Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Sistem Kredit Sosial dan Contohnya

Apa yang dimaksud dengan “sistem skor kredit sosial”? Sebutan lain sistem poin kredit sosial adalah sebuah mekanisme kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah negara Tiongkok yang bertujuan untuk mengontrol perilaku para warganya. 

Sistem ini berperan dalam mengatur dan membuat takaran kelayakan bagi seluruh penduduknya, artinya bukan hanya untuk mendapatkan hak kredit saja, namun juga mengenai seluruh aspek dalam kehidupan mereka.

Sistem kredit sosial di China ini berkaitan dengan kredit dan aset yang dimiliki oleh seseorang. Umumnya, semakin tinggi jumlah kredit yang kamu miliki, maka nilai janji yang ada juga semakin tinggi.


Pengertian Sistem Kredit Sosial Menurut Ahli

pengertian sistem kredit sosial

Kosa kata "social credit" (dalam bahasa china 社会信用体 dan shèhuì xìnyòng tǐxì in pinyin) tidak memiliki arti yang tepat, akan tetapi ini adalah istilah yang sengaja dibuat secara luas dan tidak jelas yang memungkinkan fleksibilitas terhadap penerapan kebijakan yang maksimal.

Menurut laman South China Morning Post, sistem ini adalah sekumpulan database dan inovasi yang memantau dan menilai kepercayaan individu, perusahaan, dan entitas pemerintah. Setiap elemen tersebut diberikan skor kredit sosial, dengan hadiah bagi mereka yang memiliki peringkat tinggi dan hukuman bagi mereka yang memiliki skor rendah.

Menurut Laman igi-global, ini adalah Sistem pengawasan yang diterapkan di Tiongkok untuk menstandarisasi reputasi sosial dan ekonomi setiap warga negara yang tinggal disana. Sebuah sistem yang meniru sistem score kredit di negara seperti AS, setiap individu akan diberi poin berdasarkan perilaku sosial, ekonomi, dan politiknya di masa lalu. Individu dengan peringkat yang lebih rendah akan dihukum karena larangan bepergian, kesulitan mendapatkan pinjaman atau hipotek, pengucilan di masyarakat, dan lainnya.

Dalam catatan Meissner, beberapa hal yang telah direkam oleh pemerintah China semenjak kebijakan sistem ini diterapkan adalah meliputi: rekaman kriminal, laporan pengeluaran, perilaku online, pajak tahunan, dan riwayat pekerjaan. Sistem ini selanjutnya akan menjadi panduan penilaian mengenai kelayakan untuk menerima subsidi, kredit, investasi, dan juga akses pada pengadaan publik. 

Sistem kredit sosial ini sebenarnya hampir mirip dengan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) yang berlaku di Indonesia. 

Jadi, seseorang akan dinilai perilakunya berdasarkan catatan atau riwayat kriminal yang pernah dilakukan sebelumnya. Letak perbedaannya, sistem kredit sosial ini jangkauan dan akses penilaiannya lebih luas. Dampaknya pun langsung dapat dirasakan oleh seluruh penduduk disana. 

Jika poin yang mereka dapat rendah atau riwayat catatan jelek, maka akan membuat skor kredit seseoraang menjadi ikutan buruk. Ia akan kesulitan dalam melamar pekerjaan, mengakses fasilitas perbankan, anaknya tidak dapat bersekolah di sekolah favorit, dan lain sebagainya.

Tercatat, pemerintah China sudah memasang sekitar 200 juta CCTV yang tersedia di setiap penjuru China untuk memastikan tidak ada tindak laku kriminal dan sisi gelap yang tersembunyi. Semua perilaku seseorang baik buruk atau positif, besar atau kecil akan dinilai sepenuhnya. 

Sistem kredit sosial ini memang cukup menekan warganya untuk berlomba – lombanya menunjukkan perilaku yang baik. Sebab segala aspek kehidupan mereka akan menjadi penentu terhadap jumlah nilai atau skor yang didapatkan.

Kebijakan ini telah diterapkan sejak tahun 2020, meski pada 2014 perencanaan aturan ini sudah mulai diuji coba kepada jutaan orang. 

Barulah setelah 2020, pemerintah China mulai menginklusi seluruh sektor dan industri yang berdiri. Mereka membangun sistem monitoring real time yang dibuat untuk mengawasi seluruh kegiatan online, emisi, dan juga pelacakan kendaraan.

Baca juga : Pengertian Merit Sistem dan Contohnya


Cara Kerja Sistem Kredit Sosial

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sistem kredit sosial yang diterapkan pemerintah China ini memantau segala gerak – gerik dan kegiatan yang dilakukan penduduknya dalam semua aspek kehidupan. 

Entah itu saat berbelanja, mengantri pada fasilitas umum, sewaktu di perjalanan, dan di tempat lainnya yang terpantau CCTV juga pada nomor identitas yang terhubung secara langsung dengan catatan perilaku tiap warga.

Catatan perilaku tadi bisa didapatkan dari berbagai cara. Misalnya dari hasil pantauan kamera CCTV, catatan pengeluaran keuangan, laporan langsung dari warga, media sosial, dan masih banyak lagi. 

Sistem kebijakan ini juga telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang terlibat langsung terhadap kegiatan penduduk, seperti bank, administrasi turis, dan website pemantau perpajakan warga (creditchine.gov.cn). 

