Contoh Fee Kontinjen (Contingency Fee) dalam Akuntan Publik
Akuntansi adalah ilmu yang mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan penilaian serta pengambilan keputusan dengan jelas (akuntabel) dan transparan bagi pihak yang menggunakan data tersebut untuk kepentingan tertentu.
Tokoh yang bernama Luca Pacioli yang menulis buku berjudul "Summa de Arithmetica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita" yang kemudian menjadi cikal bakal ilmu akuntansi.
Muncullah masa Revolusi Industri pada pertengahan abad ke 18 sampai 19 di Inggris yang membutuhkan adanya suatu pencatatan dan manajemen pembukuan yang baik dari suatu permintaan modal yang besar untuk membangun pabrik dan membeli mesin-mesin.
Baca juga : Pengertian Mentalitas Silo dalam Dunia Kerja
Sementara arti kontinjensi (dalam kata bakunya adalah kontingensi) menurut kbbi adalah suatu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian dan berada di luar jangkauan.
Kontinjensi sendiri merupakan suatu kondisi yang masih memiliki ketidakpastian mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu instansi atau organisasi. Ini akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di kemudian hari.
Sementara itu Fee Kontijen adalah suatu fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu layanan jasa profesional oleh akuntansi terhadap kliennya tanpa adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan atau hasil tertentu dimana jumlah fee tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut.
Nah fee ini akan dianggap tidak kontinjen jika ditetapkan oleh pengadilan atau badan pengatur atau dalam hal perpajakan. Apabila dasar penetapan adalah hasil penyelesaian hukum atau temuan badan pengatur.
Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mewadahi profesi akuntan tidak diperkenankan untuk menetapkan fee kontinjen apabila penetapan tersebut dapat mengurangi indepedensi sang akuntan. Jadi besaran fee ini ditentukan oleh kesepakatan kedua belah pihak antara klien dengan akuntan.
Fee Kontijen ini adalah salah satu kode etik dalam profesi Akuntan Publik. Resiko ketidakpastian di masa depan menjadi salah satu aspek yang harus dipertimbangkan agar dapat melakukan perhitungan dan pencatatan yang benar secara transparan dan kredibel.
Setelah mempertimbangkan beberapa aspek diatas, seterusnya kamu perlu mengetahui bagaimana fee kontijen itu, seperti apa contohnya.
Muncullah masa Revolusi Industri pada pertengahan abad ke 18 sampai 19 di Inggris yang membutuhkan adanya suatu pencatatan dan manajemen pembukuan yang baik dari suatu permintaan modal yang besar untuk membangun pabrik dan membeli mesin-mesin.
Baca juga : Pengertian Mentalitas Silo dalam Dunia Kerja
Pengertian Fee Kontijensi (Contingency Fee)
Dalam ilmu akuntansi ada yang namanya istilah Kontijensi. Kontinjensi sendiri adalah suatu peristiwa atau transaksi yang memiliki syarat yang paling banyak ditemukan dalam kegiatan perbankan.Sementara arti kontinjensi (dalam kata bakunya adalah kontingensi) menurut kbbi adalah suatu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian dan berada di luar jangkauan.
Kontinjensi sendiri merupakan suatu kondisi yang masih memiliki ketidakpastian mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu instansi atau organisasi. Ini akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di kemudian hari.
Sementara itu Fee Kontijen adalah suatu fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu layanan jasa profesional oleh akuntansi terhadap kliennya tanpa adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan atau hasil tertentu dimana jumlah fee tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut.
Nah fee ini akan dianggap tidak kontinjen jika ditetapkan oleh pengadilan atau badan pengatur atau dalam hal perpajakan. Apabila dasar penetapan adalah hasil penyelesaian hukum atau temuan badan pengatur.
Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mewadahi profesi akuntan tidak diperkenankan untuk menetapkan fee kontinjen apabila penetapan tersebut dapat mengurangi indepedensi sang akuntan. Jadi besaran fee ini ditentukan oleh kesepakatan kedua belah pihak antara klien dengan akuntan.
Fee Kontijen ini adalah salah satu kode etik dalam profesi Akuntan Publik. Resiko ketidakpastian di masa depan menjadi salah satu aspek yang harus dipertimbangkan agar dapat melakukan perhitungan dan pencatatan yang benar secara transparan dan kredibel.
Contoh Kasus Fee Kontijensi
Seorang akuntan publik bisa diberikan fee atau honor yang dihitung per jam. Bahkan dibayar dalam mata uang asing. Jasa akuntan publik ini bisa dimanfaatkan perusahan untuk pembuatan laporan keuangan dan hal yang terkait dengannya seperti audit.
