Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Pendidikan Inklusif dan Contoh Program-nya

Apa pengertian pendidikan inklusif? Untuk menerapkan pendidikan inklusif di Indonesia, tentunya harus komprehensif dan melibatkan berbagai pihak. Karena pada kenyataannya, contoh program pendidikan inklusif ini belum bisa diterapkan menyeluruh, karena keterbatasan sumber daya pendidikan di Indonesia. Fasilitas sekolah, guru dan rendahnya gaji juga mempengaruhi lambatnya realisasi program ini.

Program pendidikan inklusif akan menyediakan kesempatan yang sama untuk setiap peserta didik dalam mengakses layanan pendidikan tanpa mempertimbangkan kondisi dan latar belakang. Hal ini memungkinkan para siswa yang berkebutuhan khusus bisa mengenyam pendidikan di sekolah reguler dan bersosialisasi dengan siswa yang "normal" lainnya.


Pendidikan Inklusif Adalah

Pengertian Pendidikan Inklusif

Arti program pendidikan inklusif adalah konsep yang menyediakan akses dan kesempatan pendidikan kepada semua peserta didik tanpa mempertimbangkan keterbatasan, seperti kelainan fisik, atau bagi yang memiliki potensi istimewa baik berupa kecerdasan atau bakat dalam mengikuti program pendidikan dalam satu ruang lingkup pendidikan yang sama dengan peserta didik lainnya.

Jadi pengertian program pendidikan inklusif adalah suatu penerapan program pendidikan secara umum yang memungkinkan seluruh segmen peserta didik bisa belajar di sekolah umum dengan akses dan lingkungan sekolah yang kondusif, adil dan setara.

Program pendidikan inklusif bertujuan supaya seluruh peserta didik bisa menerima perbedaan yang ada dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mereka juga harus mampu menjalin persahabatan dan bersosialisasi dengan peserta didik lain yang berkebutuhan khusus (disabilitas).

Penerapan pendidikan inklusi dinilai penting karena bisa mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) supaya ikut belajar dan bergaul bersama dengan anak normal (non-ABK) usia sebayanya di kelas yang sama. Hal ini juga merupakan impian dan keinginan yang mungkin dirasakan oleh orang tua yang memiliki anak ber-kebutuhan khusus.

Akan tetapi, sekolah yang menerapkan program pendidikan Inklusi memang tidak mudah dalam mempersiapkan dan menangani anak kebutuhan khusus ini. Karea diperlukan penerapan kurikulum yang berbeda antara anak ABK dan non-ABK. 

Selain itu, kesiapan guru untuk menangani anak-anak seperti ini dikelas juga merupakan hal yang penting. Guru harus bisa menerapkan dua kurikulum yang berbeda secara bersamaan, tentu saja ini merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. 

Oleh karana itu, mengajar dua metode yang sama dan dengan perlakuan yang sama, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai seperti yang diharapkan. 

Pengembangan kurikulum pendidikan inklusif dapat dilakukan sebagai bentuk realiasi dalam menciptakan pembelajaran yang merata, adil dan berkualitas. Para guru harus mendapatkan training yang praktikal, bukan hanya sebatas sosialisasi saja. Wali kelas dan guru bidang studi bisa bersinergi dalam mendampingi ABK memahami materi di kelas.

Dibawah ini kamu bisa membandingkan antara perbedaan pendidikan jenis segregasi, integrasi dan inklusif. Masing masing memiliki kelebihan nya dan manfaat yang bisa diterapkan pada berbagai studi kasus yang berbeda. 

Program Pendidikan Inklusif Adalah

Baca juga : Contoh Visi Misi Guru Penggerak di Sekolah


Contoh Pendidikan Inklusif di Indonesia

Beberapa contoh penerapan program pendidikan inklusif dibawah ini sudah kosngosan rangkum, sebagai bahan referensi untuk kalian :


Contoh program pendidikan inklusif 1 :

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 12 sekolah didaerah Gunung Kidul dan di Provinsi daerah Khusus Ibukota Jogyakarta dengan 35 sekolah. 

