Tugas, Fungsi dan Sejarah BMKG di Indonesia

Ketika bencana terjadi di Indonesia, kamu pasti sering mendengar konfrensi pers yang diadakan oleh BMKG. Sebenarnya bagaimana BMKG bekerja, apa tugas dan fungsi dari BMKG yang kepanjangannya adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika? Tahukah kamu mengenai sejarah pendiriannya? Pada kesempatan kali ini kosngosan akan memberikan artikel mengenai BMKG tersebut. Semoga bermanfaat.
tugas fungsi sejarah bmkg

Salah satu yang menyebabkan pentingnya BMKG bagi negara Indonesia adalah karena negara ini memang menjadi salah satu negara yang paling aktif aktifitas tektonik dan vulkaniknya. Hal ini membuat aktivitas kegempaan maupun gunungapi kerap terjadi.

Pada dasarnya tugas BMKG meliputi tugas yang ada pada ahli meteorologi, ahli klimatologi dan ahli geofisika. Selanjutnya kita akan membahas mengenai sejarah pendiriannya terlebih dahulu yang materinya tidak akan kamu dapatkan dari situs tanya jawab seperti brainly. Pada awalnya aktifitas pengamatan meteorologi dan geofisika dikerjakan oleh seorang ahli yang bernama Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor pada tahun 1841.

Baca juga : Solusi jika minyak bumi habis, 8 alternatif energi ini bisa dicoba

Lalu 25 tahun kemudian, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1866 mendirikan instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium yang diketuai oleh Dr. Bergsma. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, instansi meteorologi dan geofisika diganti menjadi Kisho Kauso Kusho.

Tahun 1949 badan ini berubah nama lagi menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika dibawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. 1955 berubah lagi namanya menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika dan tahun 1960 namanya dikembalikan menjadi Jawatan Meteorologi. Pada tahun 1965, nama lembaga ini berubah menjadi Direktorat Meteorologi dan Geofisika.

Hingga pada 1972, badan ini berganti nama lagi menjadi Pusat Meteorologi dan Geofisika, dan statusnya diubah menjadi instansi setingkat eselon II. 8 tahun setelahnya statusnya dinaikkan menjadi instansi setingkat eselon I bernama Badan Meteorologi dan Geofisika. Tahun 2002, berdasarkan Kepres RI Nomor 46 dan 48 tahun 2002, struktur organisasinya diubah menjadi lembaga pemerintah non departemen bernama Badan Meteorologi dan Geofisika.

Terakhir dibentuklah Perpres Nomor 61 Tahun 2008 dan berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan status tetap sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen dan pada tanggal 1 Oktober 2009 Presiden SBY kala itu mengesahkan UU Nomor 31 Tahun 2009 mengenai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dan berlaku hingga saat ini.

Bagaimana BMKG bekerja?


BMKG sebagai institusi non kementerian yang bertugas dalam bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika memiliki tupoksi dalam analisis dan prediksi terkait iklim, cuaca maupun bencana kebumian (seperti tsunami maupun gempa bumi).

Pada divisi geofisika (gempa bumi dan tsunami), lembaga ini memanfaatkan peralatan seismometer yang tersebar diseluruh wilayah di Indonesia, juga penyebaran alat pendeteksi ketinggian gelombang di beberapa tempat rawan bencana di Indonesia.

Dari beberapa alat tersebut, akan diolah menggunakan teknologi komputasi secara real-time siang dan malam untuk menganalisis aktivitas tektonik dibawah permukaan. Tentunya ini membutuhkan sumberdaya manusia yang kompeten.

Ketika ada insiden gempa bumi dengan skala magnitudo yang cukup besar maupun kecil tetapi pada area yang dekat dengan penduduk, BMKG akan langsung memberikan peringatan awal (early warning) kepada masyarakat.

Tentunya dalam jeda waktu yang singkat (biasanya dalam rentang 2 - 5 menit), BMKG qkan secepatnya melakukan analisis secara pemodelan terkait pola tsunami (jika gempa terjadi dilaut atau pun akibat longsoran bawah laut)

Ditambah lagi dari model yang telah dibuat berdasarkan parameter gempa dan tsunami yang didapatkan. Kemudian akan dilakukan koreksi terkait peringatan awal yang telah disampaikan sebelumnya kepada masyarakat.

Apa permasalahan yang harus dihadapi oleh BMKG saat ini?


