Kesalahan Pola Pikir Pengguna Media Sosial di Indonesia

Kamu sering membuka Instagram, Facebook, Twitter atau YouTube? Beberapa jenis social media tersebut memang sangat populer dan memiliki pengguna jutaan di berbagai negara. Namun tahukah kamu bahwa bermain social media kerap kali membawa kita kepada kesalahan berpikir ? Atau dalam bahasa bekennya disebut logical fallacy.

Saat ini kita diharuskan lebih fokus menggali gagasan sebagai kontribusi pemikiran yang bermanfaat untuk kelembagaan, misalnya bagi mahasiswa, bagaimana menciptakan inovasi yang bermanfaat untuk kampus atau masyarakat.

Menariknya memang kita seringkali terjebak dengan logika dasar berpikir yang memang banyak sekali menjebak. Semakin kita berpikir maka kita akan semakin sadar bahwa hal paling kritis sebelum berpikir (tentang apa saja) memang harus memiliki cara berpikir yang benar.

Dan berpikir benar itu ternyata memang bukan perkara gampang. Kalau berpikir dengan benar yang masih dalam kerjaan otak saja berat, apalagi level untuk memaparkan apa yang dipikirkan dengan benar, bukankah harusnya lebih berat lagi?

Baca juga : Tips Bermain Instagram dan Media Sosial yang Sehat

Tapi mengapa banyak pengguna sosial media lebih suka berdebat online? Sebenarnya apa saja yang menjadi passion kita di dunia maya? Di media sosial, siapa saja bisa jadi expert dalam segala hal, dan menguasai semua perkara di langit dan di bumi.

Bukankah harusnya itu bukan perkara gampang? Sudah betulkah cara berpikir kita? Mungkinkah kita lalai dengan kenyataan bahwa kita sudah menganut logical fallacy atau kesesatan berpikir?

Kesesatan berpikir tipe 1


kesesatan berpikir

Komentar cadas dibawah ini sebenarnya merupakan bentuk logical fallacy yang tidak kita sadari, yaitu pendapat ad-hominem, jenis kecacatan berpikir dimana pelaku alih-alih mempertimbangkan esensi dari pendapat orang lain, akan tetapi malah menyerang personal atau kekurangan dari orang tersebut.

“Eh Kampret sih, sesama penyebar hoax yang sukanya nyebar berita bohong kesana kemari! Karena dimata kampret sih, semuanya salah Jokowi!"

“Udahlah gaya amat mau ganti presiden pake kampanye di facebook segala, percuma aja! Kalo lo pegawai rendahan siapa saja presidennya juga setiap pagi lu paling mentok makannya nasi uduk!”

“Ellu menilai negara ini makin maju kan karena kamu pendukung fanatik Jokowi! Yaelah cebong dungunya sampe ke DNA!”

Dalam argumentum ad hominem seperti diatas, pelaku berpendapat dengan menyerang orang lain dan bukan berfokus pada menyerang argumen itu sendiri, dan biasanya ditujukan agar orang yang berargumentasi kehilangan kredibilitas dengan serangan personal tersebut.

Ini merupakan bagian dari kesesatan berlogika. Dalam lomba debat mana saja, peserta yang menyampaikan argumen semacam ini akan didiskualifikasi, karena melanggar aturan dalam menyampaikan pendapat, terlepas dari pelaku mengklarifikasi bahwa ini adalah satire dan bukannya bermaksud menghujat.

Tapi tetap saja saja hal semacam ini tidak dibenarkan dalam logika ilmiah dan tidak bisa dipakai dalam berargumentasi. Bahkan dalam perdebatan yang etis sekali-pun, ada aturan yang tidak bisa diganggu gugat yaitu lawanlah argumen dengan argumen, bukan melawan dengan personality-nya.

Kesesatan berpikir tipe 2


Jenis cacat berpikir yang paling umum lainnya adalah apa yang disebut dengan Retrospective Determinism Fallacy, yaitu cara berpikir yang menempatkan masalah sosial yang terjadi sebagai sesuatu yang historis, memang akan selalu ada dan tidak bisa dihindari oleh manusia. Seperti misalnya dengan pendapat yang umum sekali terdengar.

“Prostitusi sudah ada sejak dahulu, sama tuanya dengan peradaban manusia. Sepanjang sejarah pun akan selalu ada dan tidak akan mungkin bisa dihilangkan. Karenanya yang perlu dilakukan bukanlah melarang prostitusi, melainkan mengaturnya supaya lebih tertib”

“Prostitusi tetap berkembang karena memang demand nya besar. Sesuai hukum ekonomi-lah, ada permintaan tentu ada penawaran. Sudah hukumnya seperti itu, lantas apa perlunya pelaku prostitusi sampai dituntut? Kan tidak."

“Korupsi sudah ada sejak nenek moyang. Itu sudah jadi sifat bawaan manusia karena power tends to corrupt seperti yang disebutkan sejarawan Inggris Lord Acton. Jadi korupsi biasa dan sudah jadi sistem, karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas."

Baca statement diatas, bagaimana pendapatmu? Kelihatannya benar dan kelihatannya masuk akal. Akan tetapi apabila ditelusuri, pernyataan diatas mengandung banyak sekali kecacatan berpikir.

Memiliki mindset bahwa masalah sosial tidak akan pernah terpecahkan dan karenanya hanya bisa dimobilisasi, dilokalisasi atau dimaklumi sebagaimana adanya, membuat kita hanya akan berkutat pada pemecahan superficial yang tidak pernah mau tau akar persoalannya apa, mirisnya kita tidak akan bisa melakukan hal yang benar untuk memecahkan persoalan tersebut.

Era media sosial seperti sekarang, ada banyak sekali jebakan logical fallacy. Yang paling umumya jenis yang pertama tadi. Kita seperti terbiasa melihat kekurangan personal orang lain, dan menjadikan itu hal yang lazim untuk dibahas.

Netizen suka menyerang personal, bukannya mempersoalkan hal yang lebih esensial seperti mengkritisi kebijakan, rekam jejak dan potensi masing-masing capres. Padahal ada banyak hal yang perlu dikritisi dan diunggulkan dari capres tersebut tanpa harus menjatuhkan personal capres lainnya.

Saya suka membaca analisis pendukung kedua paslon capres, yang dituliskan dengan kecerdasan dan kejernihan logika. Bukankah berargumen dengan elegan merupakan hal yang menarik, terlepas dari penulisnya pendukung capres tertentu?

Teradang kita pun terjebak dalam kekeliruan berpikir tanpa disadari. Saat orangtua melihat anak nya terjatuh dan menangis meraung-raung seperti abis digigit semut api, lalu kita berkata,“Ini siapa yang nakal? Lantainya Ibu pukul ya? Nih! sudah Ibu tabok lantainya, udah jangan nangis lagi ya!" Dimana bentuk menimpakan kesalahan pada hal lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah pun menunjukkan perilaku logical fallacy.

Dengan kebiasaan berpikir seperti ini, kita tidak akan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih advanced dari sekedar mencari akar permasalahan yang ada. Kita tidak akan sampai pada keterampilan berpikir yang lebih tinggi (higher-order thinking skill).

Kita perlu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkonstruksi sebuah gagasan yang baru, sementara kemampuan keterampilan berpikir kita saja baru pada tingkat rendah (lower-order thinking skill). Jadi mana mungkin kita berada pada level memahami argumentasi.

Baca juga : Tips Menghabisan Masa Muda dengan Baik dan Benar

Terakhir yang bisa mimin beritahu adalah logical fallacy pengguna sosial media saat ini sudah seperti ranjau darat yang bersiap menjatuhkan kita. Dia akan mengubah cara berpikir kita, sehingga tanpa sadar kita telah terkontaminasi dengan kesesatan berpikir yang fatal.

Semoga pembahasan yang agak mendalam mengenai Kesalahan Media Sosial dan Logical Fallacy Penggunanya kali ini, bisa bermanfaat untuk pembaca setia kosngosan. Terimakasih sudah berkunjung dan jangan lupa share dan bookmart blog ini di browser mu untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.
By

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel