Apakah Gelar Sarjana Lebih Penting dari Skill dan Pengalaman?

Apakah Gelar Sarjana Lebih Penting dari Skill dan Pengalaman?

Gelar Sarjana Lebih Penting, Skill, Pengalaman
Apakah kuliah menjamin kesuksesan? Sesungguhnya pertanyaan itu adalah bentuk ketidakpuasaan berbagai kalangan terhadap lulusan sarjana yang banyak tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran pada saat sekarang ini. Ditambah lagi banyaknya orang sukses tanpa kuliah (gelar sarjana) menjadikan beberapa orang kebablasan menganggap bahwa pendidikan itu hanyalah kegiatan yang sia-sia belaka. Oleh karena itu kali ini kosngosan akan berusaha mengupas mengenai hubungan dan peran antara gelar akademik, skill (kemampuan) dan juga pengalaman dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Simak pemabahasanya dibawah ini.

Apakah sarjana itu penting? Kenapa harus sarjana? Kenapa tidak langsung bekerja? Karena ada banyak pekerjaan diluar sana yang tidak membutuhkan gelar sarjana. Namun pada faktanya, baik wanita atau pria yang sukses itu menganggap bahwa pendidikan sangatlah penting untuk menopang kesuksesan mereka.

Apakah Gelar Sarjana Penting?


Ya, cukup penting sebagai tiket awal. Namun gelar sarjana dalam hal ini bisa juga disebut akademis, bukan syarat mutlak untuk menjadi milyuner. Nyatanya para milyuner seperti Mark Zuckerberg, Bill Gates dan Sean Parker, merupakan mereka yang memutuskan untuk drop out dari sekolah. Forbes pun pernah merilis 27 orang lulusan high school yang mampu menjadi salah satu dari 400 orang terkaya di Amerika pada tahun 2012.

Namun kasus seperti itu hanya terjadi pada orang - orang dengan kasus "spesial" dan tidak serta merta datang menghampiri kita yang "normal" ini. Oleh karena itu diperlukan pendidikan untuk membuka gerbang kesuksesan tersebut.

Namun benarkah orang kaya yang berkuliah menjadi kaya karena gelar mereka? Ternyata tidak. Mereka yang sukses ternyata adalah mereka yang selalu menghargai usaha dan waktu, dan menjadikan hasil akhir sebagai tujuan awal.

Jika sekolah memberikan hasil yang baik maka hal tersebut baik bagi orang tersebut. Namun berapa banyak orang yang rela berhutang demi melanjutkan sekolahnya?

Dan setelah selesai sekolah mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan sehingga hutang tersebut semakin besar. Jika tujuan dari bersekolah adalah untuk ‘mengamankan’ keuangan , maka pemikiran itu salah.

Permasalahannya bukanlah pada pendidikan, namun pendekatan yang dilakukan. Ketika seseorang memutuskan untuk sekolah, maka orang itu juga harus memikirkan mengenai skill, tidak hanya sekedar ilmu pengetahuan dan teori.

Perlu diketahui bahwa hanya 27% para lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajarinya. Salah satu alasan mengapa kita harus sekolah adalah untuk meningkatkan skill. Satu-satunya hal yang membuat kita lebih ‘bernilai’ di pasar pencari kerja adalah skill.

Sebagai contoh ada lebih dari 28 juta bisnis dan usaha kecil yang ada di Amerika namun sepertiga di antaranya mengalami collaps atau gulung tikar karena merugi. Kebanyakan bisnis tidak berjalan mulus bukan karena tidak berpendidikan, namun karena tidak memiliki skill. Ketika informasi mudah untuk didapatkan di mana saja,skill menjadi hal yang terlupakan.

Kesimpulan


Apa yang dibutuhkan industri pada masa kini adalah orang yang memiliki skill, ditambah dengan orang - orang yang berpendidikan. Mereka yang bermotivasi tinggi dan motivasi tersebut datang dari skill yang dimiliki. Mereka yang sukses tidak dilahirkan melalui pendidikan instan, melainkan melalui pendidikan dan motivasi panjang yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada sebuah kesuksesan.

Semoga kita tetap bisa menjadi orang yang senang belajar (dengan tambahan gelar akademik tentunya) serta memiliki skill dan pengalaman yang bisa dipakai untuk dunia kerja ke depan. Bagaimana pun, skill didapat dari pendidikan yang secara liner selalu mendapat gelar sebagai bukti keberhasilan pada jenjang keilmuan tertentu.

Demikian jawaban singkat mengenai pertanyaan Apakah Gelar Sarjana Lebih Penting dari Skill dan Pengalaman? Semoga dapat menjawab rasa penasaranmu terhadap fenomena belakangan ini yang semakin banyak nya generasi muda kita yang kurang menghargai proses belajar itu sendiri. Semoga kita tetap menjadi pribadi yang setia untuk belajar akan hal hal baru.

Buka Komentar