Contoh Materi Karya Tulis Ilmiah Remaja Tema Pendidikan

Contoh Materi Karya Tulis Ilmiah Remaja Tema Pendidikan

karya tulis ilmiah pendidikan
Karya ilmiah remaja merupakan sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang mungkin kini sudah menjadi yang terpopuler di dunia ekstra di tingkat SMP ataupun SMA. Kegiatan karya ilmiah remaja ini cukup membuat kita mengasah otak kita, bagaimana tidak ekstrakurikuler ini kita dipaksa untuk menentukan bahan materi penelitian dan setelah itu kita wajib meneliti hal tersebut se jelas-jelas nya. Langkah-langkah di dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Tahap Persiapan, Memersiapkan Bahan Untuk Diteliti, Mengumpulkan Data, Melakukan Penelitian dan menarik Kesimpulan.

Tetapi jika kalian melihat cara atau langkah-langkah kegiatan karya ilmiah remaja pasti anda akan gembira karena kegiatan nya mudah,namun tidak seperti yang kalian bayangkan. Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja atau kir atau kis ini sangat rumit dan sangat membutuhkan waktu yang lama,hal yang membuat nya lama adalah menentukan topik atau gagasan penelitian nya guru kir anda pasti akan menyeleksi bahan kir mana yang baik diteliti dan mana yang tdak boleh diteliti. Namun tujuan dari artikel ini adalah untuk memeprtlihatkan saja contoh artikel saya yang sudah di approve oleh guru kir di smpn saya dan sekaligus bahan penelitian ini sudah maju ke tingkat Kabupaten,silahkan di baca-baca.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah besar yang dihadapi orang tua saat ini adalah bagaimana anak-anak mereka berprestasi dalam pembelajaran atau berakhlak mulia dimanapun, terutama di lingkungan sekolah. Pernyataan tersebut merupakan kewajiban orang tua untuk menyukseskan anak-anaknya. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan bagi pendidikan di Indonesia karena pendidikan orang tua lah yang sangat berpengaruh bagi pendidikan akhlak anak- anaknya.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa peringkat mutu pendidikan Indonesia berada di urutan ke-12 dari 12 negara asia yaitu Korea Selatan, dilanjutkan Singapura, Jepang, Taiwan, India, Cina, Malaysia, Hongkong, Filiphina, Thailand,Vietnam, dan terakhir Indonesia.Oleh karna itu Pemerintahan Indonesia harus meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.Selain pemerintah orang tua juga berperan penting untuk meningkatkan prestasi anaknya.

Kami akan meneliti atau menelusuri bagaimana pengaruh pendidikan orang tua bagi prestasi anak-anaknya. Dalam penelitian ini kami harapkan dapat diketahui korelasi antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, identifikasi masalah yang kami susun adalah sebsgai berikut:
1. Bagaimana kualifikasi tingkat pendidikan orang tua siswa.
2. Apa sajakah prestasi belajar siswa di SMP Negeri 1 Kalasan.
3. Bagaimanakah pengaruh pendidikan orang tua bagi prestasi siswa?

1.3. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah dalam penelitian ini dibatasi pada penelitian tentang pengaruh pendidikan orang tua bagi prestasi siswa SMP Negeri 1 Kalasan. Pengaruh yang dimaksud adalah prestasi belajar siswa dalam perolehan nilai dan prestasi.

1.4. Rumusan Masalah

Bertolak dari pembatasan di atas, permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi siswa.

1.5. Tujuan penelitian

Bedasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pendidikan orang tua terhadap prestasi anaknya.

1.6. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian tersebut yaitu kita akan menjadi tahu bagaimanakah pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya ,selain itu ada beberapa lagi manfaat dari penelitian tersebut yaitu:
1.    Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan perhatian orangtua terhadap anaknya.
2.    Untuk mendorong memberikan perhatian yang penuh kasih sayang demi perkembangan kepribadian dan kecerdasan anak.

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan pada umumnya berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain, menuju kearah suatu cita- cita tertentu (Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1982), cet. 1., hlm. 6.). Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah dan madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti di sekolah, madrasah, dan institusi-institusi lainnya(Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet. 15., hlm. 11.).

“Education is a process of overcoming natural inclination and subtituting in its place habits acquired under external pressure” (John Dewey, Experience and Education, 1st. Ed., (New York: Touchstone Rockefeller Center, 1997), hlm. 17.). (Pendidikan adalah proses mengatasi kecenderungn alami dan menggantikannya dalam kebiasaan yang diperoleh dengan keadaan tertekan).
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah arahan dan bimbingan kepada seseorang dan merupakan pengaruh dari pengalaman belajar yang terus-menerus dialami seseorang untuk mencapai sutu tingkat kedewasaan.

a. Pendidikan Orang Tua

Dapat kita ketahui bahwa setiap orang tua mempunyai tingkat kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga mampu, dan ada yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ada yang berasal dari keluarga berpendidikan tinggi, ada pula yang berasal dari keluarga berpendidikan rendah. Kesemuanya itu mengakibatkan perbedaan tingkat pendidikan yang dialami seseorang. Bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu banyak mendapatkan kesempatan yang setinggi-tingginya untuk sekolah, karena biaya mendukung. Sebaliknya pula bagi mereka yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, tidak banyak mendapatkan kesempatan yang tinggi untuk sekolah karena biaya yang tidak mendukung.

Demikian juga bagi mereka yang berasal dari keluarga berpendidikan tinggi,merekapun mungkin akan memperoleh kesempatan untuk sekolah yang tinggi karena orang tuanya akan mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Akan tetapi, bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang pendidikannya, mungkin mereka kurang banyak mendapat kesempatan untuk sekolah karena orang tua kurang tahu akan tanggung jawabnya pada pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu pengalaman yang dialami seseorang khususnya pengalaman pendidikan berbeda-beda, baik dilihat dari jalur maupun jenjang pendidikannya. Untuk lebih jelasnya, maka penulis uraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, antara lain:

b. Tingkat Pendidikan Orang Tua

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan yang dialami dalam suatu lembaga formal (maupun informal). Sedangkan orang tua diartikan ayah-ibu kandung (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), cet. 3., hlm. 802).

Adapun tingkat pendidikan orang tua yang dimaksud disini adalah jenjang pendidikan formal yang dialami orang tua yaitu tingkat pendidikan dasar (lulusan SD/MI dan SMP/MTs), tingkat pendidikan menengah (SMA/MA/SMK atau lainnya yang sederajat) dan tingkat pendidikan tinggi (perguruan tinggi, diploma atau sarjana), jenjang pendidikan informal dan jenjang pendidikan non formal.

c. Fungsi Tingkat Pendidikan Orang Tua

Orangtua adalah pendidik pertama untuk anak- anak mereka, karena dari keduanyalah anak mendapatkan pendidikan pertama kali. Dengan demikian bentuk pertama dri pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga (Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 35). Kegagalan orang tua dalam membina anak untuk menjadikan anak yang baik tidak akan terjadi manakala orang tuanya menjalankan fungsi atau perannya sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap anaknya.

Dalam keluarga, orang tua mempunyai peranan yang sangat vital terhadap kemajuan keluarganya yang meliputi pendidikan anak- anaknya. Sehingga menurut M. Ngalim Purwanto, orang tua dapat dikatakan sebagai pendidik sejati, pendidik karena kodratnya (M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), cet. 13., hlm. 80).

Setiap orang tua memiliki keinginan agar anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang berprestasi dalam pendidikan. Orang tua ingin agar anak-anak mereka dapat meraih prestasi yang maksimal di sekolah. Mereka pun mengharapka agar anak-anaknya memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia yang dicintai oleh banyak orang.

Orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi dan pengalaman yang banyak tentunya akan mempengaruhi gaya kepemimpinannya di dalam keluarga. Sebab semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua maka akan bertambah luas pandangan dan wawasannya, termasuk dalam mengatur keuarganya.

 Bahkan di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa antara orang yang “tahu” (berilmu dan tingkat pendidikannya tinggi)berbeda dengan orang yang “tidak tahu” (sedikit ilmunya dan berpendidikan rendah) dalam cara berpikirnya. Sebagaimana firman Allah SWT. Dalam (Q.S. az- Zumar/39:9):

... Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Departemen Agama RI, AL-JUMANATUL ‘ALI Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit J-ART, 2005), hlm. 459).

Di dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa manusia yang beriman dan berilmu (tinggi) akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Di dalam al-Quran Allah SWT. telah berfirman dalam (Q.S. al- Mujadilah/58:11) :

“Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Departemen Agama RI, AL-JUMANATUL ‘ALI Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 543).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa fungsi tingkat pendidikan orang tua dalam keluarga adalah akan dapat memajukan kepemimpinannya dalam keluarga, terutama dalam mendidik anak- anaknya.

2.2. Hasil Belajar

Bеrdаѕаrkаn pernyataan Nаnа Sudјаnа (2005:3) mеnуаtаkаn bаhwа hаѕіl bеlајаr раdа ѕіѕwа hаkіkаtnуа аdаlаh реrubаhаn tіngkаh lаku іndіvіdu уаng mеnсаkuр аѕреk kоgnіtіf, аfеktіf, dаn рѕіkоmоtоrіk. Purwаntо (2011:46) hаѕіl bеlајаr аdаlаh реrubаhаn реrіlаku реѕеrtа dіdіk аkіbаt bеlајаr. Pеrubаhаn реrіlаku dіѕеbаbkаn kаrеnа dіа mеnсараі реnguаѕааn аtаѕ ѕејumlаh bаhаn уаng dіbеrіkаn dаlаm рrоѕеѕ bеlајаr mеngајаr. Lеbіh lаnјut lаgі іа mеngаtаkаn bаhwа hаѕіl bеlајаr dараt bеruра реrubаhаn dаlаm аѕреkkоgnіtіf, аfеktіf dаn рѕіkоmоtоrіk.

Dіmуаtі dаn Mudјіоnо (2006:10) menyatakan bahwa hаѕіl bеlајаr аdаlаh hаѕіl уаng dісараі dаlаm bеntuk аngkа-аngkа аtаu ѕkоr ѕеtеlаh dіbеrіkаn tеѕ hаѕіl bеlајаr раdа ѕеtіар аkhіr реmbеlајаrаn. Nіlаі уаng dіреrоlеh ѕіѕwа mеnјаdі асuаn untuk mеlіhаt реnguаѕааn ѕіѕwа dаlаm mеnеrіmа mаtеrі реlајаrаn.

Ekо Putrо Wіdоуоkо (2009:1) mеngеmukаkаn hаѕіl bеlајаr tеrkаіt dеngаn реngukurаn, kеmudіаn аkаn tеrјаdі ѕuаtu реnіlаіаn dаn mеnuјu еvаluаѕі bаіk mеnggunаkаn tеѕ mаuрun nоn-tеѕ. Pеngukurаn, реnіlаіаn dаn еvаluаѕі bеrѕіfаt hіrаrkі. Evаluаѕі dіdаhuluі dеngаn реnіlаіаn (аѕѕеѕѕmеnt), ѕеdаngkаn реnіlаіаn dіdаhuluі dеngаn реngukurаn.

Bеnуаmіn Blооm (Nаnа Sudјаnа , 2010: 22-31) mengatakan ѕесаrа gаrіѕ bеѕаr mеmbаgі hаѕіl bеlајаr mеnјаdі tіgа rаnаh, уаіtu rаnаh kоgnіtіf, rаnаh аfеktіf dаn rаnаh рѕіkоmоtоrіk.

a. Ranah kognitif

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:

1) Pengetahuan
2) Pemahaman
3) Aplikasi
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi

b. Ranah Afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai yang terdiri dari lima aspek. Kelima aspek dimulai dari tingkat dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks sebagai berikut.

1) Reciving/ attending (penerimaan)
2) Responding (jawaban)
3) Valuing (penilaian)
4) Organisasi
5) Karaakteristik nilai atau internalisasi nilai

c. Ranah Psikomotor

Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yakni:

1) gerakan refleks yaitu keterampilan pada gerakan yang tidak sadar;
2) keterampilan pada gerakan-gerakan dasar;
3) kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris dan lain-lain;
4) kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan;
5) gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks;
6) kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.

Tоhіrіn (2006:155) menyatakan ѕеѕеоrаng уаng bеrubаh tіngkаt kоgnіtіfnуа ѕеbеnаrnуа dаlаm kаdаr tеrtеntu tеlаh bеrubаh рulа ѕіkар dаn реrіlаkunуа. Suhаrѕіmі Arіkuntо (2007: 121) menyatakan rаnаh kоgnіtіf раdа ѕіѕwа SD уаng сосоk dіtеrарkаn аdаlаh іngаtаn, реmаhаmаn dаn арlіkаѕі, ѕеdаngkаn untuk аnаlіѕіѕ, ѕіntеѕіѕ, bаru dараt dіlаtіh dі SMP dаn SMA dаn Pеrguruаn Tіnggі ѕесаrа bеrtаhар ѕеѕuаі urutаn уаng аdа. Pеngеtаhuаn аtаu іngаtаn mеruраkаn рrоѕеѕ bеrfіkіr уаng раlіng rеndаh, mіѕаlnуа mеngіngаt rumuѕ, іѕtіlаh, nаmа-nаmа tоkоh аtаu nаmа-nаmа kоtа.

Pemahaman merupakan tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan, misalnya memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Menerapkan abstraksi yaitu ide, teori atau petunjuk teknis ke dalam situasi baru disebut aplikasi.

Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, model atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah penilaian hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang diperoleh sebagai akibat usaha kegiatan belajar dan dinilai dalam periode tertentu.

Di antara ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran (Nana Sudjana, 2005: 23).

Dalam pembatasan hasil pembelajaran yang akan diukur, peneliti mengambil ranah kognitif pada jenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2) dan aplikasi (C3).

Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Anak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut bahwa orangtua adalah ayah dan ibu (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa, 2008), hal. 99).
Sedangkan menurut Miami M.Ed. dikemukakan bahwa : .orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya (Kartini Kartono, Peranan Keluarga Memandu Anak, Sari Psikologi Terapan, (Jakarta :Rajawali Press,1982), hal. 8).

Orang tua sebagai pembentuk pribadi pertama dalam kehidupan anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapat anak yang akan menjadi generasi penerus.

Untuk mewujudkan keinginan dan cita-citanya di dalam mengembangkan dan bimbingan generasi penerus yang baik, sehat jasmani dan rohani maka perlu pola pemikiran yang terpadu antara suami istri atau orang tua yang berasal dari dua kutub yang berbeda, mereka harus saling mempunyai toleransi dan penyesuaian diri yang baik, sehingga kedua belah pihak saling melengkapi, bila masing-masing dapat menahan diri untuk tidak mementingkan diri sendiri, maka akan dapat tercipta suatu keluarga harmonis dan bahagia.

Orang tua adalah figur dalam proses pembentukan kepribadian anak, sehingga diharapkan akan memberi arah, memantau, mengawasi dan membimbing perkembangan anaknya ke arah yang lebih baik. Berdasarkan hal-hal yang diutarakan di atas dapat diperoleh pengertian bahwa orang tua tidak hanya cukup memberi makan, minm dan pakaian saja kepada anak- anaknya tetapi harus berusaha agar anaknya menjadi baik, pandai, bahagia dan berguna bagi hidupnya dan masyarakat. Orang tua dituntut harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki anaknya agar secara jasmani dan rohani dapat bekembang secara optimal dan seimbang.

Kerangka Berpikir

Dalam tatanan keluarga, orang tua ditempatkan pada kedudukanyang tinggi dan mulia. Kedudukan inilah yang menjadikan tanggung jawab dan kewajiban anggota keluarga menjadi tanggung jawabnya. Keluarga merupakan salah satu lembaga yang memiliki peran penting dalam kehidupan anak selain sekolah dan masyarakat.

Keluarga juga sebagai sentral pendidikan dalam segala aspek, baik agama, pendidikan umum, sekaligus sebagai tempat untuk beribadah yang serempak untuk mengembangkan anak – anak agar lebih berpotensi dalam segala hal.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya selalu berusaha menciptakan keluarga yang rukun karena pendidikan anak dimulai dalam keluarga. Sedangkan sekolah dalam hal ini merupakan pendidikan lanjutan.

Selain itu tingkat pendidikan orang tua juga sangat menentukan hasil belajar anak. Dengan tingkat pendidikan orang tua yang tinggi bisa memberikan pengetahuan, dan perhatian yang baik untuk pendidikan anak, dibandingkan keluarga yang tingkap pendidikannya rendah.

