3 Solusi mengatasi bullying dan pengucilan di sekolah

3 Solusi mengatasi bullying dan pengucilan di sekolah

solusi bullying di sekolah

Artikel mengenai bullying di sekolah kali ini akan kosngosan bahas dengan memberikan beberapa solusi didalamnya. Karena peristiwa kejahatan ini sudah sangat merebak dan menimbulkan banyak korban, sudah seharusnya pemerintah merumuskan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya hal serupa. Kita sudah sangat mengenal beberapa contoh kasus bullying dan persekusi yang terjadi di berbagai tingkat sekolah di Indonesia. Sejauh mana peran kita dalam memerangi kejahatan terselubung ini?

Mengapa perlu mengangkat tema persekusi dan bullying dalam pendidikan? Civitas akademik serta warga sekolah sering dihadapkan oleh berbagai bentuk persekusi ringan. Tidak hanya luput dari perhatian, persekusi selama ini dinilai hanya berkutat pada hal politik, agama dan turunan kriminalitas fisik semata.

Baca juga : 5 Cara Memperkuat Hafalan Saat Belajar dan Ujian

Sebenarnya, persekusi juga bisa berbentuk sederhana dari akumulasi bullying massif dan berkelanjutan yang sering terjadi dalam dunia pendidikan kita. Ada banyak korban dari kejahatan yang tersepelekan ini. Contoh kasus bullying di lingkungan sekolah misalnya yang terkenal adalah

Pengertian Bullying dan Persekusi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah persekusi merupakan serangkaian aktifitas perburuan sewenang-wenang terhadap individu maupun kelompok yang kemudian dipersusah, diteror, disakiti dan ditumpas.

Persekusi merupakan tindakan suatu pihak secara sewenang-wenang dan sistematis juga luas. Dalam hal ini lebih kepada memburu seseorang atau golongan tertentu. Persekusi lebih luas cakupannya dibanding main hakim sendiri." Demikian defenisi persekusi menurut Damar Juniarto (Anggota Koalisi Anti Persekusi dari Safenet)

Secara sederhana, persekusi dan bullying adalah dua sisi koin yang tidak terlepaskan. Bullying menyerang head to head dengan pelakunya adalah individu atau kelompok kecil. Sementara persekusi secara massal meneror, mengintimidasi dan sering melibatkan media sosial. Inti keduanya adalah menyudutkan dalam pergaulan, segala bentuk perlakuan yang membuat korban merasa tidak aman dalam melakukan aktifitasnya di dalam lembaga pendidikan.

Penyebab bullying dan persekusi di sekolah


Persekusi dan bullying kerap terjadi dalam pergaulan pendidikan saat ini. Adanya komunitas tertentu yang superior membawa pergaulan sesama peserta didik tidak sehat. Kejahatan ini kerap kali dilakukan oleh mereka yang mempunyai invisible hand, oknum tertentu yang merasa diusik kepentingannya serta pihak yang merasa dirugikan dalam suatu gesekan pendidikan.

Senioritas sebagai turunan yang menciptakan penghormatan dalam pergaulan pendidikan. Sisi positifnya, tercipta rasa taklim yang ideal antar junior - senior sesuai norma pergaulan. Sisi negatifnya, apabila salah kaprah, muncul kesewenangan senior yang menjadi cikal bakal munculnya kejahatan bullying dan persekusi.

Ketika individu atau kelompok melakukan kritik terhadap suatu hal dalam pendidikan atau melakukan sesuatu antimainstream lainnya, maka boleh jadi muncullah teror, pengucilan dan diskriminasi pergaulan.

Korban tidak bisa melakukan perlawanan karena minimnya dukungan, atau lebih parahnya lagi memilih untuk diam. Pihak berkuasa dalam hal ini pelaku, selalu punya kekuasaan. Bahkan terkadang mereka adalah para pemegang keputusan tertentu dalam institusi pendidikan.

Selain senioritas dan pergaulan sesama dalam lembaga pendidikan, Full Day School juga kerap berpotensi meningkatkan resiko terjadinya persekusi dan bullying. Saya termasuk kalangan yang kontra terhadap FDS.

Tanpa mengesampingkan dampak positifnya, pergaulan dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan pergaulan sosial di masyarakat. Dengan begitu, pola pergaulan anak - anak lebih teratur, tidak mengalami ketimpangan peran dalam pergaulan sosial dan pergaulan pendidikannya.

1. Peningkatan Peran Guru dan Keluarga


peran guru mengatasi bullying

Kesuksesan seorang anak berasal dari guru sekolah dan orangtua di rumah. Kepedulian guru tidak berakhir pada nilai akademik semata. Kepekaan akan perubahan sifat dan kebiasaan anak didik menjadi poin penting dewasa ini.

Bagi keluarga di rumah, memberikan perhatian khusus untuk anak adalah suatu kewajiban sebagai orangtua. Adanya family time saat weekend menjadi salah satu momen mendekatkan diri dengan anak – anak. Jangan sampai orangtua merasa asing dengan anak, begitu juga sebaliknya.

2. Merajut Persaudaraan dan Silaturahmi


silaturahmi solusi bullying

Isu SARA digoreng untuk menjatuhkan pihak tertentu yang berseberangan. Kini, lembaga pendidikan mesti memberikan mata pelajaran khusus untuk meningkatkan kembali ukhuwah persatuan antar suku, agama, ras dan antargolongan. Supaya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” benar – benar terwujud dalam pergaulan sehari – hari.

3. Upaya Penguatan Nilai Nilai Pancasila


nilai pancasila bullying

Tingginya arus westernisasi dan koreanisasi dinilai berperan dalam melemahnya nilai – nilai Pancasila terhadap kehidupan anak muda sekarang. Pertarungan antar budaya impor dan lokal akan terus terjadi seiring tumbuhnya teknologi informasi. Budaya lokal akan bisa menang dengan pengaplikasian nilai Pancasila sebagai filter terhadap aspek mana yang dinilai perlu untuk dibuang dan mana yang dipertahankan.

Baca juga : 6 Manfaat Membacakan Dongeng Untuk Anak Sebelum Tidur

Pada akhirnya, menghilangkan persekusi dan bullying dalam dunia pendidikan adalah tugas bersama. Persekusi dalam komunitas pendidikan memang bukanlah segenting hal ihwal kejahatan KKN. Namun apabila dibiarkan, ini akan menjadi titik awal bangkitnya kejahatan pendidikan dalam level yang lebih serius hingga munculnya degradasi moral anak - anak kita.

Data survei Kementerian Sosial, sebanyak 84 persen anak usia 12 tahun hingga 17 tahun pernah menjadi korban bullying. Dari 976 kasus yang diterima oleh Kementerian Sosial melalui pengaduan dan telepon langsung, 17 diantaranya adalah Kasus Bullying, Intimidasi (Persekusi). Jumlah ini akan terus bertambah bila tidak ditangani secara serius.

Apabila anda mengalami, melihat, mengetahui tindak kejahatan bullying dan persekusi, harus dilaporkan. Kejahatan sekecil apapun tidak bisa ditolerir. Silahkan adukan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK.

Lembaga mandiri ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada saksi dan korban dari Bullying/Kekerasan, Whistleblower, Korupsi, Persekusi atau kasus kejahatan lainnya. Jangan diam untuk sesuatu yang bisa menyelamatkan orang – orang yang kita sayang.

Demikianlah artikel mengenai 3 Cara Mencegah Bullying di Sekolah dan Mengatasi Korbannya. Semoga saja kita semua terhindarkan dari praktik kejahatan ini. Berikan pendapat dan penilaianmu terhadap pembahasan kali ini dengan mengisi kotak komentar dibawah ini. Terimakasih telah berkunjung.
Buka Komentar