Permasalahan paling penting yang harus dihadapi lembaga ini biasanya terkait dengan keterbatasan alat pendeteksi gempa dan tsunami, dan juga kerusakan alat karena faktor usia, alsan teknis dan maraknya tindakan pengrusakan oleh masyarakat itu sendiri. Hal tersebut semakin diperparah dengan keterbatasan anggaran yang diterima oleh BMKG.

BMKG dituntut untuk dapat memberikan dan menjelaskan informasi mengenai analisis prediksi kebencanaan kepada masyarakat untuk mengurangi dampak kerugian yang dirasakan oleh masyarakat.

Tentu ini menjadi tugas yang cukup berat bukan? Oleh karena itu lembaga ini sudah sepatutnya mendapatkan anggaran berlebih pada tahun yang akan datang, mengingat bencana di Indonesia akhir akhir ini sangat sering terjadi.

Penjelasan mengenai teknologi Ina-TEWS


Ina-TEWS atau Indonesia Tsunami Early Warning System merupakan suatu sistem peringatan dini tsunami yang dibuat dan dikelola oleh BMKG. Sistem ini bekerja dengan membuat pemodelan dari parameter tsunami yang didapatkan yang kemudian dibuat prediksi potensi kerusakan maupun area terdampak tsunami. Kamu bisa searching dan googling selengkapnya mengenai teknologi ini.

Apakah BMKG bisa salah dalam memberikan informasi?


Pertanyaan ini senada dengan penilaian skeptis dari masyarakat mengenai kinerja BMKG akhir akhir ini. Hal yang harus disadari oleh kita adalah bahwa lembaha BMKG hanya bisa melakukan prediksi mengenai gempa bumi dan tsunami yang akan terjadi. Dari penjelasan diatas, secara sederhana dapat kita pahami bahwa gempa bumi dan tsunami hanya bisa dideteksi pada saat kejadian tersebut sedang terjadi.

Jadi ingat, baik gempa bumi atau tsunami adalah bencana Unpredictible (setidaknya hingga saat ini, karena teknologi manusia masih terbatas mengenai ini). Baik gempa bumi dan tsunami adalah bencana yang terjadi akibat aktivitas tektonik maupun aktivitas yang sifatnya lebih minor yang terjadi secara berkelanjutan tanpa bisa dihentikan.

Semua benda padat dibumi memiliki batasan ketahanan terhadap tekanan atau gaya yang diterima olehnya. Begitu juga dengan lempeng tektonik, dimana karena aktif-nya pergerakan lempeng ini tentu membuat terakumulasinya energi yang harus diterima oleh lempeng itu (baik zona konvergen maupun transform).

Secara teknis permasalahan itu merupakan akumulasi energi kapan akan dilepaskan sebagai energi seismik yang menyebabkan gempa bumi? Siapa yang tahu, itu belum bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan saat ini.

Berdasarkan data gempa yang dimiliki oleh BMKG, akan dilakukan analisis statistik untuk memprediksi periode ulang gempa bumi disuatu tempat. Untuk tsunami, analisis prediksi tsunami harus mempertimbangkan beberapa faktor penyebab dan mekanisme terjadinya tsunami serta parameter tsunami yang telah terjadi.

Dengan data yang seadanya karena faktor yang disebutkan pada bahasan sebelumnya, ditambah lagi beberapa faktor alam, BMKG harus memberikan informasi yang se-kredibel dan se-akurat mungkin kepada masyarakat.

Sehingga ketika ada informasi yang diberikan keliru atau salah, itu bukanlah sesuatu yang dapat dipungkiri lagi karena setiap prediksi bencana itu bersifat riskan, tidak mutlak benar dan penuh dengan risiko kesalahan.

Baca juga : Solusi dampak negatif pembangunan pariwisata terhadap lingkungan hutan

Jadi bagi kalian yang suka nyir-nyir terhadap BMKG, seharusnya sudah mengerti mengenai keterbatasan lembaga ini dalam memberikan informasi bencana kepada masyarakat. Hal yang perlu kita lakukan sebagai masyarakat adalah selalu siaga dan melek terhadap resiko bencana yang bisa datang kapan dan dimana saja.

Demikianlah pembahasan mengenai Tugas, Fungsi dan Sejarah BMKG di Indonesia kali ini, semoga bermanfaat bagi kalian semua. jangan lupa share dan berikan komentar dibawah ini ya. Terimakasih telah berkunjung.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel