Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Faktor yang Menghambat Perkembangan Bisnis Startup

Kamu pasti sering mendengar istilah perusahaan "startup" bukan? istilah lokalnya adalah perusahaan rintisan. Seperti namanya, perusahaan ini belumlah matang secara finansial dan manajemen. Oleh karena itu, kita bisa mendefinisikan startup sebagai suatu entitas bisnis dalam tahapan baru saja didirikan dan masih dalam proses pengembangan.

Mengapa pengembangan terus dilakukan? Hal ini supaya perusahaan bisa mencapai visi misi yang sudah dirumuskan. Bagi sobat kosngosan yang sudah lebih dahulu terjun di dunia startup, pastinya sudah tidak asing lagi bagaimana cara kerja dan lingkungan pekerjaan didalamnya

Lalu bagaimana strategi untuk mengembangkan startup dari awal? Mulailah untuk merealisasikan berbagai tips keuangan supaya cepat berkembang. Sehingga kamu bisa menjadi miliader di Indonesia dari usaha rintisan yang kamu mulai dari nol.


Faktor Penghambat Perkembangan Startup

Salah satu hal yang dapat menghambat perkembangan bisnis startup yaitu tidak adanya rencana yang matang dalam pengembangan usaha rintisan ini. Selain itu ada berbagai faktor lain yang bisa saja mempengharuhi, tanpa panjang lebar, sobat kosngosan wajib ketahui apa saja itu dibawah ini:

Baca juga :


faktor penghambat startup

1. Kurangnya Tim Kompeten

Startup tidak bisa dikembangkan oleh perseorangan atau pribadi. Ini adalah jenis usaha awal yang lebih cepat berkembang apabila ditangani oleh tim yang kompeten dibidangnya masing masing. Untuk mengembangkan StartUp kamu harus punya pegawai yang profesional dan bisa bekerjasama dengan tim. Sebelum merekrut pegawai, sebaiknya sobat mengetahui bagaimana kemampuannya terlebih dahulu.


2. Memiliki Hutang Awal

Berhutang memang tidak masalah, apabila kamu menggunakannya untuk menambah kapasitas produksimu. Namun kebanyakan hutang di fase awal usaha, bisa menjadi sebuah kebiasaan dan malapetaka. 

Jika hutang sudah menumpuk, maka akan sangat menghambat proses usaha rintisan dalam mencapai setiap visi dan misi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, mimin kosngosan selalu menghimbau siapapun untuk menghindari hutang, kecuali untuk keperluan yang produktif.


3. Kurangnya Manajemen Keuangan

Dengan membuat manajemen keuangan usaha rintisan Kamu, umumnya berbentuk presentase untuk membagi pos pos pengeluaran dalam satu kurun waktu. Kebanyakan startup tidak bisa berkembang karena manajemen keuangannya berantakan

Ada juga yang mencampur dana usaha dengan dana pribadi. Misalnya alokasi keuanngan 50% untuk produksi kembali, 20% investasi, 20% untuk gaji dan sumber daya, dan 10% untuk pengembangan kapabilitas karyawan.


4. Tidak ada Dana Darurat

Dana darurat atau cash flow adalah salah satu jenis anggaran yang harus ada, gunanya adalah untuk memenuhi keperluan penting yang mendesak. Seperti misalnya ada karyawan yang tiba jatuh sakit, peralatan kerja mengalami kerusakan, atau musibah yang tidak terduga sebelumnya. Dana darurat sangat wajib dalam suatu usaha rintisan


5. Tidak ada Catatan Pengeluaran

Ketidakadaan catatan pengeluaran terhadap setiap pengeluaran startup dalam jangka waktu tertentu, membuat perkembangan usaha bisa stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Di akhir bulan, Kamu bisa membuat pencatatan menggunakan perangkat lunak premium, tentang apa saja konsumsi yang menguras keuangan usaha rintisanmu.


6. Besarnya Kebutuhan Sekunder dan Tersier

Kebanyakan pengusaha startup ingin menjadi kaya supaya bisa terbebas untuk berbelanja secara hedon. Keinginan tersebut tidak masalah, selama direalisasikan ketika pemasukan rutin dari startup mu sudah mapan. Tapi banyak pelaku startup yang melakukan kesalahan membelanjakan uang terlalu banyak sebelum perusahaan startup mereka benar-benar maju dan punya jangkauan luas.


7. Tidak adanya Biaya Pengembangan Skill

Penting sekali untuk memanfaatkan uang yang perusahaan startup hasilkan dari kerja keras karyawan dan pemilik tersebut kepada sesuatu yang produktif. Dan salah satunya adalah dengan menggelar acara pengembangan skiil tentang suatu materi yang bisa meningkatkan produktifitas karyawan. Karena investasi terbaik adalah investasi leher keatas.


8. Tidak Mengenal Investasi

Terdapat banyak sekali sarana investasi yang dapat Kamu gunakan untuk menyimpan uang. Investasi sesungguhnya sangat beragam dan tidak selalu membutuhkan dana besar. Bagi pemula, investasi perlu berada di bawah pengawasan seseorang yang sudah berpengalaman dalam kegiatan tersebut.


9. Tidak adanya Produk Orisinil

Apabila kamu belum memiliki penghasilan dari penjualan produk (baik jasa atau barang), cobalah mencari produk utamamu. Jika kamu masih memiliki kegiatan utama seperti sekolah atau kuliah, opsi startup part time bisa menjadi rekomendasi. Nantinya kamu akan banyak belajar mengenai manajemen waktu dan sumber daya.


10. Kesulitan Memperkenalkan Produk

Dalam prakteknya, startup harus bisa memperkenalkan dan mempromosikan produk mereka kepada klien, sehingga dengan dikenalnya produk tersebut, diharapkan para investor memberikan dana investasinya kepada pihak pengembang startup. 

Oleh karena itu, buatlah strategi marketing yang tepat berdasarkan jenis produk dan target konsumen. Jangan lupa jadilah "berbeda" atau "antimainstream" untuk perusahaan startup yang ingin lebih dikenal.


Tips Mengembangkan Bisnis Startup

Walaupun banyak perusahaan rintisan yang sering melakukan kesalahan, tapi bukan tidak mungkin mereka akan berhasil menjadi perusahaan terbuka yang kepemilikan sahamnya tercatat di bursa. Dengan menerapkan cara mengembangkan bisnis startup yang efektif untuk mengembangkan bisnis startup dari modal nol hingga berstatus decacorn misalnya, butuh waktu yang tidak singkat. 

Dibelangkannya ada pikiran CEO yang visioner, anggota tim yang solid dan pekerja keras. Untuk selengkapnya kamu bisa mengunjungi beberapa channel youtube khusus bisnis yang bisa saja membantu meningkatkan kondisi keuangan usaha-mu.


Kata Akhir

Semoga saja indonesia memiliki berbagai perusahaan startup yang bernilai dan memiliki produk solutif dalam menjawab setiap permasalahan dan tantangan bangsa. Karena sebenarnya potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada di Indonesia cukup besar. 

Namun saat ini memang yang mendapat panggung karena sebagian besar masih startup di kota besar. Demikian materi kali ini, semoga bermanfaat untuk kalian. Jangan lupa untuk klik tombol share dan bagikan artikelnya ke sosial media masing masing. Terimakasih!

Oleh rezaharahap