Beberapa perusahan yang terlibat tersebut berupaya untuk menasionalkan sistem, menciptakan koordinasi dan mengonfigurasi teknologi, serta menyelesaikan algoritma yang nantinya akan menjadi penentu skor tiap warga negara.

Setelah berhasil mendapatkan data perilaku warganya, data tersebut kemudian diolah dan dinilai oleh pihak yang memiliki kewenangan terhadap hal itu. Mereka akan menentukan apakah perilaku tersebut dinilai benar atau salah. 

Dari hasil penilaian itu, akan dihubungkan langsung dengan sosial kredit sistem yang dimiliki seseorang. Setiap pemerolehan skor akan dipantau dan dilihat oleh pemerintah China. Mereka akan memutuskan setiap perilaku warganya apakah patut diberikan hukuman, atau hadiah. 

Biasanya, bagi mereka yang memiliki “skor warga teratas” akan mendapatkan perlakuan istimewa di hotel dan bandara, pinjaman yang mudah dan murah, kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan yang terbaik, serta jalur cepat untuk memasuki universitas. 

Mereka juga akan diberikan diskon dalam berbelanja, biaya deposit, juga kemudahan dalam mencari jodoh di situs kencan berbasis online.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki “skor terendah” akan dikunci dari masyarakat, dilarang mendapatkan akses kredit, pekerjaan pemerintah, dan bepergian ke fasilitas publik. 

Mereka akan benar – benar sangat dibatasi pergerakannya oleh pemerintah dalam segala aspek, baik dalam pembelian tiket kendaraan seperti pesawat, kereta, serta barang – barang yang mewah dan mahal, penyewaan kantor, bahkan nama mereka bisa – bisa dipublikasikan di web resmi pemerintah, dan ringtone handphone digantikan dengan nada peringatan akan skor sosial mereka yang “rendah”.


Alasan Penerapan Sistem Kredit Sosial

Menurut pemerintah China, alasan yang kuat dengan menggunakan sistem kebijakan ini adalah untuk membangun rasa kepercayaan. 

Dalam sebuah catatan dokumen pada Tahun 2014 yang berisi tentang rencana – rencana pemerintah China, sosial kredit sistem ini dijelaskan dengan kalimat “menjaga kepercayaan tidak cukup dihargai, harga untuk menghancurkan kepercayaan cenderung lebih rendah”. 

Menurut seorang peneliti dari Mercator Institute for China Studies, Mareike Ohlberg, masyarakat China memang memiliki trust issues atau masalah kepercayaan. Hal ini mulai dari kualitas makanan, upah pekerja yang tidak dibayar, bahkan polusi yang ada di lingkungan. 

Dengan adanya sistem kredit sosial ini, pemerintah percaya bahwa titik data dapat membantu menilai kualitas kredit individu, dan status sosial masyarakat. 

Hasil dari penilaian yang komprehensif tersebut dapat membuat pemerintah memberikan insentif kepada para warga negara yang memiliki akses ke hotel mewah, pendidikan dan beasiswa, hak akomodasi dan juga manfaat lainnya, serta menghukum individu dengan meningkatkan premi asuransi, membatasi akses terhadap layanan publik dan sejenisnya, mengurangi jumlah pinjaman uang, tanpa perlu ikut campur tangan secara langsung dalam setiap kasus.


Contoh Penerapan Sistem Kredit Sosial

Sistem kebijakan ini diterapkan menggunakan sistem pengawasan yang berteknologi tinggi dan terbaru, mengingat China sendiri merupakan negara yang memiliki kemampuan besar dalam menciptakan kecerdasan buatan. 

Kamera pengintai yang terpasang di seluruh penjuru kota dan fasilitas umum, didesain dengan pemindaian tubuh, serta dilengkapi dengan pengenalan wajah, dan pelacakan geografis yang bertujuan untuk memberikan pandangan konstan terhadap setiap warga negara. 

Belum lagi ditambah dengan ponsel cerdas yang digunakan untuk mengumpulkan data dan memantau kegiatan secara online sehari hari. Sistem tersebut umumnya selalu bersifat “live” sehingga skor tiap warga dapat terus diperbarui seiring waktu. 

Meski adanya sistem ini benar – benar mengikat seluruh aktivitas dan pekerjaan warganya setiap harinya, tapi beberapa warga mungkin sudah mulai terbiasa dengan hal itu. 

Prospek kehidupan memang benar – benar berada di bawah jaringan dan pengawasan negara, namun bukan berarti sistem ini diciptakan tanpa tujuan yang jelas. 

Kredit sosial dibuat karena pemerintah berpikir ini adalah cara terbaik untuk mengelola negara mereka yang kompleks dengan jumlah populasi yang terbesar di dunia. Tentu masyarakat juga menginginkan kondisi negara dan lingkungan mereka senantiasa stabil dan aman.


Kata Penutup

“Kredit” dalam sistem di beberapa negara, menjadi jaminan dasar untuk interaksi sosial masyarakatnya. Seseorang tidak akan berhasil bila tidak ada kredit. 

Demikian juga dengan negara bisa runtuh apabila tidak ada kredit. Ini lah alasan mengapa pentingnya “kredit sosial” bagi suatu negara. 

Semoga materi kali ini bermanfaat, dan jangan lupa untuk klik tombol share dibawah ini, bookmart juga blog kosngosan untuk mendapatkan informasi terbaru ya!

Oleh rezaharahap