon katanya menelan budget 1,8 juta USD, rata-rata per episode melebihi yang direncanakan sebelumnya.

Begitu juga standing Applause layak diberikan kepada Kim Min Ho yang pernah sukses besar dengan drama korea "signal" pada tahun 2016 yang selalu berhasil menerjemahkan sumber hasilnya dengan sangat baik sehingga secara keseluruhan aspek naratifnya terasa sangat matang dengan dinamika plot yang memukau

Drama ini hadir tanpa terasa kesan pabrikan atur dibuat-buat meski ada kalanya teknik editing di sedikit bagian yang bisa membuyarkan intensitas lainnya yang sudah dijaga dengan sangat baik.

Hal lain yang sulit diabaikan adalah sinematografinya yang luar biasa terutama pada shoot tertentu yang bahkan mampu membuat merinding. Lambat laun ketika aspek naratif yang mulai berkembang, sayangnya aspek ini semakin berkurang walau fungsinya untuk menegaskan set up nya yang mengerikan sekaligus megah sesuai dengan tema dan setting periode dramanya telah hadir dengan cukup baik

Beruntungnya dua musim yang telah dirilis tidak terasa terpenggal penggal, karena hadir dengan gelaran naratif dan presentasi yang utuh yang secara tuntas menunaikan tugasnya. Meski ada treaser melalui kehadiran 3 karakter baru di penghujung musim kedua, namun hal tersebut tidak mengganggu kenikmatan menonton dua musim Kingdom secara keseluruhan. (kosngosan.com)

Baca juga : Contoh Teks Anekdot Menyindir


Kata Penutup


Review Text adalah salah satu bentuk kritik yang membangun terhadap suatu karya sastra. Bila kamu adalah seorang seniman pembuat lagu, film, drama, lukisan atau sebagainya, maka menerima ulasan dari orang lain merupakan salah satu bentuk kebesaran hati, apalagi sampai memperbaiki beberapa hal yang memang dirasakan kurang seperti yang disebutkan pada ulasan tersebut

Apabila sobat kosngosan ingin melihat sumber informasi lebih lengkap mengenai teks resensi, bisa kunjungi laman wikipedia ini (Ref). Demikian beberapa contoh teks ulasan yang mungkin bisa bermanfaat buat teman kosngosan sekalian. Jangan lupa share artikel ini ke teman temanmu yang ada di sosial media lainnya ya!
Oleh rezaharahap