Dalam soal akuntansi, jasa mereka meliputi bidang pembukuan, akuntansi, audit dan laporan keuangan untuk keperluan pajak.
Misalnya seorang CEO dari startup A yang sedang berkembang, sedang kebingungan menghadapi pemeriksaan keuangan oleh pegawai pajak. Kemudian dia memilih untuk menyewa jasa akuntan publik X.
Setelah disepakati, adanya fee kontijen sebesar Z satuan rupiah apabila sang akuntan menemukan ketidaksesuaian antara laba perusahaan awal yang diperkirakan dengan laba sebenarnya.
Setelah dianalisis dan dhitung oleh akuntan X, maka ternyata ditemukan adanya ketidaksesuaian antara laba perusahaan dengan besarnya pajak yang ditentukan.
Selisih antara laba awal dan laba yang sebenarnya adalah P %. Maka fee kontijen yang diberikan kepada akuntan tersebut adalah sebesar perhitungan Z satuan dikalkulasikan dengan P %.
Misalnya seorang CEO dari startup A yang sedang berkembang, sedang kebingungan menghadapi pemeriksaan keuangan oleh pegawai pajak. Kemudian dia memilih untuk menyewa jasa akuntan publik X.
Setelah disepakati, adanya fee kontijen sebesar Z satuan rupiah apabila sang akuntan menemukan ketidaksesuaian antara laba perusahaan awal yang diperkirakan dengan laba sebenarnya.
Setelah dianalisis dan dhitung oleh akuntan X, maka ternyata ditemukan adanya ketidaksesuaian antara laba perusahaan dengan besarnya pajak yang ditentukan.
Selisih antara laba awal dan laba yang sebenarnya adalah P %. Maka fee kontijen yang diberikan kepada akuntan tersebut adalah sebesar perhitungan Z satuan dikalkulasikan dengan P %.
Contoh Kasus Fee Kontinjensi dalam Kasus Hukum
Seorang pengacara terkenal A menangani kasus gugatan ganti rugi kecelakaan.
Perjanjiannya diawal : Klien tidak membayar biaya di awal, Pengacara menerima 30% dari total ganti rugi jika kasus dimenangkan, Jika kalah, klien tidak membayar honor pengacara (kecuali biaya administrasi tertentu)
Maka contho fee kontijensinya :
Ganti rugi yang dimenangkan: Rp500.000.000
Contingency fee (30%): Rp150.000.000
Klien menerima: Rp350.000.000
Contoh Kasus Contingency Fee dalam Konsultan Bisnis di Perusahaan
Konsultan digital marketing membantu menaikkan penjualan pada brand A. Dengan perjanjian:
Fee 25% dari peningkatan omzet dibandingkan dengan omzet rata-rata sebelum kerja sama
Contoh hasilnya setelah satu bulan :
Omzet awal: Rp100.000.000/bulan
Omzet setelah kampanye: Rp160.000.000/bulan
Kenaikan: Rp60.000.000
Maka Contingency fee yang didapatkan dari jasa konsultan itu adalah (25%) atau Rp15.000.000
Bagi seorang klien, tentu saja penting mencari akuntan publik yang benar benar berkualitas. Adapun beberapa tips singkat dalam memilih akuntan publik diantaranya :
- Lihat pengalamannya (track record), cobalah ketahui pengalaman yang mereka miliki dengan mengajukan pertanyaan tentang situasi keuangan yang kompleks
- Lihat pelayanannya terhadap klien lain. Tanya juga pada calon akuntan apa saja pelayanan yang akan didapat jika perusahaan memutuskan menggunakan jasanya
- Pertimbangkan Biaya serta Penagihan.
- Apakah akuntan tersebut memiliki Sertifikasi atau Credential
- Pastikan akuntan tersebut memahami teknologi yang dimiliki oleh perusahaan
Baca juga : Pengertian Cancel Culture dan Contohnya
Kata Penutup
Pada dasarnya menjadi profesi apapun pada level profesional memang selalu memiliki kode etiknya masing masing.Jadi apabila kamu ingin benar benar menjadi seorang akuntan publik yang handal, maka junjung tinggilah asas asas yang sudah ditetapkan oleh KAP itu sendiri.
Sekianlah pembahasan seputar Contoh dan Pengertian Fee Kontinjensi Pada Profesi Akuntan Publik kali ini, semoga bisa bermanfaat bagi kalian semuanya. Jangan lupa share tulisan ini agar menambah wawasan yang lain.
Sekianlah pembahasan seputar Contoh dan Pengertian Fee Kontinjensi Pada Profesi Akuntan Publik kali ini, semoga bisa bermanfaat bagi kalian semuanya. Jangan lupa share tulisan ini agar menambah wawasan yang lain.
