Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Cerpen Pendidikan Anak Sekolah Tentang Korupsi

Apakah kamu sedang mencari cerpen bertema pendidikan korupsi kepada anak sekolah? Kamu bisa mendapatkannya disini. Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang sering kita temui di pelajaran bahasa Indonesia ketika sekolah. Pada kesempatan kali ini blog kosngosan makan spesial membahas mengenai contoh cerpen pendidikan dengan tema anak sekolah.

Cerita pendek sangat banyak digemari dan dibaca oleh anak-anak sebagai salah satu media hiburan dan referensi membaca yang menyenangkan. Kalau dahulu ada majalah yang bernama Bobo, kini tren membaca sudah berubah menjadi membaca secara online. Termasuk membaca cerpen dari blog yang ada

Cerpen sendiri memiliki kesan tunggal yang fokus pada satu atau beberapa tokoh, jumlah katanya terdiri dari maksimal 10.000 kata, dan terdapat klimaks atau konflik serta penyelesaian di akhir cerita.

Adapun ciri-ciri cerpen yang bisa kamu ketahui antara lain, memiliki jumlah kata maksimal 10.000, bisa dibaca sekali duduk, sifatnya reaktif, memiliki alur tunggal, penggunaan kata yang mudah dipahami, lebih singkat dari novel, penokohan sederhana serta memiliki kesan dan pesan yang mendalam bagi pembaca

Baca juga : Contoh Puisi yang Memotivasi dan Bijaksana

Sobat kosngosan pasti sering membaca kutipan cerpen di soal-soal bahasa Indonesia baik itu menentukan alur, penokohan atau amanat yang terkandung didalam cerpen tersebut. Beberapa cerpenis terkenal di Indonesia adalah seperti Asma Nadia, Andrea Hirata, Dewi Lestari Simanggunsong, Iva Avianty dan masih banyak lagi

Namun kebanyakan cerpen tersebut menghasilkan karya cerpen dengan tema sosial dan asmara, yang tidak cocok untuk dibaca anak sekolah terlebih untuk anak SD. Dan Pada kesempatan kali ini, untungnya kosngosan sudah memberikan kepada kalian contoh cerpen tersebut.

Cerpen Anak tentang Korupsi


contoh cerpen anak

Judul Cerpen : Papa Pemberantas Korupsi
Oleh : Muhammad Reza Harahap

“Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka inkar janji lalu sembunyi… ”

Yuga mendengar lagu legenda itu saat menonton selingan berita di televisi. Lagu Iwan Fals itu menjadi favorit akhir-akhir ini. Karena liriknya yang pas dengan situasi negeri sekarang. Banyaknya praktek korupsi ditemukan dimana-mana.

Mulai dari pejabat kelas teri seperti Lurah hingga pejabat kelas kakap seperti anggota DPR. Semuanya berbondong-bondong memakan uang negara.

“Yuga! Kecilin sedikit volume tv-nya, Papa sedang ada tamu, nih!?” teriak Papa dari ruang tamu.
“Iya, Pa!” jawab Yuga mengecilkan volume televisi dengan remote control.

Papa sedang kedatangan tamu. Dengar-dengar orang itu adalah pengusaha asal Kalimantan. Entah apa yang membuat orang itu sering datang akhir-akhir ini. Biasanya Yuga tahu betul dengan semua temannya Papa. Tapi kali ini berbeda. Yuga sama sekali tidak mengenalinya.

“Baiklah, kalau begitu yang penting Bapak jamin jalannya supaya lancar. Saya akan kirim lewat ATM saja, biar cepat!”

Kata-kata itu yang Yuga dengar terakhir kalinya sebelum tamu itu pamit pulang.

“Jangan-jangan!” Yuga menepak dahinya. “Papa disuap?! Ahk! Rasanya nggak mungkin, deh!” pikir Yuga bimbang.

Yuga ingat betul kata-kata Papa, ”Dinegeri ini banyak orang yang mencari kekayaan dengan jalan pintas. Mereka sewenang-wenang merampas hak rakyat kecil. Mereka bahkan mereka lebih kejam dari perampok. Mereka akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak… ”

Begitu nasehat Papa yang masih segar di ingatannya. Papa yang kerjanya di kantor pajak memang sering mengalami hal seperti itu.

Terkadang kata Papa, pengusaha-pengusaha itu yang datang sendiri ke kantor buat menyogoknya. Dan Yuga yakin, kalau Papa tidak akan goyah sedikit pun. Tapi kali ini Papa sendiri yang melakukannya. Mengapa?

Ingin rasanya Yuga menceritakan apa yang ia dengar barusan kepada Mama. Tapi dia takut. Yuga khawatir kalau dia dituduh menguping pembicaraan Papa. Tapi, tetap saja bathinnya bergejolak. Apa yang bisa dilakukan seorang anak seperti dirinya?

***

Senin pagi, embun terasa dingin menusuk kulit. Tapi tidak menggentarkan semangat murid-murid untuk mengikuti upacara bendera.

Usai upacara, para murid berbubaran menuju kelas masing-masing.

Bu Nenni, guru kewarganegaraan, masuk ke dalam kelas. Jam kedua dan ketiga memang giliran pelajaran kewarganeraan. Dan kalau sudah masuk, biasanya dimulai dengan pengantar materi.

“Pelajaran kali tentang korupsi. Anak-anak, tahukah kalian apa itu korupsi?” tanya Bu Nenni.

“Deg!” jantung Yuga berdebar keras. Nafasnya sesak serasa sulit bernafas. Yuga takut kalau teman-teman sekelasnya tahu Papa adalah seorang koruptor! Ya ampun! Mau ditunjukin kemana mukanya?

“Korupsi itu mencuri uang negara, Bu!” teriak Frita lantang.

“Korupsi menerima uang suap, Bu!” timpal Deni.

“Bagus!” ucap Bu Nenni bangga. ”Sejatinya, korupsilah yang membuat negara kita terpuruk, baik dari segi ekonomi maupun moral,” terang Bu Nenni secara gamblang.

“Pelakunya harus dihukum, Bu!” teriak Anggito kemudian.

“Ya Tuhan! Kalau Papa memang ketahuan, Papa akan dihukum dan dipenjara? Bagaimana kalau Papa dipenjaranya seumur hidup?”

Baca juga : Contoh Gurindam Pendidikan yang Memotivasi

Yuga gamang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tangannya gemetaran. Badannya berkeringat dan pucat.

“Yuga, kamu baik-baik saja?” Tanya Bu Nenni heran, melihat Yuga yang gelisah sedari tadi. ”Kelihatannya kamu sakit?” sambung Bu Nenni.

Yuga hanya terdiam. Gejolak bathinnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Nafasnya tersendat-sendat. Keringatnya bercucuran. Ketakutannya semakin besar. Akhirnya dia pamit pulang. Dia sudah tidak tahan dengan semua yang mengganggu pikirannya.

Yuga melirik pintu pagar yang tertutup. Ternyata tidak dikunci. Biasanya si Mbok sedang belanja ke pasar saat jam segini. Tapi Yuga tidak tahu kalau Mama pergi mengajar atau tidak. Dia akhirnya mengambil kesimpulan kalau Mama ada dirumah, melihat motor Mama yang diparkir di halaman.

”Mungkin Mama ada di dapur,” tebaknya dalam hati. Dan betul saja, saat Yuga mengetok pintu, suara Mama yang langsung menyahutinya.

“Lho, kok anak Mama cepet pulang? Ada rapat di sekolah, ya?” terka Mama.

“Nggak, kok, Ma. Yuga lagi nggak enak badan saja, makanya tadi Yuga permisi pulang,” jawabnya dan sesaat masuk ke dalam kamar dan menanggalkan seragamnya.

Beberapa menit saja, Yuga sudah ada di dapur bareng Mama yang sibuk memasak lontong kesukaannya.

“Ma,” ujar Yuga memulai.

“Hmm?”

“Apa benar Papa korupsi?” Yuga bertanya hati-hati sekali ketika melihat Mama tidak sibuk lagi. Jelas Mama kaget.

“Astaga Yuga! Kamu ngomong apa, sih?! Darimana kamu dapat informasi seperti itu?” Mama syok.

“Anu, Ma,” Yuga menghentikan bicaranya sebentar. “Sebenarnya Yuga dengar dari pembicaraan Papa dengan tamu yang sering datang kemari itu, lho.”

“Om Hendrik? Jadi kamu menguping pembicaraan Papa kamu?” selidik Mama.

“Bu… bukan begitu, Ma. Kebetulan Yuga memang dengar pas lagi nonton tv.”

“Ga, Papa bukan koruptor. Kemarin memang Om Hendrik memberi uang buat Papa. Tapi kamu tahu apa yang Papa lakukan?”

Yuga menggeleng.

“Papa menerima uang itu.”

“Berarti?” Yuga mencoba menebak.

“Tapi tujuannya supaya membuktikan bahwa Om Hendrik itu bersalah. Papa yang tidak kehabisan akal, segera menyusun strategi.

Dan barusan tadi, Papa menelpon, Om Hendrik sudah ditangkap. Dia akan dihukum atas perbuatannya,” jelas Mama meyakinkan Yuga.

“Jadi Papa nggak akan dipenjara, Ma?” tanya Yuga gelisah.

Mama menggeleng. “Papa nggak akan dihukum. Malah polisi akan memberikan apresiasi buat Papa yang ikut membantu memberantas korupsi. Seharusnya kamu bangga dong punya Papa seperti itu. Bukannya malah berprasangka yang nggak-nggak!”

“Benar, Ma! Yuga minta maaf deh sama Papa nanti.”

“Satu lagi, Mama nggak suka sifat tertutupmu. Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri, kasih tahu sama Mama, mengerti?!” lanjut Mama.

Yuga jengah. Ahk, ternyata prasangka Yuga selama ini memang salah. Maafin Yuga, Pa! Ingin rasanya Yuga memeluk Papa dan mengatakan kalau dia memang bangga punya Papa yang memberantas korupsi. Papa yang menjadi “kucing” bagi tikus-tikus kantor seperti dalam lirik lagu Iwan Fals. Dan itu adalah Papa. Yuga Salut!

Baca juga : Contoh Pantun Jenaka, Lucu dan Bikin Ketawa

Demikian contoh cerpen pendidikan untuk anak sekolah di atas semoga bermanfaat dan menjadi referensi membaca bagi adik-adik sekalian. Jangan lupa juga untuk tekan tombol share dan bagikan tulisan ini di facebook, twitter atau whatsapp kalian. terimakasih.
Reza Harahap
Reza Harahap Reza Harahap adalah owner kosngosan. Suka belajar bisnis, finansial, ekonomi, pendidikan dan pekerjaan. Sembari membagikan ide usaha untuk entrepreneur. Blog ini berisi rencana bisnis, strategi investasi, persiapan keuangan dan lainnya