Apa Penyebab Kesenjangan Sosial di Indonesia

Apa Penyebab Kesenjangan Sosial di Indonesia

Baca juga :

social gap

Kalau kamu merasakan kesenjangan sosial (social gap) yang begitu tinggi akhir akhir ini, mungkin kita akan bertanya tentang alasan dan penyebab mengapa kesenjangan sosial tersebut begitu terasa di era teknologi dan globalisasi seperti zaman now ini khususnya bagi masyarakat indonesia.

Apa yang Menyebabkan Kesenjangan Sosial Begitu Tinggi di Kalangan Masyarakat Indonesia?

Berbicara mengenai kesenjangan sosial, kita tidak bisa menampik keadaan yang sebenarnya pada negeri ini. Kesenjangan sosial memang begitu mengkhawatirkan, tapi ini bukanlah kesalahan kurangnya perhatian pemerintah semata. Kesenjangan tercipta dari akumulasi berbagai permasalahan ekonomi dan sosial. Dan kita akan membahas sebentar lagi tentang penyebabnya.

Apa yang Menyebabkan Kesenjangan Sosial (social gap) Begitu Tinggi di Indonesia? Dan Apa sebenarnya kesenjangan sosial itu? Dari makna bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu perbedaan taraf hidup masyarakat yang begitu ekstrim di suatu daerah. Setelah itu, kesenjangan sosial akan berisiko memunculkan konflik sosial antara kaum “kaya” dengan kaum “miskin”, hilangnya gotong royong serta munculnya penindasan yang justru merugikan kedua belah pihak.

Mengapa kesenjangan justru merugikan kedua belah pihak? Karena pada prinsipnya kesenjangan akan memberikan jarak (gap) nyata diantara miskin dan kaya. Masyarakat miskin tidak bisa bergaul dengan masyakat kaya. Begitu sebaliknya. Padahal kedua strata ini saling membutuhkan dalam berbagai aktifitas.

Alasan dan Penyebab Kesenjangan Sosial (social gap)

Dari situ, muncul pertanyaan, apa yang memicu terjadinya kesenjangan sosial? Tentunya jawaban dari pertanyaan itu merupakan sesuatu yang relatif, tapi patut untuk di pecahkan. Salah satunya kita tidak dapat memungkiri tentang berlakunya sistem liberalisme dan kapitalisme dalam negeri ini.

Liberalisme, kebebasan tanpa batas yang menjunjung tinggi nilai nilai freedom untuk setiap orang dalam mengeruk sumber daya demi kekayaan pribadi semata. Hal ini mengesampingkan aturan seperti studi AMDAL dan kepentingan sosial disekitarnya.

Sedangkan Kapitalisme yang berfokus pada modal terus digalakkan. Kapitalisme mengerdilkan peran bisnis orang miskin yang otomatis tidak memiliki modal awal dalam setiap aktifitas bisnis. Tidak pelak kapitalisme menjadikan suatu wilayah dikuasai oleh kalangan pemodal, namun justru miris penduduk lokalnya tidak merasakan manfaat ekonomi sama sekali.

Permasalahan adanya perubahan pola pikir pada masyarakat menjadi faktor yang tak dapat dikesampingkan. Masyarakat kalangan bawah cenderung menyikapi fenomena social gap ini sebagai suatu ketidakadilan dan justru tidak produktif untuk bekerja.

Jika masyarakat bawah cenderung berputus asa, masyarakat atas justru bersikap apatis dengan social gap ini. Tidak adanya kepedulian sosial, menjadikan mereka lebih bergaul dengan kelompok yang setara, dan melupakan eksistensi kalangan bawah terhadap kehidupan mereka.

Bagaimana solusinya? Tentu ini menjadi PR bersama antara Pemerintah dan masyarakat. Pemerintah yang baik akan berperan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Menciptakan lowongan kerja, memperbaiki izin usaha yang melanggar dan memasukkan program unggulan dalam setiap kebijakan strategisnya.

Kaum bawah menelurkan kreatifitas mereka untuk negeri ini, dengan semangat pantang menyerah untuk meraih kesuksesan. Karena tiada hasil yang mengingkari usaha.

Sementara untuk kaum “atas” lebih menunjukkan simpatinya terhapap lingkungan sekitarnya. Memberikan lowongan kerja, berinteraksi dan mentaati peraturan dalam setiap aktifitas bisnis yang dilakoninya. Sehingga, terakhir, tidak ada lagi pemukiman padat di bawah gedung pencakar langit, atau tuna wisma yang tidur di depan toko perhiasan.

Sekian postingan opini mimi kali ini mengenai Apa yang Menyebabkan Kesenjangan Sosial Begitu Tinggi di Kalangan Masyarakat Indonesia? Semoga bermanfaat dan jangan lupa memberikan komentar tentang opinimu atau share artikel ini di media sosialmu ya.
Buka Komentar