Jadi tingkat pendidikan orang tua memiliki hubungan yang positif dalam pembentukan karakter dan hasil belajar anak.  Dengan pengetahuan dan perhatian terhadap anak akan memberikan banyak motivasi belajar yang baik, baik di rumah, sekolah, dan masyarakat.

2.3. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian merupakan pernyataan yang diterima sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar suatu panduan dalam verifikasi. Hipotesis dapat diartikan sebagai “pernyataaan gambaran yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.

Adanya hipotesis ini sangat penting artinya dalam memberikan arahan dan pedoman bagi suatu penelitian. Dengan kata lain agar penelitian tidak terlalu menyimpang dari apa yang telah ditargetkan. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ha: Ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas 4 pada pelajaran agama islam di SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo.

Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas 4 pada pelajaran agama islam di SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo.

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2007:52) Rancangan penelitian merupakan rancangan untuk menggambarkan prosedur atau langkah – langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Ex-Post Facto dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Sukardi (2012: 15) ”Penelitian Ex-Post Facto adalah penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika penelitian mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu penelitian”, sedangkan pendekatan data kuantitatif adalah semua informasi atau data yang diperoleh diwujudkan dengan angka. Hasil penelitian yang berwujud data kuantitatif akan dianalisis dengan teknik statistika.

Ditinjau dari tujuannya, penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif. Menurut Sukardi (2012: 171), penelitian kausal komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya, kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Penelitian ini ditunjukkan untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 4 Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo Tahun Pelajaran 2015/2016.

3.2  Populasi dan Sampel

3.2.1        Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2006), hal. 130).

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo.

3.2.2        Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut . Sampel adalah kelompok kecil yang secara nyata diteliti dan ditarik kesimpulan (Sukmadinata,N.S.2009).
Dalam penelitian ini, ditetapkan bahwa sampelnya adalah jumlah keseluruhan siswa kelas 4 SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo yaitu sebanyak 15 siswa.

3.3  Definisi Operasional

Yang dimaksud variabel penelitian adalah suatu atribut, nilai / sifat dari objek, individu / kegiatan yang mempunyai banyak variasi tertentu antara satu dan lainnya yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan dicari informasinya serta ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini ada dua variabel yang teliti, yakni:

1.      Tingkat Pendidikan Orang Tua (Variabel X)

Tingkat Pendidikan Orang Tua adalah tingkat pendidikan menurut jenjang pendidikan yang telah ditempuh, melalui pendidikan formal di sekolah berjenjang dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi, yaitu dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Tingkat Pendidikan Orang Tua diukur dari tingkat pendidikan terakhir yang sudah ditempuh orang tua baik dari tingkat SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk memperoleh data tentang Tingkat Pendidikan Orang Tua dilakukan dengan menggunakan angket. Penskoran dilakukan dengan menghitung lama tahun menempuh pendidikan. Dalam penelitian ini skor Tingkat Pendidikan Orang Tua adalah rata – rata pendidikan antara ayah dan ibu. Asumsinya bahwa antara ayah dan ibu sudah menyamakan pandangan dan persepsi untuk mengarahkan dan membimbing anaknya dalam hal pendidikan.

2.  Hasil Belajar (Variabel Y)

Hasil belajar adalah penilaian hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang diperoleh sebagai akibat usaha kegiatan belajar dan dinilai dalam periode tertentu. Dalam pembatasan hasil pembelajaran yang akan diukur, peneliti mengambil ranah kognitif pada jenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2) dan aplikasi (C3).

3.4  Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 160) mengatakan bahwa ”Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah”.
Dalam penelitian ini digunakan kuesioner / angket. Angket yang disebarkan ke responden berbentuk angket tidak langsung tertutup dan berjumlah 2 soal. Adapun kisi – kisinya sebagai berikut:

Variabel
Indikator
No. Item
Jumlah
Tingkat Pendidikan Orang Tua
.   Tingkat Pendidikan Terakhir Ayah SD, SMP, SMA, S1.
   Tingkat Pendidikan Terakhir Ibu SD, SMP, SMA, S1.
1,2
2
Jumlah
2
Tabel 3.1 Kisi – kisi Angket Tingkat Pendidikan Orang Tua


Angket yang disebarkan kepada responden terdiri atas 4 alternatif jawaban. Adapun pemberian skor dari setiap jawaban adalah sebagai berikut:

