Hubungan Membaca dan Menyimak dengan Penyebaran Hoax

Hubungan Membaca dan Menyimak dengan Penyebaran Hoax

membaca, menyimak hoax
Bagaimana contoh hubungan membaca dengan menyimak? Membaca saja apakah sama dengan menyimak? Di zaman sekarang, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah bisa membaca. Tapi seolah-olah semua yang mereka baca itu tidak benar-benar mereka pahami secara utuh. Kali ini kosngosan akan membahas mengenai membaca dan menyimak yang erat hubungan nya dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Bagaimana kemampuan membaca dan menyimak masyarakat Indonesia? Terlihat dari level penyebaran hoax yang masih sangat tinggi. Bukankah itu seolah menjadi pertanda bahwa walaupun bisa membaca tapi mereka tidak mengolah informasi yang mereka dapatkan itu secara benar, sehingga langsung saja disebarluaskan tanpa klarifikasi atau pendalaman fakta yang sesunguhnya terjadi?

baca juga : Mengatasi Hoax di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa

Setiap orang punya kemampuan untuk melihat, tapi apakah mereka mampu untuk mengerti apa yang mereka lihat? Setiap orang pasti punya kecenderungan untuk menghakimi, tapi seberapa banyak yang mau untuk mengklarifikasi?

Pengertian Membaca dan Menyimak


Menyimak itu secara garis besar merupakan kegiatan mendengar lambang pesan atau bunyi-bunyi yang dibawakan secara lisan dengan penuh perhatian, serta mengolah data tersebut dimana akan diperoleh informasi dan isi pesan yang ada dari apa yang disimak.

Membaca merupakan kegiatan melihat, meresapi, meresepsi suatu bentuk bahasa secara tulis dengan tujuan mendapatkan isi dari maksud penulis. Jadi perbedaannya dari segi cara awal mendapatkan. Kalau dari segi makna, sama saja.

Mungkin dari sekolah dan mindset masyarakat kita, nggak ada penanaman baca sejak dini,Pas kecil kita cuma disuruh hafal huruf A-Z doang, ketika sudah bisa membaca ya sudah, orang tua rata rata tidak peduli berapa banyak buku yang anaknya baca ketika dia sudah lancar membaca yang penting dia udah lancar titik, sehingga ya anak dari dini udah malas membaca.

Hubungannya dengan penyebaran Hoax


Berbicara mengenai masalah rendahnya penyerapan informasi kita, itulah yang memyebabkan hoax semakin tinggi. Mimin tidak tahu namanya siapa seorang peneliti mrngatakan bahwa kemampuan otak manusia 4x lebih cepat menangkap gambar dibandingkan dengan kata, kalimat atau tulisan. Oleh karena itu informasi yang berupa gambar lebih sering disalah gunakan sebagai media hoax.

Kembali ke HOAX, intinya ini terjadi karena kita lebih suka menyebarluaskan suatu berita tanpa mengklarifikasi lebih dalam mengenai sumber dan kebenaran berita tersebut. Disinilah gunanya belajar hal" dasar. Pengetahuan dasar itu bisa dipakai sebagai pegangan, sementara agar tidak gegabah menerima informasi sebelum diklarifikasi sama yang lebih ahli.

Akhir kata, setiap orang memiliki kemampuan untuk menyelidiki sesuatu dengan sangat dalam. Mari menekankan sifat "egois" dalam menanggapi suatu kasus. Kita harus menanamkan prinsip bagaimanapun dan apapun yang terjadi, informasi yang saya dapat harus benar benar informasi yang kredibel atau dapat dipercaya. Kalau masih tidak jelas dan ragu maka jangan di bagikan ke orang lain.

Demikian pembahasan mengenai Hubungan Membaca dan Menyimak dengan Penyebaran Hoax kali ini semoga bisa membantu mu dalam memahami bagaimana sesungguhnya pengaruh Hoax terhadap kemampuan kita dalam menanggapi suatu informasi.

Buka Komentar