Pada sekolah sekolah reguler yang dijadikan perintis itu memang diuntukkan anak-anak lambat belajar dan anak-anak sulit belajar sehingga perlu mendapat pelayanan khusus. Karena masih dalam tahap rintisan sampai sekarang belum ada informasi yang berarti dari sekolah-sekolah tersebut.


Contoh program pendidikan inklusif 2 :

Delapan sekolah di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser telah menerapkan kelas inklusi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), yang telah berjalan selama dua tahun belakangan ini. 

Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tanah Grogot Rusnawati saat ditemui dikantornya menjelaskan kedelapan sekolah dasar (SD) tersebut diantaranyanya adalah SDN 014 , SDN 08, SDN 020, SDN 07, SDN 019, SDN 05, SDN 026, SDN 024 Tanah Grogot.

Namun disanyangkan pada tahun ajaran 2016/2017 SDN yang disebutkan menolak menerima ABK dengan alas an tidak adanya guru  pembimbing khusus / guru kelas yang memiliki kompetensi untuk menangani ABK di sekolah-sekolah tersebut.


Contoh program pendidikan inklusif 3 :

Di Kabupaten Bantul dari total 374 SD, baru 8 SD yang sudah menerapkan pendidikan secara inklusif. Mereka memberikan kesempatan bagi penderita cacat atau anak berkebutuhan khusus untuk mengeyam pendidikan di sekolahnya, sepanjang IQ-nya mampu mengi kuti kegiatan akademik. 

Menurut Ketua Paguyuban Penyandang Cacat Indonesia Cabang Bantul, Jayusman, jumlah penderita cacat di Bantul mencapai 9.704 orang yang terdiri dari tunanetra, tunadaksa, tunarungu, tunawicara, dan tunagrahita. Pihak sekolah berharap penderita cacat bisa mengakses ke pendidikan formal. Masalahnya adalah sarana dan prasana belum menunjang menjadi isu utama.


Contoh program pendidikan inklusif 4 :

Di sekolah Inklusi (SD. Muhamadiyah di Gunung Kidul) sekolah ini punya murid 120 anak, 2 anak laki-laki diantaranya adalah Tuna Grahita, dua anak ini dimasukan oleh kedua ibunya ke kelas I karena mau masuk SLBC lokasinya jauh dari tempat tinggalnya yang di pegunungan. Keluarga ini tergolong keluarga miskin oleh sebab itu mereka memasukkan anak-anaknya ke SD  Muhamadiyah.

Perasaan mereka sangat bahagia dan bangga bahwa kenyataannya anak mereka diterima sekolah. Satu anak tampak berdiam diri dan cuek, sedang satu lagi tampak ceria dan gembira, bahkan ia menyukai tari dan suka musik, juga ia ramah dan bermain dengan teman sekolahnya yang tidak cacat. 

Gurunya menyukai mereka, mengajar dan mendidik mereka dengan mengunakan modifikasi kurikulum untuk matematika dan mata pelajaran lainnya, evaluasi disesuaikan dengan kemampuan mereka. 

Hal yang sangat penting disini yang berkaitan dengan guru adalah anak Tuna Grahita dapat menyesuaikan diri dengan baik, bahagia dan senang di sekolah. Ini merupakan potret anak Tuna Grahita di tengah-tengah teman sekelas yang sedang belajar.

Baca juga : Contoh Prakarsa Perubahan Guru Penggerak


Kesimpulan

Pendidikan inklusif memang penting diterapkan di Indonesia untuk menciptakan generasi yang menjunjung tinggi nilai pluralisme, toleransi dan tenggang rasa. 

Oleh sebab itu, hendaknya pemerintah Indonesia memberikan kesempatan untuk menyesuaikan kurikulum berdasarkan kondisi anak. Demikian materi kali ini dari kosngosan, semoga bermanfaat. Jangan lupa share dan bookmart artikel ini ya!

Reza Harahap
Reza Harahap Reza Harahap adalah owner kosngosan. Suka belajar bisnis, finansial, ekonomi, pendidikan dan pekerjaan. Sembari membagikan ide usaha untuk entrepreneur. Blog ini berisi rencana bisnis, strategi investasi, persiapan keuangan dan lainnya