Tingkat Pendidikan Orang Tua
Skor
SD
1
SMP
2
SMA
3
S1
4
Tabel 3.2 Skor pertanyaan

Untuk variabel hasil belajar siswa menggunakan instrumen dokumentasi yaitu, nilai raport siswa dalam kurun waktu tertentu sebagai bagian dari instrumen penelitian dengan pengembangan skala rata- rata hasil belajar yang diperoleh siswa  di mata pelajaran pendidikan agama islam.  Hasil belajar siswa dalam kurun waktu tertentu tergambar  dalam nilai raport siswa, sehingga pengumpulan data dilakukan  dengan dokumentasi nilai raport siswa kelas 4 semester 2 tahun  pelajaran 2015/ 2016.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian lapangan (field research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke obyek penelitian. Untuk memperoleh data-data lapangan ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

3.5.1    Angket (Kuesioner)

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Teknik pemgumpulan data seperti ini cocok digunakan untuk bila jumlah responden cukup besar atau tersebar diwilayah yang luas Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&G, hlm. 199). Dalam penelitian ini angket yang digunakan adalah skali likert berdimensi interval 4 alternatif yaitu :

1)      Pendidikan terakhir SD Skor 1
2)      Pendidikan terakhir SMP Skor 2
3)      Pendidikan terakhir SMA Skor 3
4)      Pendidikan terakhir S1 Skor 4

3.5.2  Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang memiliki bentuk tulisan seperti catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, kisah biografi, peraturan dan kebijakan (Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&G, hlm. 329)

Metode dokumen ini digunakan untuk mendapatak data mengenai profil sekolah seperti visi dan misi, dan juga untuk mendapatkan data nama-nama peserta didik. Setelah data-data terkumpul langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data-data, menafsirkan dan menginterpretasikan hasil penelitian. Dalam penelitian ini merupakan data primer yaitu melihat dokumen hasil belajar siswa pada nilai rapot siswa kelas 4 SDN 3 Kotakan Kecamatan Situbondo.

3.6  Analisis Data

3.6.1        Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kehandalan dan kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2010). Butir angket dikatakan valid jika r hasil observasi adalah positif dan besarnya 0,3 ke atas (Sugiyono, 2012:142). Uji Validitas dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.0 for windows.
                     
3.6.2        Uji Reliabilitas

Suharsimi Arikunto (2006: 154) berpendapat bahwa “Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik”

Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus cronbach alpha. Apabila koefisien Cronbach Alpha (r11) ≥ 0,7 maka dapat dikatakan instrumen tersebut reliabel (Johnson & Christensen, 2012).
Sama halnya dengan Uji Validitas, Uji Reliabilitas juga dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.0 for windows.

4        Uji t-test

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dapat menggunakan t-test berbantuan SPSS 16.0 for windows. Dengan taraf signifikan 0,05 dan penentuan kriteria penerimaan dan penolakan.
Terima H0 jika signifikan ≥ (α) = 0,05
Tolak H0 jika signifikan ≤ (α) = 0,05

ANGKET TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA

Petunjuk Pengisian Angket:

1        Tulislah identitas Anda dengan benar terlebih dahulu
2        Identitas anda akan dirahasiakan karena pengisian identitas anda hanya semata-mata digunakan untuk mempermudah dalam pengolahan data
3        Perhatikan dengan seksama pernyataan yang ada
4        Jawablah sesuai dengan kondisi diri Anda
5        Jawablah dengan memilih dari alternatif jawaban kemudian lingkari huruf pada jawaban anda serta lengkapi titik-titik di jawaban yang anda pilih apabila anda memilih jawaban ber titik-titik kosong
6        Angket ini digunakan untuk mengetahui tingkat pendidikan orang tua dan tidak ada pengaruh terhadap nilai mata pelajaran yang bersangkutan.

Nama              :
No. Ab sen      :
Kelas               :

Angket Tingkat Pendidikan Orang Tua
1.      Tingkat pendidikan terakhir Ayah Anda adalah :
a.       SD / MI
b.      SMP / Sederajat
c.       SMA / Sederajat
d.      Perguruan Tinggi

2.      Tingkat pendidikan terakhir Ibu Anda adalah :
a.       SD / MI
b.      SMP / Sederajat
c.       SMA / Sederajat
d.      Perguruan Tinggi